Anggrek Hantu dari Pulau Jawa

Anggrek spesies baru ini suka tempat gelap, khususnya di balik rumpun bambu. Selain suka tempat gelap, bentuknya juga seram, maka meski punya nama ilmiah, ia dikenal sebagai anggrek hantu.

Anggrek Hantu dari Pulau Jawa
Gastrodia bambu atau anggrek hantu. (lipi.go.id)

Inibaru.id – Pertengahan Agustus lalu, ditemukan spesies anggrek baru yang unik tapi memberi kesan seram. Kenapa? Anggrek spesies baru itu disebut merepresentasikan dunia kematian.

Dikutip dari laman Lipi.go.id, penemuan spesies baru itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Phytotaxa. Penemu yang memublikasikan adalah Destario Metusala, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Purwodadi bersama dengan peneliti biologi konservasi Universitas Indonesia, Jatna Supriatna.

Sobat Millens, disebutkan dalam publikasi, spesies baru anggrek tersebut berasal dari kelompok anggrek holomikotropik atau kerap disebut anggrek hantu oleh para peneliti. Spesies baru yang  diberi nama ilmiah Gastrodia bambu ini berasal dari Pulau Jawa.

Pemilihan nama berasal dari habitatnya yang spesifik di sekitar rumpun bambu. Dari habitatnya tersebut, nama pun muncul dari bahasa Indonesia, yakni “bambu”. Alhasil, nama lengkap spesies baru itu pun menjadi Gastrodia bambu.

Anggrek hantu adalah tumbuhan yang nggak berklorofil sehingga nggak bisa berfotosintesis, namun nggak bersifat parasit, lo. Maka, seluruh daur hidupnya menggantungkan diri dari suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.

Anggrek kelompok holomikotropik ini umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun. Perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan layu busuk dan lenyap.

Baca juga:
Penyu Sisik, Selangkah Menuju Punah
Benar Nggak Keong Sawah Bisa Gantikan Daging Sapi?

Kombinasi warna bunga genus Gastrodia pun tidak pernah mencolok. Umumnya berkisar pada warna putih, kekuningan, hingga kecokelatan.  “Terlebih anggrek ini menyukai habitat yang gelap, lembab, dan selalu berdekatan dengan rumpun bambu lebat yang sudah tua. Tidak mengherankan apabila spesies ini memiliki kesan konotasi ‘angker’,” jelas Destario belum lama ini.

Gastrodia bambu diduga memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya.

Gangguan pada habitat anggrek itu, misalnya pembukaan rumpun bambu, diduga akan berdampak terhadap perubahan kelembaban, intensitas cahaya dan juga sifat biologi pada media tumbuhnya, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan populasi anggrek ini. Adanya perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan intensitas curah hujan tahunan, diperkirakan sangat memengaruhi periode perbungaan dan pertumbuhan populasi anggrek holomikotropik ini.

Bunga Berbentuk Lonceng

Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm. Bunga didominasi warna cokelat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga. Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Bunga menghasilkan aroma ikan busuk untuk mengundang serangga polinator. Perbungaan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 - 900 m dpl.

Tantangan Konservasi

Bagaimana nasib anggrek itu selanjutnya?

Millens, nggak mudah untuk tetap mempertahankan spesies anggrek itu. Hal itu diakui oleh para peneliti. Konservasi anggrek tersebut jadi tantangan besar karena membudidayakannya saja sulit.

"Penelitian terkait kemampuan adaptasi spesies ini dalam menghadapi perubahan iklim masih terus dilakukan melalui analisis anatomi dan fisiologi," kata Destario.

Baca juga:
Takokak: Kecil dan Pahit, Tapi…
Kesemek: Substropis Oke, Tropis pun Oke

Perlu diketahui, penemuan spesies baru itu berkat upaya keras organisasi kemahasiswaan Canopy (Departemen Biologi, Universitas Indonesia) dan BiOSC (Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada) dalam membantu proses pengamatan habitat dan pencatatan record populasi.  

Semoga ilmuwan kita mampu melakukan korservasi. Sebab, sayang ya bila anggrek unik ini nggak bisa bertahan lama. (EBC/SA)