Urbanisasi Akar Masalah Picu Lonjakan Mudik

Bagi para perantau dan pekerja imigran, lebaran merupakan salah satu momentum yang amat dinanti. Mengapa demikian? Karena pada momentum tersebut seluruh keluarga berkumpul, tumpah ruah dengan penuh perasaan rindu, cinta kasih juga haru biru.

Urbanisasi Akar Masalah Picu Lonjakan Mudik
Urbanisasi Akar (Foto : inibaru.id)
2k
View
Komentar

inibaru.id - Bagi para perantau dan pekerja imigran, lebaran merupakan salah satu momentum yang amat dinanti. Mengapa demikian? Karena pada momentum tersebut seluruh keluarga berkumpul, tumpah ruah dengan penuh perasaan rindu, cinta kasih juga haru biru. Jadi tak salah jika jelang lebaran masyarakat urban berduyun-duyun kembali ke kampung halaman karena tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Fenomena semacam ini yang kemudian sering disebut dengan istilah mudik.

Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa kata mudik ini merupakan sebuah akronim dari bahasa Jawa Ngoko yakni “mulih dilik” yang artinya pulang sebentar. Masih berbicara sejarah, pada awalnya mudik merupakan tradisi petani Jawa pada masa kerajaan Majapahit yang bertujuan untuk membersihkan makam leluhur guna mencari keselamatan dan tambahan rizki.

Sampai saat ini, tradisi semacam itu masih banyak dilakukan oleh masyarakat khususnya di Jawa Tengah, namun dengan ritual yang dikemas lebih religius, misalnya sarean makam jelang lebaran dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena adanya proses asimilasi ajaran islam.

Kemudian dalam perkembangannya, istilah mudik mulai dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan kata dasar udik yang artinya adalah kampung, desa, dusun dan daerah yang merupakan lawan dari kota. Sehingga secara umum, mudik diartikan sebagai kegiatan para perantau dan pekerja imigran untuk kembali ke kampung halaman yang bersifat sementara.

Pada awalnya, mudik tidak ada kaitannya sama sekali dengan lebaran. Namun, belakangan ini istilah mudik sepertinya mengalami reduksi makna dan kemudian seperti hanya diidentikkan dengan lebaran saja.

Di Indonesia, mudik lebaran mulai berkembang pada tahun 1970an. Saat itu Jakarta tampil sebagai pusat Ibukota yang mengalami perkembangan pesat. Hal ini yang menjadikan Jakarta sebagai daerah tujuan urban terbesar. Masyarakat beranggapan bahwa Ibukotalah yang mampu menjawab persoalan hidup masyarakat desa yang serba terbatas. Sehingga mereka berbondong mencoba peruntungannya di sana.

Bisa dikatakan proses urbanisasi inilah yang menjadi salah satu penyebab lonjakan jumlah pemudik tiap momen lebaran tiba. Hal ini mengingat jumlah urbanisasi berbanding lurus dengan tingginya angka pemudik.

Urbanisasi Meningkat

Dilihat dari data tahun 1950an hingga 2010 persentase angka urbanisasi tiap tahun meningkat rata-rata 15 persen. Seperti yang ditunjukkan pada infografik di atas, pada tahun 1950 jumlah penduduk yang migrasi ke pusat kota yakni 15 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan ditahun 90an persentase urbanisasi bertambah menjadi 30 persen dan terakhir di tahun 2010 migrasi penduduk menjadi 44 persen.

Meningkatnya jumlah penduduk yang bermigrasi tersebut tentu berimbas pada makin tingginya  jumlah angka pemudik. Bahkan karena intensitasnya yang begitu tinggi, peristiwa mudik juga telah menjadi fenomena tersendiri di negeri ini.

Berdasarkan data investigasi inibaru.id menunjukan jumlah pemudik dari Ibukota menuju berbagai daerah di Indonesia dari tahun 2012 hingga 2015 terus mengalami peningkatan. Pada 2012, tercatat sebanyak 22.069.278 pemudik. Sementara itu, pada tahun berikutnya peningkatan kembali terjadi. Terpantau sejumlah 22.144.610 pemudik turut mewarnai fenomena mudik lebaran 2013.

Selanjutnya pada 2014, lonjakan jumlah pemudik yang terjadi cukup signifikan yakni mencapai total angka 23.088.908 pemudik. Sedangkan pada 2015, peningkatan jumlah pemudik tak cukup tinggi yakni 23.395.367 pemudik.

Menyikapi hal tersebut pihak pemerintah dengan sigap melakukan berbagai rekayasa demi lancarnya fenomena mudik yang terjadi tiap tahunnya. Berbagai sumber daya negeri pun ikut dikerahkan untuk melayani pemudik. Baik dari sektor perhubungan, perdagangan hingga aparat keamanan dan pihak swasta semua bekerja dengan kapasitas tinggi di saat mudik lebaran.

Misalnya, penyediaan jasa transportasi yang lebih layak, optimalisasi aparat keamanan, penyediaan posko-posko mudik, pembangun akses jalan tol dan lain sebagainya. Dengan kerja keras tersebut diharapkan dapat membantu meringankan perjalanan pemudik yang jauh dari perantauan hanya untuk merasakan dekapan kasih sayang keluarga di kampung halaman masing-masing. (NA/IB)