Roadshow DSC ke-10 Semarang: Kalau Bikin Usaha Jangan Kapitalis-Kapitalis Lah!

<em>Roadshow</em> DSC ke-10 Semarang: Kalau Bikin Usaha Jangan Kapitalis-Kapitalis Lah!
Pembicara yang sudah sukses pada bidangnya masing-masing membeberkan berbagai pengalaman serta tips berwirausaha kepada peserta. (Inibaru.id/ Audrian F)

Yang kita lihat, menjadi wirausahawan tidaklah sulit. Namun, nggak sedikit pengusaha rintisan yang kolaps di tengah jalan lantaran salah strategi. Dalam roadshow Diplomat Succes Challenge ke-10 di Semarang, sejumlah strategi berwirausaha mungkin perlu kamu lakukan. Apa saja?

Inibaru.id - Persaingan menjadi karyawan yang kian berat membuat sejumlah anak muda memilih bercita-cita mulia: berwirausaha! Namun, jalan menjadi enterpreneur tidaklah mulus lantaran nggak ada jalan yang pasti dari "cita-cita" itu.

Nah, buat kamu yang berminat punya usaha sendiri, trik dan tips dari pemateri dalam roadshow Diplomat Succes Challenge ke-10 (DSC|X) di Semarang ini mungkin bisa jadi acuanmu, Millens.

Berlangsung di Senja Rooftop Impala Space, Spiegel Building, Jalan Letjen Suprapto No 34 Kotalama, roadshow ajang tahunan tersebut memang menghadirkan sejumlah pemateri yang mumpuni di bidangnya, antara lain Muhammad Aga (Coffee S.M.I.T.H.), Yoga Muda (Loffle Pop Up Dessert), dan Andi Saptari (Coworking Indonesia).

Apa yang Kamu Sukai

Untuk berwirausaha, mengawali dengan yang kamu sukai mungkin bisa jadi pertimbangan. Atau, kamu bisa memulai dengan apa yang kamu mengerti atau bidang yang sudah kamu ketahui secara mendalam. Ini seperti diungkapkan Muhammad Aga.

"Kalau suka dan tahu, akan lebih mudah untuk melangkah lebih jauh lagi," tutur co-founder Coffee S.M.I.T.H. cum Mentor Nasional DSC|X 2019 tersebut.

Berawal dari menjadi barista, dia mulai banyak belajar soal industri kopi.

“Aku punya usaha ini karena aku tahu banget soal ini. Dulu awalnya dari barista aku mengamati banyak hal dan apa salahnya jika dicoba?” kata Aga.

Pantang Patah Arang

Berwirausaha, masih menurut Aga, sebaiknya jangan mudah patah arang. Yeah, bagus kalau usahamu langsung melejit. Namun, kalaupun enggak, ya kudu bersiap-siap juga.

“Kita harus lebih sabar dalam mem-branding­ produk kita, dan branding tiap produk memiliki proses masing-masing,” tutup pemenang kompetisi barista nasional, Indonesia Barista Competition (IBC) 2018, itu.

Passion, Action, dan Mencintai Proses

Setali tiga uang dengan Aga, penggagas Coworking Indonesia Andi Saptari juga menekankan pentingnya passion. Namun, passion atau renjana saja nggak cukup untuk memulai bisnis. Action atau memulai usaha itu dengan bekerja keras, jauh lebih penting.

Andi Saptari (kanan), sedang menerangkan berbagai pengalaman wirausahanya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Terakhir, cintailah proses! Yap, jalani suka-duka dulu ya. Usaha nggak akan mengkhianati proses, kok.

“Kalau ketiganya itu bisa kamu jalani, yakinlah akan ada kabar menggembirakan di depan sana,” ucap Andi.

Potensi Tim dan Kemampuan Individu

Sementara, pemilik Loffle Pop Up Dessert Yoga Muda menyarankan, dalam mengelola usaha sebaiknya kamu memaksimalkan sumber daya yang kamu miliki.Manfaatkan potensi tim atau kemampuan per individu, Sebab hal itu merupakan kunci untuk menciptakan sistem.

“Intinya ada pada tim. Kalau tim sudah oke, baru bentuk sistem. Sistem kalau bisa bukan hanya pada sistem kerja, tapi juga pada sistem mood atau perasaan pegawai,” saran dia.

Menurut Yoga, sebuah usaha sebaiknya bukan sekadar media bagi konsumen, tapi juga menjadi inspirasi bagi orang lain.

“Saya lebih senang kalau Loffle (usaha miliknya) bisa menginspirasi orang-orang agar menciptakan wirausaha juga,” kata Yoga.

Yoga Muda (Kanan) menerima penghargaan sebagai local hero dari DSC|X. (Inibaru.id/ Audrian F)

Oya, perlu kamu tahu, DSC merupakan kompetisi berwirausaha yang dicetuskan oleh Wismilak, sebuah jenama rokok yang berpusat di Surabaya. Selain ke Semarang, roadshow DSC ke-10 juga telah digeber di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta.

Baca Juga:
Buru Potensi Wirausahawan Kota Atlas, Diplomat Succes Challenge ke-10 Lakukan Roadshow ke Semarang

Seperti Yoga, pencetus DSC sekaligus Marketing Community & Event Manager Wismilak Edric Chandra juga sempat menyarankan, sebisa mungkin ketika kamu sudah memiliki usaha serta pegawai, jangan sampai menimbulkan iklim otoriter.

"Pandang mereka sebagai keluarga atau bagian dari kita," tutur Edric.

Yap, menurut dia, kendati nantinya akan terbentuk sistem atasan dan bawahan, jangan sekalipun memandang rendah mereka. Sebab, lanjutnya, kepada mereka pula usaha kita bisa berjalan.

“Jangan kapitalis-kapitalis banget lah!” kelakarnya, yang segera disambut tawa puluhan peserta yang hadir.

Hm, penting dicatat, nih! Bikinlah usaha yang memanusiakan manusia serta memberi keuntungan bagi kita dan orang lain! Akur? (Audrian F/E03)