Du'anyam, Uluran "Kail" Azalea Ayuningtyas Untuk Kaum Ibu

Meninggalkan pekerjaan di perusahaan besar, Azalea Ayuningtyas memilih untuk membuka lapangan pekerjaan dan membantu perempuan khususnya kaum Ibu di Nusa Tenggara Timur.

Du
Azalea Ayuningtyas (wanitawirausaha.com)

Inibaru.id – Lahir dan besar di ibukota, lulus dan menyandang predikat bergengsi dari Amerika Serikat, kemudian memiliki pekerjaan di perusahaan besar. Itu semua nggak membuat Azalea Ayuningtyas tinggi hati dan lupa pada negeri sendiri. Dia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya di Boston demi fokus membantu kaum ibu di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ayu, begitu dia biasa disapa, mulai tertarik pada permasalahan kesehatan masyarakat setelah banyak terlibat dalam proyek peningkatan nutrisi dan sanitasi di Indonesia, India, dan Kamboja. Baru sejak 2014 perempuan 29 tahun itu total mendedikasikan dirinya untuk membantu masyarakat di daerah tertinggal seperti ditulis kumparan.com (22/5/17).

Tahu nggak, perempuan di NTT sebagian besar menjadi tulang punggung keluarga. Mereka harus bekerja di ladang meski sedang mengandung. Otomatis kondisi ini sering kali membuat ibu kekurangan gizi dan rentan mengalami masalah kesehatan lainnya.

Karena itu Ayu bersama tiga temannya Hana Keraf, Melia Winata, dan Zona Ngadiman mendirikan Du’anyam. Modal awal sebesar Rp 300 juta mereka peroleh dari hadiah perlombaan dan tabungan masing-masing.

Du’anyam mengajak kaum ibu di 15 desa di Flores, NTT untuk membentuk kelompok usaha anyaman beranggotakan 10 sampai 15 orang. Saat sedang nggak hamil, anggota kelompok Du’anyam akan menggarap ladang masing-masing dari pagi hingga siang. Mereka akan mengerjakan pesanan anyaman di waktu senggang.

Nah, kalau seorang anggota kelompok hamil, dia akan cuti dari menggarap ladang dan bekerja penuh menggarap pesanan anyaman di kelompoknya. Sebagai kompensasi, tugas menggarap ladang bakal dikerjakan oleh anggota kelompok yang lain. Kompak kan?

Saat ini anggota Du’anyam kurang lebih 270 orang. Mereka bisa memproduksi kurang lebih 4 ribu produk setiap bulannya. Kebanyakan hasil produksinya disalurkan ke hotel dan resor lo. Bahkan sudah ada 12 hotel di Bali yang menjadi mitra Du’anyam. Selain itu, ada juga produk Du’anyam juga bisa ditemukan di pasar ritel seperti Mall Pasific Place dan Grand Indonesia di Jakarta.

Ayu dan produk Du'anyam (kumparan.com)

Oya, produk yang dihasilkan Du’anyam antara lain sepatu, tas, dan beragam suvenir berbahan daun lontar. Eits, desainnya tetap bercirikan budaya tradisional NTT. Keren ya!

Bukan Tanpa Tantangan

Perjuangan Ayu dalam mengembangkan Du’anyam bukannya tanpa tantangan lo. Beberapa suami yang istrinya tergabung dalam Du’anyam sempat skeptis dan melarang istrinya ikut dalam Du’anyam. Nggak cuma itu, perempuan lulusan magister di bidang kesehatan masyarakat Harvard University itu juga mengaku sempat bingung menghadapi kaum ibu.

“Harus ekstra sabar dan cermat menghadapi para ibu karena kami membawa perubahan yang asing bagi mereka. Perjuangan mengubah cara berpikir dan etos kerja itu bahkan sempat membuat frustrasi,” kata Ayu pada harpersbazaar.co.id (8/3/17).

Perjuangan Ayu nggak sia-siaDu’anyam kini telah berkembang menjadi lembaga kewirausahaan dan organisasi sosial. Dukungan dari berbagai pihak bahkan mulai mengalir deras.

Hm, perempuan mengabdi untuk perempuan. Perjuangan Ayu tentu bakal jadi inspirasi buat perempuan lainnya termasuk kamu nih, Millens. (IB10/E05)