Mari Cegah Kepunahan Si Putih Elok dari Bali

Burung jarak bali berkategori satwa kritis alias terancam punah. Perlu lebih banyak tempat penangkarannya karena sebenarnya burung ini cukup mudah ditangkar.

Mari Cegah Kepunahan Si Putih Elok dari Bali
Burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). (jalaksuren.net)

Inibaru.id – Burung ini jadi maskot Pulau Dewata. Sayang, eksistensinya terancam punah. Burung itu adalah jalak bali atau curik bali yang memiliki nama ilmiah Eucopsar rothschildi.

Dikutip dari laman floradanfauna.com, jalak bali adalah jenis burung pengicau berukuran sedang dengan panjang sekitar 25 cm dari suku Sturnidae. Ciri khusus yang dimiliki burung ini yaitu bulu berwarna putih di seluruh tubuhnya kecuali di bagian ekor dan sayapnya yang hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki keabu-abuan. Ciri itu untuk burung jantan dan betina.

Ya, jalak bali sebagai burung endemik di Pulau Bali hanya bisa ditemukan di hutan bagian barat itu. Lokasi pastinya di Teluk Brumbun yang masuk Taman Nasional Bali Barat.

Keistimewaan burung ini adalah sebagai satu-satunya spesies endemik Bali yang pada 1991 dinobatkan sebagai lambang atau maskot fauna Provinsi Bali. Keberadaannya dilindungi undang-undang karena satwa ini berkategori “kritis” (Critically Endangered) dalam Redlist International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan nyaris punah di habitat aslinya.

Jalak Bali ditemukan kali pertama oleh Dr Baron Stressmann, ahli burung berkebangsaan Inggris pada 24 Maret 1911. Nama ilmiah Leucopsar rothschildi didedikasikan sesuai dengan nama Walter Rothschild, pakar hewan Inggris yang kali pertama mendeskripsikan spesies itu pada 1912.

Pada 1925, Dr Baron Viktor von Plesen melakukan lanjutan penelitian mengenai burung ini. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa burung ini hanya hidup di Bali bagian Barat. Beberapa kebun binatang lain juga turut mengembangbiakkan satwa ini.

Baca juga:
Semoga Tokhtor Sumatera Belum Punah
Rangkong Badak, Burung Suci Orang Dayak

Pada habitat aslinya burung jalak bali hidup secara liar dan terancam punah. Jumlahnya semakin berkurang membuat satwa ini tergolong langka. Sekitar 1910, jumlahnya diperkirakan hanya mencapai 900 ekor di Bali. Tahun 1990, jumlahnya turun drastis menjadi 15 ekor. Tahun 2005, penelitian menemukan bahwa jumlahnya tinggal 5 ekor. Pemerintah langsung mengambil inisiatif untuk mencegah kepunahannya. Tahun 2008, diperkirakan jumlahnya kembali meningkat menjadi 50 ekor setelah dipelihara di Taman Nasional Bali Barat.

Karena penampilannya yang indah dan elok, jalak bali menjadi salah seekor burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat.

Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak Bali.

Adapun di Indonesia, jalak bali memperoleh perhatian serius dari pemerintah Republik Indonesia, yaitu dengan ditetapkannya makhluk tersebut sebagai satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang. Melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/70 tanggal 26 Agustus 1970, yang menyatakan bahwa burung curik bali dilindungi undang-undang. Peraturan ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dalam peraturan ini, burung khas Bali ini ditetapkan sebagai satwa langka yang nyaris punah dan tidak boleh diperdagangkan kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga atau indukan.

Baca juga:
Selamatkan Kanguru Asli Indonesia dari Perburuan!
Penyu Sisik, Selangkah Menuju Punah

Agar lebih lengkap kamu ketahui, jalak bali ini biasanya berkembang biak pada musim penghujan, antara Oktober dan Mei tahun berikutnya. Mereka biasa membuat sarang di pepohonan. Burung jalak ini biasa hidup di semak-semak dan pohon palem pada alam bebas yang berbatasan dengan rerimbunan hutan. Makanan yang biasa dikonsumsi adalah serangga, jangkrik, cacing, jambu, dan pisang. Umumnya jalak suka hidup bergerombol.

Untuk menghindari kepunahan, telah didirikan pusat penangkaran, yang salah satunya di Buleleng, Bali sejak 1995. Selain itu sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia juga menjalankan program penangkaran Jalak Bali.

Yuk, kita dukung upaya penangkaran itu agar burung indah itu tetap eksis. (EBC/SA)

 

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Aves

Ordo: Passeriformes

Famili: Sturnidae

Genus: Leucopsar

Spesies: Leucopsar rothschildi