Anin Pilih Gantung Canting, Akhir Cerita Batik Siwarak Khas Goa Kreo Semarang

Anin Pilih Gantung Canting, Akhir Cerita Batik Siwarak Khas Goa Kreo Semarang
Perlengkapan membatik Anin yang dibiarkan menganggur karena dia memutuskan untuk libur produksi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Batik Siwarak, batik khas Desa Kandri Semarang ini terancam punah karena satu-satunya produsen memutuskan untuk libur membatik. Sayang rasanya jika batik ini harus punah sebelum banyak dikenal banyak orang.

Inibaru.id - Sabtu pagi, pintu depan rumah Anin terbuka lebar saat saya sambangi, memaparkan sejumlah kain batik Siwarak buatannya. Namun, tak ada si empunya rumah. Salam yang saya lontarkan juga nggak bersambut. Saya, yang memang sudah membuat janji dengannya, memutuskan menunggunya di gazebo depan rumah.

Tak lama, perempuan berjilbab yang ternyata tengah sibuk di dapur itu muncul, lalu mempersilahkan saya masuk ke ruang tamunya yang lumayan luas.

Melayangkan pandangan mengitari ruangan, mata saya tertuju pada maneken-maneken "berpakaian" kain dan baju yang tampak berdebu. Sejumlah kain batik daganannya juga dibiarkan terlipat, bukan digantung untuk dipamerkan. Bahkan beberapa kain putih bermotif daun ketela yang siap diwarnai masih terhampar.

“Maaf, ya, Mbak, berantakan!” sapa Anin, membuka percakapan.

Oya, dia adalah Aenin Hayati, pengrajin batik Siwarak khas Desa Kandri, Gunungpati, Kota Semarang. Pada 2012, sosok yang akrab disapa Anin atau Eni itu, bersama 30-an ibu-ibu Dusun Siwarak, mulai memproduksi batik yang kemudian menjadi ikon batik Desa Kandri.

Baca Juga:
Anin Pilih Gantung Canting, Akhir Cerita Batik Siwarak Khas Goa Kreo Semarang
Diorama Warga Desa yang Tersaji dalam Patung-Patung Kandri

Tak mudah menjadikan batik Siwarak seperti sekarang. Anin bertutur, ihwal batik tersebut diproduksi, batik Siwarak belum begitu bagus. Harganya pun cukup murah.

“Ibu-ibu di sini semula kurang begitu bersemangat, tapi terus saya semangati sampai bisa bikin batik yang bagus,” kenang Anin.

Anin sedang membersihkan etalasenya yang sudah berdebu. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurutnya, usaha yang dia jalankan di kediamannya ini memiliki banyak tantangan. Dia mengenang jatuh bangunnya bersama ibu-ibu yang membantunya. Saat ini, satu kain produksinya dihargai Rp 150.000 hingga Rp 700.000.  

Puluhan ID card warna-warni yang tergantung di gantungan batik menunjukkan seringnya Anin mengikuti pameran dan seminar.

“Dulu semua saya ikuti, Mbak,” kata Anin, yang juga mengaku sempat punya lapak di sekitar Goa Kreo meski hanya bertahan enam bulan lantaran setelah itu nggak diperbolehkan berjualan di sana.

Gantung Canting

Selain motif Semaragan, inspirasi kreasi batik Siwarak didapatkan Anin dari lingkungan sekitar. Beberapa motif batik buatan Anin yang paling diminati pembeli di antaranya motif "daun ketela" dan "kera kecil". Selain itu, ada pula motif "kera besar", "warak", dan "asem".

Sayang, saat saya berkunjung ke sana, beberapa motif yang disebutkannya sudah nggak tersedia. Yap, dia "gantung canting" dan produksi kain batiknya berhenti!

Lantaran kesibukan, sejumlah pengrajin batik yang biasa membantu Anin memilih berhenti. Melihat kondisi ini, Anin pun terpaksa "libur" berproduksi hingga entah kapan.

“Sementara libur dulu,” kata dia penuh kepasrahan, "Kalau sendiri kewalahan!"

Beberapa kain putih yang sudah bergambar tak kunjung diberi warna karena sepinya peminat. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ya, jika dia berhenti berproduksi, batik khas Goa Kreo ini memang terancam nggak bisa dijumpai lagi. Anin berharap pemerintah desa akan memberikan dia ruang untuk memasarkan produknya di sekitar Goa Kreo karena menurutnya, sebagian besar pembelinya memang berasal dari wisatawan.

“Sementara ini saya habisin stok dulu, sambil cari orang lagi,” keluhnya, lesu.

Dalam sebulan, Anin mengaku hanya mampu menjual 1-3 kain batik.

Baca Juga:
Serunya Disemprot Air dan Salju Saat Nonton Film di Bioskop Sinema 9 Dimensi Semarang
Minggu Leginan dengan Kulineran di Pasar Jaten Pinggir Kali Semarang

Menjelang akhir obrolan kami, Anin nampak menggantung beberpaa kain batiknya dan mempersilakan saya menganbil gambar.

“Silahkan (difoto), Mbak! Semoga setelah ini (batik Siwarak) jadi tambah laku!” kata Anin, yang seketika membuat saya terenyuh.

Tentu saya berharap perjumpaan dengan pembuat batik Siwarak ini bukanlah yang terakhir. Semoga Mbak Anin mengurungkan niatnya menggantung canting dan batik yang bisa menjadi ikon Kota Semarang ini lebih mendapat perhatian pemerintah serta penikmat batik! (Zulfa Anisah/E03)