Ahmad Rizky Mardhatillah Umar Membawa Ajaran Islam pada Kehidupan Sosial

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar Membawa Ajaran Islam pada Kehidupan Sosial
Ahmad Rizky Mardhatillah Umar sedang menjadi pembicara. (Dok. Ahmad Rizky Mardhatillah Umar)

Laki-laki berusia 30 tahun ini bukan sekadar orang yang mendalami ilmu agama. Dia juga bisa melihat dan mengembangkan ajaran Islam di kehidupan sosial-politik kita.

Inibaru.id –  Pada usianya yang sudah mencapai angka 30 tahun, Ahmad Rizky Mardhatillah Umar bisa dibilang pemuda produktif, Millens. Selain sedang menempuh studi doktoral bidang Politik dan Hubungan Internasional di University of Queensland, Australia, dia juga aktif menjadi penulis dan peneliti isu keagamaan, politik, dan hubungan internasional. Selama kuliah di Queensland, dia juga menjadi ketua dari Ranting Istimewa Muhammadiyah di Queensland.

Yang membuat sosok ini lebih unik adalah fokusnya dalam menulis dan mengembangkan gagasan tentang ajaran Islam yang beririsan dengan dimensi sosial-politik manusia. Menurutnya, ajaran Islam nggak terbatas pada pelaksanaan ritual-ritual yang pelaksanaannya individualis.

“Padahal Islam sejak awal dibawa dan disebarkan, dimensinya sosial,” tulis Umar dalam surat elektronik, Jumat (15/5). Umar mencontohkan Ibn Khaldun, sejarawan muslim terkemuka, yang menyatakan bahwa Islam bisa menjadi sebuah peradaban dan bisa tersebar luas karena Islam membangun “solidaritas sosial” (ashabiyah). Solidaritas sosial ini bagi Umar memerlukan pengejewantahan aspek-aspek Islam dalam masyarakat.

“Maknanya, menurut saya, bukanlah menghadirkan Islam sebagaimana dia diajarkan di zaman pertengahan (sebagaimana kawan-kawan yang pengin khilafah seringkali bilang), tetapi Islam harus hadir sebagai etika sosial dan cara untuk membangun tatanan sosial yang adil,” tambah Umar, nama panggilan laki-laki lulusan University of Sheffield, Inggris ini.

Buku terbaru Umar yang terbit awal tahun 2020. (Jd.id)
Buku terbaru Umar yang terbit awal tahun 2020. (Jd.id)

Umar merasa aspek sosial-politik dari ajaran Islam jarang disampaikan dalam ceramah-ceramah dan dakwah-dakwah. Hal ini lah yang membuat Umar tekun terus mencari dan menulis aspek-aspek sosial-politik dari ajaran Islam.

Ketekunan itu berwujud dalam tiga buku yang sudah Umar terbitkan, yaitu Puasa dan Transformasi Sosial (2015), Nalar Kritis Muslim Abad 21 (2017), dan Dakwah dan Kuasa (2020). Dia juga baru selesai menggarap buku tentang sejarah Muhammadiyah di Kalimantan Selatan lo, Millens. Duh, keren sekali, ya?

Jujur, saya terkejut saat mengetahui Umar nggak pernah mengenyam pendidikan keagamaan pada lembaga tertentu. Dia mengaku mendapat banyak ilmu tentang Islam ketika dia tergabung dalam Remaja Mesjid dan Pemuda Muhammadiyah di masa SMA. Sejak itu dia sering membaca tentang ajaran Islam hingga saat ini.

Menurut Umar, beragama nggak cuma mempraktikkan ritualnya. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)<br>
Menurut Umar, beragama nggak cuma mempraktikkan ritualnya. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Namun, di tengah kegigihan itu, pasti nggak semuanya berjalan lancar. Umar mengaku kesulitan untuk membagi waktu di tengah kesibukannya yang seabrek itu. Dia juga mengaku meyakinkan orang untuk menerima buah pikirannya nggak mudah. Bahkan dia sudah cukup sering dilabeli kiri, liberal, dan sosialis.

“Tapi paling tidak, kita terus menulis dan harapannya generasi muda yang bisa berpikir jauh lebih kritis akan bisa sedikit menerima,” tulis Umar. “Karena memang tantangan zaman ke depan semakin kompleks; dan kita perlu analisis Islam yang bersifat multi-dimensional,” tambah laki-laki kelahiran Banjarmasin ini.

Membaca jawaban-jawaban Umar, saya cuman bisa melongo saja membaca kegigihannya, Millens. Hehe (Gregorius Manurung/E05)