Aksi Damai Jeda Untuk Iklim Semarang Serukan Keprihatinan Terhadap Laju Perubahan Iklim

Aksi Damai Jeda Untuk Iklim Semarang Serukan Keprihatinan Terhadap Laju Perubahan Iklim
Para orang tua juga mengajak anaknya untuk ikut aksi Jeda untuk Iklim. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ratusan massa termasuk anak-anak menyuarakan bahaya perubahan iklim yang semakin "gila" khususnya di Indonesia. Uniknya acara ini didominasi oleh penampilan dan orasi anak-anak di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah Ini.

Inibaru.id - Ratusan orang berkumpul di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Jumat (27/9) pagi. Massa yang berasal dari berbagai komunitas ini mengkampanyekan pentingnya memperlambat laju perubahan iklim. Gerakan yang menamakan diri sebagai Jeda Untuk Iklim Semarang ini mendorong kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro-lingkungan.

Koordinator aksi, Ellen Nugroho mengatakan kegiatan ini merupakan aksi global yang juga dilakukan di berbagai kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Jambi. “Kita ingin isu global ini harus dibumikan menjadi isu lokal,” kata Ellen.

Mewakili massa aksi, Ellen mengatakan kini kondisi bumi sudah sangat mengkhawatirkan. “Suhu bumi sudah naik 1,1 derajat celsius, padahal kalau suhu bumi naik sampai 1,5 derajat kita akan masuk ke dalam pusaran bencana yang nggak habis-habisnya,” lanjutnya.

Sekitar 200-anorang mengikuti aksi Jeda Untuk Iklim Semarang dengan tertib dan damai. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Aksi yang dimulai dengan pawai dari masjid Raya Baiturrahman hingga Kantor Gubernur Jawa Tengah itu berjalan tertib dan damai. Nggak cuma orang dewasa yang ikut aksi, kata Ellen, ada sekitar 80-an anak yang bergabung.

Dengan menggunakan poster warna-warni dari kardus bekas yang menyerukan semangat cinta lingkungan, ratusan masa aksi ini bertahan di bawah teriknya matahari. Nggak cuma itu, inti acara yang berupa penampilan dari anak-anak juga menjadi pemandangan menarik.

Aksi juga diikuti oleh anak-anak yan membawakan berbagai penampilan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Didominasi Anak-Anak

Berbagai siswa SD hingga SMA menampilkan berbagai kesenian seperti pembacaan puisi, menari serta bernyanyi bersama hingga menyampaikan orasi layaknya orang dewasa. Ellen membenarkan aksi ini didominasi oleh aksi anak-anak. “Yang akan bersuara adalah anak-anak karena anak-anak akan mewarisi bumi di masa depan. Maka ini adalah panggung untuk mereka untuk meyampaikan kegelisahan dan kekhawatiran tentang masa depan,” terang ibu 3 anak ini.

Menurut Ellen, saat ini bencana kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan menyumbang emisi karbon yang sangat banyak. “Peringkat Indonesia langsung naik sebagai peringkat penyumbang emisi terbesar di bumi,” sambungnya.

Siswa SD YSKI ini menampilkan puisi serta bernyanyi bersama sebagai bentuk keprihatinan mereka. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurutnya, anak-anak yang terlibat sudah lama peduli tentang sampah plastik bahkan kebakaran hutan. Meski beberapa anak masih mengandalkan orang tua dalam mempersiapkan penampilan mereka, tapi ada juga yang lantang menyuarakan aspirasi mereka Seperti Roetji dan Gandhi.

Roetji berorasi dengan menceritakan alam sekitar. “Alam telah marah sama kita!” teriak Rutji di sela orasinya. Sedangkan Gandhi membacakan suratnya kepada presiden.

Tambah khawatir nggak sih sama perubahan iklim yang semakin ekstrem ini? Nah apa nih langkah nyatamu untuk memperlambat laju perubahan iklim di bumi, Millens? (Zulfa Anisah/E05)