Tiga Film Indonesia yang Nggak Laku di Pasaran Tapi Raih Penghargaan Internasional

Film-film Indonesia ini memiliki kualitas yang diakui di luar negeri. Sayang, film-film ini nggak begitu diminati oleh masyarakat.

Tiga Film Indonesia yang Nggak Laku di Pasaran Tapi Raih Penghargaan Internasional
Film Siti. (Bbc.com)

Inibaru.id – Nggak semua film berkualitas laku keras di pasaran, termasuk juga film buatan Indonesia. Padahal, film-film ini punya eksistensi di kancah internasional, lo. Beragam penghargaan juga diberikan pada film-film berikut ini. Apa saja?

Turah

Turah. (Fourcolors Film)

Film berbahasa Tegal ini mengisahkan kehidupan masyarakat Kampung Tirang di Tegal, Jawa Tengah yang terisolasi selama bertahun-tahun. Film yang diproduksi oleh Fourcolours Films ini dibintangi oleh Ubaidillah, Slame Ambari, Yono Daryono, dan lain-lain. Di kancah internasional, film berdurasi 83 menit ini memenangi penghargaan Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Sayang sekali, di hari pemutaran, film ini hanya ditonton delapan orang.

Marina Si Pembunuh Empat Babak

Marlina. (Youtube.com)

Film yang dibintangi Marsha Timothy ini meraih pelbagai penghargaan, seperti pemenang NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival (FFAFF) dan skenario terbaik dalam Festival International du Film de Femmes de Sale. Film ini juga menembus Toronto International Film Festival dan Melbourne International Film Festival. Marsha Timothy juga meraih penghargaan sebagai aktris terbaik di  Sitges International Fantastic Film Festival ke-50. Di Indonesia, penonton film ini nggak bisa mencapai ratusan ribu orang.

Siti

Film Siti. (bbc.com)

Film yang “hanya” ditonton 4 ribuan orang ini menceritakan mengenai perempuan pemandu karaoke bernama Siti. Konflik muncul saat Bagus, suami Siti merasa keberatan dengan pekerjaan Siti. Siti yang bimbang justru bertemu dengan seorang polisi yang mengajaknya menikah.

Disajikan dalam visual hitam putih, film ini meraih penghargaan sinematografi terbaik dan naskah film terbaik untuk kategori New Asia Talent Competition Festival Film Internasional Shanghai 2015, film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2015, dan Best Performance for Silven Screen Award dalam Singapore International Film Festival 2014, seperti ditulis tribunnews.com (21/2/2018).

Pemasaran film memang menjadi PR besar bagi para pembuat film. Kendati hal seperti ini mungkin terjadi, semoga saja pembuat film terus konsisten untuk menyajikan film berkualitas, ya. (IB08/E05)