Angkie Yudistia dan Pelajaran tentang Kekuatan dari Keterbatasan

Angkie Yudistia menyandang tunarungu dan sempat terpuruk. Ketika bangkit, apa yang dilakukannya jadi inspirasi baik bagi penyandang disabilitas maupun yang tidak.

Angkie Yudistia dan Pelajaran tentang Kekuatan dari Keterbatasan
Angkie Yudistia (Kompas.com)

Inibaru.id –  Di dunia ini tentu nggak ada manusia yang ingin terlahir atau hidup dengan keterbatasan fisik atau fungsi indera. Nah, meski terlahir sempurna seorang Angkie Yudistia pada akhirnya harus hidup sebagai penyandang disabilitas. Semuanya bermula saat usianya 10 tahun, dia mengalami demam tinggi. Akibat kesalahan obat antibiotik yang diminum, dirinya harus kehilangan pendengaran. Dia pun mesti menerima kenyataan bahwa dia menjadi tunarungu.

Akibat keterbatasannya itu, Angkie sempat merasa minder. Saat teman-temannya menikmati masa puber, dia merasa berbeda dengan yang lainnya. Nggak hanya itu saja, perempuan kelahiran 5 Juni 1987 itu juga sempat mengalami bullying (perundungan) dari teman-temannya. Itu membuatnya semakin kurang percaya diri. Selalu merasa stres dengan keadaannya, suatu ketika Angkie sampai ke titik balik untuk menerima keterbatasan pendengarannya.

Mengutip Kompas.com (4/3/2017), Angkie mulai sadar, bila ia tidak pernah menerima dirinya sendiri, sampai kapan pun nggak akan bisa menikmati hidupnya. Dukungan orang tuanya juga membuat Angkie bangkit kembali untuk menjalani kehidupannya. Perlahan-lahan, perempuan kelahiran Medan itu dapat mengatasi mental block terhadap diri sendiri. Angkie juga teringat ucapan seorang dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) yang mengatakan bahwa kesembuhannya ada di tangan Tuhan.

Dia pun akhirnya bisa bangkit dan mulai mengejar ketertinggalannya. Agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah umum, dia harus belajar lebih giat lagi dan memanggil guru privat. Dia belajar dua kali lipat lebih keras dari teman-temannya sampai lulus. Lulus SMA, Angkie juga sempat dilema. Pasalnya seorang dokter sempat menyarankan untuk nggak melanjutkan kuliah karena stres yang dialaminya bisa memperparah  pendengarannya. Namun dia ngotot untuk tetap kuliah dan mengambil Jurusan Periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta.

Baca juga:
Sekolah Inklusif dan Keikhlasan Membimbing Mereka "Yang Terbuang"
Heni Sri Sundani, Mantan TKI yang Peduli Pendidikan Anak-Anak Petani

Setelah lulus sarjana, dia memutuskan meneruskan studinya ke jenjang S-2. Dia ambil bidang Marketing Komunikasi. Perempuan yang pernah menjadi finalis Abang-None Jakarta itu menyadari, dengan keterbatasannya dan hanya mengandalkan gelar sarjana saja, kesempatannya untuk bisa bekerja bisa hilang karena banyak orang lain yang lebih hebat darinya.

Pernah diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan tempatnya bekerja dengan alasan yang nggak jelas, Angkie kemudian memilih menjadi social entrepreneur dengan mendirikan Thisable Enterprise. Ini adalah perusahaan yang dimanfaatkannya untuk mendukung para penyandang disabilitas agar dapat mandiri secara finansial.

Thisable sendiri terilhami setelah Angkie pulang dari International Visitor Leadership Program di Amerika Serikat. Dia belajar dari sebuah korporat di Ohio, AS, yang membuka kelas pelatihan khusus untuk disabilitas. Perusahaan itu akan menampung penyandang disabilitas yang telah usai pelatihan atau jika perencanaan bisnis seseorang bagus dan tidak ingin jadi pegawai, akan diberi modal. Korporat  itu independen dan nggak melibatkan banyak birokrasi.

Nah, melalui Thisable dia ingin para penyandang disabilitas di Indonesia bisa memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain, dalam kehidupan pribadi dan profesional. Ya, ibu satu anak itu sadar, orang dengan disabilitas kerap sulit mendapat pekerjaan. Sangat sedikit perusahaan yang mau memperkerjakan mereka. Mendirikan Thisable benar-benar dari nol, Angkie sempat bingung cara menjualnya meski punya produk yang sudah bagus. Beruntung dia nggak sendirian dan punya rekan yang selalu membantunya.

Dilansir dari Astralife.co.id (11/1/2017), Thisable memiliki beberapa program, seperti CSR Program & CSR Funding; Social Enterprise; Social Marketing Communication; Learning Center; dan Micro Entreprise. Selain itu, Thisable juga membantu penyandang disabilitas dalam memasarkan karya mereka, salah satunya produk kecantikan. Angkie menggunakan nama merek Thisable Beauty Care yang menyediakan lulur, body scrub, bath salts, serta sabun berbahan alami.

Nggak hanya mengajak penyandang disabilitas untuk memproduksi sesuatu dan menjualnya, perempuan yang pernah terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008 itu juga mendorong para penyandang disabilitas untuk menjual jasa. Untuk itu dia sudah menjalin kerja sama dengan PT Gojek Indonesia untuk memperkerjakan orang-orang dengan disabilitas di Go-Auto hingga Go-Glam.

Selain mendirikan perusahaan Thisable Enterprise yang beriorientasi sosial untuk membantu para penyandang disabilitas, Angkie yang terinspirasi dari Hellen Keller juga menerbitkan dua bukunya yang berjudul Perempuan Tuna Rungu Tanpa Batas dan Setinggi Langit. Buku tersebut berisi suara Angkie kepada masyarakat bahwa kaum disabilitas ada di sekitar kita dan berharap mereka diberi kesempatan yang sama dalam berkarya, baik dalam segi pendidikan dan ketenagakerjaan.

Baca juga:
Teater Boneka Ria Papermoon Mendunia
Adamas Belva dan Universitas Raksasa Bernama Ruangguru

Berkat semua usahanya tersebut, Angkie memperoleh beragam pengakuan dan penghargaan dari berbagai institusi.

Well, sosok angkie dan segudang prestasinya itu menunjukkan bahwa setiap orang, bahkan yang punya cacat fisik sekalipun bisa jadi luar biasa. Berkat perannya melalui Thisable, nggak mengherankan pula jika dia dianggap sebagai pahlawan bagi para penyandang disabilitas.

Memang sih hidup itu sulit, tapi bukan berarti kamu nggak bisa. Don’t give up, itu kuncinya. Lihatlah Angkie, dengan keterbatasannya, dia nggak pernah putus asa. (ALE/SA)