Berawal dari Kewajiban Sekolah, Namira Irawan Kecanduan Jadi Sukarelawan

Menjadi sukarelawan bukanlah pekerjaan yang mudah karena dituntut sigap dan siap membantu siapapun. Namun, gadis satu ini memilih mengambil konsekuensi itu.

Berawal dari Kewajiban Sekolah, Namira Irawan Kecanduan Jadi Sukarelawan
Namira Irawan saat menjadi sukarelawan di Komunitas Sahabat Lestari. (Sahabat Lestari/ Agus Budi)

Inibaru.id  - Sepanjang 2018, posisi sukarelawan (volunteer) cukup menjanjikan di mata kaum millenials.  Bagaimana tidak, berapa banyak sukarelawan yang direkrut sebagai panitia Asian Games dan Asian Paragames? Ada juga sukarelawan kemanusiaan yang membantu para korban bencana.

Jauh sebelum posisi sukarelawan digandrungi kaum muda, Namira Irawan sudah terlebih dulu menjajaki peran ini. Gadis 17 tahun itu sering terlibat dalam kegiatan sosial, khususnya pencegahan kanker.

Namun, siapa sangka keputusannya menjadi sukarelawan berawal dari salah satu kewajiban sekolah saat dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

“Kalau yang bantu-bantu orang itu awal mula dari kecil.  Tapi mulai jadi sukarelawan itu pas SMP awal. Waktu itu memang kewajiban sekolah sih, tapi akhirnya saya suka jadi kalau ada kesempatan dari sekolah, aku langsung dikabari,” kata anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Ketertarikan Namira dalam kegiatan sosial sedikit banyak juga lantaran kebiasaan orang tuanya yang gemar berbagi. Gadis yang berdomisili di Jakarta itu mengungkapkan, dirinya sering diajak berkegiatan sosial sejak kecil. Orang tuanya juga kerap menceritakan permasalahan sosial di masyarakat sehingga dia tergugah terjun menjadi sukarelawan.

Namira Irawan berbincang dengan salah satu peserta pada acara yang diadakan Sahabat Lestari. (Sahabat Lestari/ Agus Budi)

Menurut Namira, dengan menjadi sukarelawan, dia bisa tahu langsung permasalahan yang dialami masyarakat. Karena gadis ini suka berinteraksi, bertemu dengan orang baru bukanlah hal yang sulit baginya.

“Aku jadi bisa melihat sebenarnya apa (masalahnya), nggak sekadar baca artikel kaya gini. Terus aku juga bisa melihat kepentingan mereka melakukan ini dan jadi support system buat mereka juga biar mereka nggak takut. Aku juga suka berinteraksi sih,” tutur perempuan yang kini ikut berkontribusi sebagai sukarelawan di komunitas Sahabat Lestari.

Bahkan, saking cintanya dengan dunia sukarelawan, Namira bersama teman-teman sekolahnya kerap membuat sejumlah aktivitas sosial.

Namira sedang mengecek kondisi warga di rumah warga. (Sahabat Lestari/ Agus Budi)

“Kami sendiri yang bikin aktivitasnya, buat kue, belajar bahasa Inggris, lomba makan krupuk sama anak-anak di Jakarta. Nggak cuma aku aja tapi senengnya temen-temenku juga ikut,” ujar siswi Sekolah High Scope Indonesia TB Simatupang Jakarta ini.

Karena sudah lama berkecimpung di dunia kesukarelawanan, Namira mengungkapkan pengin melanjutkan pendidikan di jurusan kedokteran. Ini selaras dengan bidang yang dia geluti yakni tentang pencegahan kanker bagi masyarakat.

Wah, jos banget deh, masih muda tapi sudah suka dengan dunia sukarelawan dan kegiatan sosial. Dia juga punya prinsip yang unik, “Kamu tuh tinggalnya nggak sendiri, kamu tinggalnya bersama komunitas dan komunitas itu yang bakal menentukan masa depanmu. Kalau komunitasnya mandiri dan baik semua ya pasti naik ke atasnya bersama-sama. Nggak bisa dong kalau aku sehat bisa naik (sukses) tapi kamu yang nggak sehat ya nggak bisa naik.”

Patut dicontoh nih, Millens. Bukankah peduli dan membantu sesama termasuk perbuatan mulia? (Nia Watoniah, Ida Fitriyah/E01)