Akses VIP Ibu pada Tuhan dan Semesta

Akses VIP Ibu pada Tuhan dan Semesta
(Media Group)

Dari ibu, aku belajar bagaimana pintanya lewat doa seakan serupa tiket VIP tanpa birokrasi yang rumit, langsung sampai di tangan Tuhan, lalu dieksekusi semesta.

Inibaru.id - Senja soreku begitu basah kala itu. Hujan sesiangan, bahkan hingga kami pulang. Aku yang sedang melamun di dalam mobil di samping suamiku mendadak kaget saat air genangan di samping mobil kami menciprat lantaran digilas sepeda motor yang melaju kencang.

Cipratan ini mengingatkanku pada peristiwa lima tahun silam. Saat itu, sebaliknya, aku yang ke mana-mana naik motor butut, mulai dari liputan hingga “nyambi” ngelesi, suatu ketika pernah basah kuyub terguyur air dari genangan yang digilas mobil yang melaju kencang di sampingku.

“Sekarang ke mana-mana aku nggak kehujanan, nggak kebasahan walau ada kendaraan yang seenaknya menciprati,” komentarku pada suami yang tengah menyetir. “Aku bersyukur!”

Selain itu, aku pun bersyukur berada di posisiku sekarang. Sebagai Pemimpin Redaksi Inibaru.id yang merupakan bagian dari Media Group, bisa bertemu dengan para petinggi perusahaan besar yang menaungi Metro TV, Media Indonesia, dan Medcom.id itu, adalah sebuah keajaiban bagiku.

“Padahal, ini nggak pernah ada dalam doaku,” celetukku, sembari tetap memandangi hujan lewat kaca samping.

Aku tak melihat suamiku. Namun, aku tahu dia tersenyum. “Mungkin, itu memang bukan doamu, tapi doa ibumu,” timpalnya. Singkat, tapi seketika itu membuatku diam, lalu tanpa sadar air mataku menetes.

Aku mengamini apa yang dikatakannya. Tirakat ibuku memang kuat. Salat malam dan puasa sunah tak pernah dilewatkan sejauh badannya mampu. Ku pikir, tiap ibu memang punya akses VIP ke Tuhan. Ini pula yang membuatku sangat berhati-hati berbicara pada ibu, karena doa dan air matanya ampuh.

Ibarat jelmaan tangan Tuhan, menurutku ibu nggak pernah gagal mengusir awan gelap dan kekacauan hidup, serta membawa kedamaian bagi kita. Siapa pun yang ditanyai tentang ibu pasti tersentuh sisi kemanusiaannya, seakan menziarahi relung hati terdalamnya.

Kejutan pada Hari Ibu

Ibu. Kata itu memang ibarat gravitasi. Gravitasi yang menarik kita ke masa lalu dan memburai semua kenangan bersamanya, baik yang membahagiakan, menenangkan, hingga tak mengenakan. Begitulah aku. Pun demikian CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib.

Oya, ibu dari Mohammad Mirdal Akib telah berpulang karena kanker yang dideritanya. Dia bercerita, rasa kehilangan pada sosok ibu membuatnya berusaha mengajak dan menyadarkan orang-orang yang masih memiliki ibu untuk sungguh-sungguh berbakti dan memuliakan mereka.

Melalui momentum Hari Ibu pada 22 Desember ini, Mirdal, biasa ia disapa, pun terinspirasi membuat acara yang mempertemukan sejumlah karyawan Media Group dengan ibu mereka. Acara ini dibuat diam-diam. Nggak banyak yang tahu.

Ade kemudian menjadi salah seorang karyawan yang mendapat kejutan spesial tersebut. Sebagai produser produksi, sebelumnya dia mungkin nggak akan pernah menyangka bakal diundang orang nomor satu di Media Group ini. Deg-degan. Seingatnya, nggak ada kesalahan yang dibuatnya. Projek terakhir berupa drama musikal pada HUT Metro TV pun baik-baik saja.

Selama sembilan tahun bekerja di Metro TV, dia belum pernah dipanggil langsung oleh petinggi Media Group itu. Atasannya bahkan tak tahu tentang pemanggilan ini.

“Silakan masuk, De!” sambut Mirdal. “Bagaimana kabarmu? Saya melihat drama musikal yang kamu buat. Bagus sekali, De!”

Ade mengangguk, lalu berterima kasih. Sesaat dia merasa lega karena Mirdal rupanya mau mengapresiasi pekerjaannya. Namun, dia segera harus memutar otak lantaran setelahnya Pak Mirdal malah membahas seputar Hari Ibu.

Ditanya tentang ide bikin show untuk peringatan nasional yang jatuh saban 22 Desember itu, Ade pun segera melontarkan banyak ide. Semangat mudanya begitu menyala, hingga akhirnya dia sadar, gagasan yang diutarakan itu rupanya ditanggapi biasa saja.

“Bagaimana kesan kamu terhadap ibu?” tanya Mirdal begitu Ade berhenti bicara.

Sesaat, pikirannya melayang membayangkan sang Ibu, sosok perempuan yang tak pernah lelah menjaga dirinya yang bungsu. Segala keluh kesah tertuju kepadanya. Teringat pula ketegaran ibunya mencarikan biaya kuliah untuknya, satu-satunya anak, dari empat bersaudara, yang punya kesempatan kuliah.

“Ibu saya adalah segala-galanya. Dialah anutan sekaligus penolong saya. Kesabarannya tiada batas,” tutur Ade. Suaranya terbata. Sejenak dia menghela napas. “Dialah yang membuat saya seperti sekarang ini,” lanjutnya.

Mirdal kemudian kembali bertanya, apa keinginan ibunya yang belum Ade jalankan. Tersipu, Ade pun tersenyum.

“Segera menikah, Pak,” jawabnya.

Tepat di sebelah ruangan tempat Ade dan Mirdal ngobrol, Siti Komisah yang mendengar kejujuran anak bungsunya itu nggak kuasa menitikkan air mata. Dari kamera tersembunyi, dia yang menyimak cerita anaknya tersebut mengaku merasa bangga dan terharu.

Bersama dengan sang ibu, di ruangan yang penuh monitor, dan mixer audio, tim produksi juga tampak larut dalam drama ibu dan anak ini.

Nggak lama, Siti Komisah beranjak dari monitor dan melangkah menuju anaknya dengan bouquet bunga di tangan. Terjadilah pertemuan ibu-anak yang mengharukan. Ade terkejut, nggak menyangka ibunya bakal hadir di depan matanya. Mereka pun berpelukan. Haru sekali!

Para Korban “Operasi Hari Ibu”

Nggak cuma Ade yang menjadi korban Operasi Hari Ibu ini. Sekurangnya ada delapan karyawan Metro TV yang diberi kejutan spesial itu, mulai dari presenter, sekretaris, hingga direktur. Mereka direkam diam-diam.

Tentu saja Operasi Hari Ibu ini bukanlah kegiatan tanpa persiapan. Menjelang hari H, tim produksi dan koordinator teknik sudah memikirkannya matang-matang, salah satunya dengan mengubah dan mendesain sedemikian rupa ruang kerja CEO yang dipakai interview dan ruang meeting sebelahnya.

Situasi di ruang CEO terekam seluruhnya di ruang kendali. Sementara, master control monitor besar menayangkan langsung “curhatan” sang anak tentang ibunya. Monitor besar ini memberi akses pada para ibu untuk menyaksikan seluruh gerak-gerik dan kisah anak mereka. Reaksi sang ibu juga tertangkap kamera yang sudah disiapkan sejak awal.

Entah apa yang membuat Mirdal berpikir untuk menyiapkan “kejutan” macam itu. Menurutku hal ini menarik. Mungkin, kerinduannya untuk berbakti pada sang ibu membuatnya ingin berbagi pesan pada semua orang.

Mungkin, Mirdal ingin mengatakan kepada para karyawannya, berbaktilah dan ungkapkanlah rasa sayang kepada ibu, mumpung masih bisa melakukannya secara langsung.

“Jangan pernah alpa untuk memberi perhatian kepada ibu, meski karyawan sedang larut dalam pekerjaan di kantor,” kata Mirdal, sembari menekankan pada setiap karyawan Metro TV agar senantiasa memuliakan ibunya.

Bagi Mirdal, keberhasilan suatu perusahaan ditentukan oleh performa karyawannya. Dan performa karyawan sangat tergantung pada bagaimana hubungan mereka dengan para ibunya.

“Janganlah membuat pintu surga itu retak, karena semua urusan hidup, termasuk pekerjaan, juga akan retak,” pesan Mirdal.

Hm, nggak ada kata lain, selain sepakat. Sudah seharusnya ibu menjadi sosok yang sangat dihormati. Ada ribuan alasan mengapa ibu adalah sosok orang nomor satu dan kunci dalam hidup kita.

“Saya ingin menggugah kita semua bahwa memiliki seorang ibu merupakan kemewahan yang luar biasa. Silakan tanya kepada yang sudah tidak punya ibunda, tentu dunia tidak akan pernah sama lagi. Semoga ikhtiar ini menginspirasi seluruh pemirsa dan karyawan Metro TV khususnya, untuk selalu memuliakan ibu dalam kehidupan kita sehari-hari,” tegasnya.

Aku percaya cinta ibu akan selalu sama. Sejak kita masih meringkuk dalam rahimnya, duduk di pangkuannya, hingga sekarang bisa berjalan sendiri dan pergi jauh darinya, ibu selalu ada. Bahkan, saat kita lupa pulang pun ibu selalu menunggu.

Dari ibu, aku belajar bagaimana pintanya lewat doa seakan serupa tiket VIP tanpa birokrasi yang rumit, langsung sampai di tangan Tuhan, lalu dieksekusi semesta.

Ibu, pada satu titik, mungkin ragamu nggak sanggup menjaga anak-anakmu yang makin besar dan jauh darimu. Tapi, sungguh, tirakat dan doamu bisa menjangkau kami dan memeluk hati kami untuk selamanya.

Terima kasih telah setia menjadi rumah yang tak pernah gagal memenangkan hati. Terima kasih, karena doamu seakan menjelma instruksi pada semesta untuk bekerja sedemikian rupa melindungi serta mewujudkan mimpi dan cita-cita kami. Tetaplah demikian. Selamat Hari Ibu! Semesta akan selalu memelukmu. (Ike Purwaningsih/E03)

Tags : #Hariibu