Keterbatasan Nggak Batasi Bagas Rahmawan Kembangkan Usaha Jahit

Meski penyandang disabilitas pendengaran, Bagas tetap mempunyai tekad untuk mandiri. Bagas membuktikan kemandiriannya dengan berwirausaha

Keterbatasan Nggak Batasi Bagas Rahmawan Kembangkan Usaha Jahit
Bagas bersama ibunya. (Inibaru.id/Muhammad Adiatma)

Inibaru.id - Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berkarya dan berprestasi. Bagas Rahmawan Aji telah membuktikan hal itu. Meski penyandang disabilitas pendengaran, dia tetap berusaha nggak menggantungkan diri kepada orang lain.

Melalui kemampuan menjahit yang diturunkan dari ibunya, dia berwirausaha dengan mengembangkan usaha jahit dengan nama “Omah Jahit Keneky”. Usaha yang beralamat di Jalan dr Cipto No 22 Ambarawa, Kabupaten Semarang, itu semula dikelola sang ibu. Namun, sejak 2017, usai Bagas tamat SMALB, usaha itu mulai digelutinya.

Alih-alih mengikuti teman-teman sekolahnya yang kebanyakan bekerja di pabrik, Bagas justru memilih berwirausaha dengan mengikuti jejak sang ibu. Keputusan itu juga nggak lepas dari hasil diskusi antara dirinya dengan kedua orang tuannya.

“Saya pernah ingin kerja di pabrik. Tapi, Ayah bilang kalau kerja di pabrik suatu saat akan diberhentikan,” ujar Bagas kepada Inibaru.id belum lama ini.

Semula Bagas memang pengin bekerja di pabrik seperti kawan-kawannya yang juga menyandang disabilitas pendengaran. Namun, setelah diberi pengertian oleh ayahnya, dia pun memutuskan untuk berwirausaha.

Usaha Omah Jahit Keneky yang dikelola Bagas dan ibunya. (Inibaru.id/Muhammad Adiatma)

Ibunda Bagas sekaligus pendiri Omah Jahit Keneky, Erna Widiastuti, mengatakan, Bagas termasuk anak yang mudah beradaptasi dan cepat mengerti, terutama dalam jahit-menjahit. Karena itulah, lanjut Erna, dia memercayakan usaha jahit tersebut ke anaknya.

"Bagas lulus terus ikut membantu. Diajari sebentar saja sudah mengerti. Yang penting tetap latihan. Jadi, harus belajar bersama-sama, biar anakku yang mengembangkan," tutur Erna.

Membaca Gerak Bibir

Memiliki kekurangan dalam hal pendengaran nggak membuat Bagas kesulitan untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Dia cukup mahir membaca gerak bibir lawan bicaranya. Plus kemampuan menjahit yang rapi, itu cukup untuk membuat para customer-nya kembali lagi, bahkan menjadi pelanggan tetapnya.

Bagas memang dikenal ulet. Nggak hanya saat bekerja seperti sekarang ini. Sejak zaman sekolah, buah dari keuletan itu pernah membawanya mewakili Jawa Tengah pada Lomba Informasi dan Teknologi Tingkat Nasional di Bandung pada 2013 silam.

Nggak hanya itu, dia juga pernah meraih Juara II untuk satu lomba desain grafis yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng pada 2014 dan 2016.

"Keterbatasan harusnya bukan menjadi penghalang untuk berkreasi," pungkas Bagas.

Inspiratif! Seperti kata Bagas, keterbatasan itu sejatinya memang nggak ada. Yang ada sebenarnya adalah kita yang membatasi diri. Bukan begitu, Millens? (Muhammad Adiatma/E03)