Tisu yang Mengancam Hutan

Hutan produksi mendominasi wilayah hutan di Indonesia. Ini lantaran banyaknya permintaan barang yang berbahan baku kayu salah satunya tisu. Namun, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru untuk mengatasi hal itu.

Tisu yang Mengancam Hutan
Infografik hutan alam vs hutan produksi. (Inibaru.id/Nafis)

Inibaru.id – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai tahun 2017 berkomitmen untuk mengonversi hutan produksi menjadi hutan alam. Nggak tanggung-tanggung, KLHK menargetkan 518.418 hektare lahan seperti ditulis Cnnindonesia.com, pada Jumat (12/1/2018). Rencananya pengonversian lahan itu bakal rampung pada 2026 mendatang.

Porsi hutan produksi saat ini lebih besar daripada hutan alam. Ini berarti sebagian besar lahan hutan dieksploitasi untuk menyediakan kebutuhan manusia. Hutan produksi kemudian dibedakan menjadi tiga yakni Hutan Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), dan Hutan Produksi yang Dikonversi (HPK).

Baca juga:
Demi Hutanmu, Bijaklah Memakai Tisu!
Vaksin ORI untuk Difteri

Hutan produksi ini menghasilkan banyak macam seperti kayu bulat, serpih kayu, dan pulp. Setiap tahun, Indonesia memproduksi pulp sebanyak 7,9 juta ton dan kertas sebesar 12,9 juta ton. Nah, pulp inilah yang nantinya diolah menjadi kertas yang slah satunya kertas tisu.

Infografik hutan alam vs hutan produksi. (Inibaru.id)

Setiap tahun kebutuhan kertas dunia tumbuh 2,1 persen dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di negara berkembang sebesar 4,1 persen. Padahal untuk memenuhi 3,2 juta ton tisu toilet dibutuhkan 54 juta batang pohon seperti dilansir Grid.id (3/5/2017). Jumlah itu belum termasuk tisu jenis lain, lo.

Saat ini industri pulp dan kertas justru menjadi andalan ekspor Indonesia. Negara gemah ripah loh jinawi ini bahkan menempati peringkat ke-10 dunia dalam hal eksportir pulp dan kertas. Pada Januari hingga Oktober 2017, Indonesia berhasil meraup 1,91 miliar dolar AS dari sektor pulp. Jumlah itu kemungkinan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dunia.

Baca juga:
E-commerce yang Semakin Bertumbuh
Urbanisasi Akar Masalah Picu Lonjakan Mudik

Hal itu menunjukkan semakin banyak pohon yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan. Inilah yang harus diperhatikan perusahaan dan pemerintah terkait kelestarian alam. Keanekaragaman hayati jelas berkurang karena banyaknya hutan produksi. Belum lagi bencana alam seperti longsor dan banjir yang akan terjadi bila hutan terus menerus dieksploitasi.

Semoga target pemerintah untuk mengonversi hutan produksi menjad hutan alam sukses ya, Millens. Kita senang alam pun riang. (IF/IP)