Singgung Kompleksitas Hidup Masyarakat Pinggiran, Teater Emka Pentaskan "Layung Sore”

Singgung Kompleksitas Hidup Masyarakat Pinggiran, Teater Emka Pentaskan
Salah satu adegan inti dari Pentas Laboratorium Naskah Teater Emka dengan judul "Layung Sore" (inibaru.id/ Sitha Afril)

Laboratorium Naskah (Labnas) merupakan agenda tahunan dari Teater Emka, Fakultas Ilmu Budaya (UNDIP). Seperti biasa, isu yang diangkat di setiap pementasannya selalu disingkronkan dengan isu yang tengah hangat di masyarakat. Seperti tahun ini, isu infrastruktur menjadi tema utama dari pementasan tersebut. Penasaran?

Inibaru.id – Berlangsung di ruang teater Fakultas Ilmu Budaya, UNDIP, pentas Teater Emka tahun ini mengadaptasi naskah “Layung Sore” milik Tentrem Lestari yang dibawakan dengan judul yang sama. Pentas yang diselenggarakan pada tanggal 25 Mei 2019 tersebut cukup meriah dan dipadati oleh para penonton yang antusias dengan pementasan teater tersebut.

Antuasiasme penonton pentas Laboratorium Naskah yang memenuhi Ruang Teater, Fakultas Ilmu Budaya, UNDIP. (inibaru.id/S Afril)

Menurut Rian Destianto selaku Pimpinan Produksi, pementasan kali ini ingin menyinggung soal kompleksitas masyarakat pinggiran yang akan terdampak oleh penggusuran. Dengan tata panggung yang epik disertai iringan musik dari Kesenian Jawa (KJ) UNDIP, pentas Layung Sore berhasil membuat para penonton terbahak sekaligus tegang. Hal ini pun nggak terlepas dari kualitas akting oleh para aktor yang baik dan bisa membawakan lakonnya dengan maksimal.

Bu Sutras dan Yati, dua tokoh yang diperankan oleh aktor dari Teater Emka dengan maksimal. (Inibaru.id/S Afril)

Seperti tokoh Sugani yang dibawakan oleh Faiz Azhari (Mahasiswa Sastra Indonesia/2016). Sugani merupakan antek-antek dari PT. Terus Maju yang ditugaskan untuk membujuk warga agar bersedia meninggalkan pemukimannya dengan iming-iming uang ganti rugi. Penugasan Sugani untuk membujuk warga pun bukan tanpa alasan.  Sugani dinilai memiliki kedekatan khusus dengan warga di pemukiman kumuh tersebut. Yap, Sugani dulu adalah salah satu penghuni di sana dengan profesi tukang ojek.

Saat sedang membujuk Bu Sutras, pemilik kontrakan di wilayah tersebut, muncullah Sulastri. Seorang buruh pabrik yang sepuluh tahun lalu diperkosa oleh Sugani. Konflik kian memuncak saat Sulastri memaki Sugani dan di saat yang bersamaan, Yati, salah seorang penghuni kontrakan yang tengah hamil tua mendapat kabar bahwa suaminya dibekuk polisi akibat kasus pencurian.

“Salah satu tujuan kami mementaskan naskah ini sebenarnya untuk menyinggung isu penggusuran di wilayah Tambakrejo yang tengah menjadi sorotan masyarakat. Bahkan untuk memaksimalkan pementasan ini, kami pun melakukan observasi ke sana,” ungkap Rian kepada inibaru.id.

Saat disinggung soal adegan yang nggak menampilkan unsur penggusuran, Rian pun menjawab dengan diplomatik sebagaimana berikut.

“Kami ingin menguak sisi lain dari penggusuran dan dampak yang diterima oleh masyarakat di sekitar lokasi. Oleh karena itu, kami lebih menonjolkan proses negosiasi, pengiming-imingan dan berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat di sana”.

Wah, menarik sekali ya, Millens! Semoga untuk pementasan-pementasan selanjutnya, Teater Emka dapat lebih ciamik lagi dalam mengemas isu sosial yang ada. Good job, Emka! (Sitha Afril/E05)