Rangkong Badak, Burung Suci Orang Dayak

Selain disucikan orang Dayak, burung rangkong badak itu tipe setia terhadap pasangannya. Spesies itu terancam kepunahan akibat perburuan liar yang menjadikan paruh burung sebagai komoditas.

Rangkong Badak, Burung Suci Orang Dayak
Burung rangkong badak atau Buceros rhinoceros.(Wikipedia)

Inibaru.id – Baru-baru ini Surya Dharma, warga Labuhanbatu Utara menemukan dan menangkap seekor burung rangkong julung emas di hutan yang jadi korban pembalakan liar. Dia lalu menyerahkan burung tersebut kepada petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Seksi Konservasi Wilayah III, di Kelurahan Ginting Saka, Kecamatan Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumut.

Tindakan itu pantas dicontoh dan diteladani. Wajar saja, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Utara pun mengapresiasi baik apa yang dilakukan Surya.

Kenapa? Burung rangkong adalah spesies satwa langka yang dilindungi oleh UU No 5 Tahun 1990 tentang Satwa Dilindungi.

Pengin tahu beberapa hal tentang burung itu? Simak ya.

Laman jalaksuren.net menulis, rangkong adalah satwa endemik yang tersebar di daratan Asia Tenggara, terutama Indonesia. Orang Inggris mengenal nama burung ini dengan sebutan Rhinoceros Hornbill. Bentuk paruh panjang, melengkung, dan mirip tanduk sapi, merupakan salah satu keunikannya. Bagian pangkal paruh tersebut berwarna kuning terang.

Dikutip dari laman GoodnewsfromIndonesia (GNFI), burung rangkong memiliki banyak jenis yang tersebar di beberapa kawasan Indonesia. Di Sumatera dijumpai sembilan jenis rangkong, antara lain enggang jambul, julang emas, kangkareng hitam, julang jambul-hitam, enggang klihingan, kangkareng perut-putih, rangkong papan, rangkong gading, dan rangkong badak.

Khusus burung rangkong badak (Buceros rhinoceros), ia memiliki ukuran sangat besar, sekitar 110 sentimeter. Nggak keliru jika burung rangkong ini dijuluki sebagai rangkong terbesar. Burung rangkong ini memiliki ciri di bagian kepala, punggung, dada dan sayapnya yang didominasi warna hitam. Sedangkan bagian perut dan pahanya berwarna putih, dan bagian ekornya berwarna putih mencolok dengan garis hitam lebar melintang.

Baca juga:
Selamatkan Kanguru Asli Indonesia dari Perburuan!
Anggrek Hantu dari Pulau Jawa

Disucikan di Kalimantan

Pulau Kalimantan adalah salah satu habitat favorit burung rangkong. Biasanya, satwa yang di sana disebut enggang ini dijadikan sebagai perantara ritual. Sebaliknya, dalam dunia modern, justru diambil paruhnya. Namun, pemanfaatan paruh sering dilakukan secara ilegal.

Hal itu mengakibatkan beberapa jenis dari spesies rangkong nyaris hilang di permukaan bumi. Jadi, memang butuh semua pihak untuk berupaya keras agar burung khas itu nggak punah.

Ya, khusus untuk burung rangkok badak, ia dipandang istimewa oleh orang Dayak di Kalimantan. Bagi mereka burug itu melambangkan kesucian, kekuatan, dan kekuasaan.

“Penampilannnya yang unik, membuat rangkong dipandang istimewa oleh masyarakat tertentu di Indonesia. Misalnya, masyarakat di pedalaman Kalimantan telah lama memilih jenis-jenis rangkong untuk digunakan sebagai upacara ritual,” tutur Johan Iskandar, Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) seperti dilansir dalam mongabay.co.id.

Konon orang Dayak zaman dahulu menjadikan burung ini sebagai perantara berkomunikasi dengan arwah leluhur. Roh alam yang melindungi pulau Kalimantan dan orang Dayak dulunya sering menampakkan diri dengan wujud burung rangkong raksasa. Tak heran apabila dalam kesenian tari maupun kebudayaan orang Dayak, motif burung rangkong ini banyak ditemukan.

Keunikan Burung Rangkong

Ada yang unik dari kebiasaan burung rangkong badak pada pasangannya. Selama rangkong betina bersarang di lubang pohon yang ditutup dengan lumpur, rangkong jantan mencari dan memberi makanan ke rangkong betina lewat lubang yang disisakan separuh pada sarangnya. Lumpur akan dipecahkan oleh rangkong betina ketika sudah tiba saatnya telur yang dieraminya menetas.

Selain itu ditemukan fakta pula bahwa burung rangkong badak ini termasuk burung yang setia terhadap pasangannya. Apabila salah satu pasangannya mati, burung tersebut akan tetap sendiri hingga akhir hidupnya tanpa mencari pendamping lagi.

Kehebatan burung rangkong badak juga diakui dalam kemampuannya menebar biji hingga 100 kilometer jauhnya. Satwa pemakan buah-buahan ini terbilang sangat berjasa pada sebuah proses regenerasi hutan.

Menurut literatur Burung Indonesia, peneliti rangkong dan hujan tropis, Margaret F Kinnaird dan Timothy G O’Brien menjuluki satwa ini sebagai “petani hutan yang tangguh”. Adanya korelasi yang kuat antara burung rangkong dan hutan yang sehat juga dapat dilihat dari keberadaan satwa ini. Apabila ada burung rangkong, tentunya ada pohon besar di hutan tersebut.

Baca juga:
Mari Menjaga Anoa agar Nggak Punah
Penyu Sisik, Selangkah Menuju Punah

Burung yang banyak menghabiskan waktunya di atas tajuk hutan ini terbilang sudah tidak banyak jumlahnya. Menurut data International Union for Conservation of Nature (IUCN), keberadaan burung rangkong di Indonesia mulai sedikit.

Tentu saja Sobat Milllens sepakat bahwa burung rangkong yang memiliki banyak manfaat khususnya dalam pelestarian hutan. Karena itu, ia wajib dilestarikan dan dilindungi keberadaannya. (EBC/SA)