Serba-serbi Penerjemahan Karya Sastra yang Harus Kamu Tahu

Serba-serbi Penerjemahan Karya Sastra yang Harus Kamu Tahu
Karya-karya sastra yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Ternyata menerjemahkan karya sastra bukan urusan sembarangan. Mulai dari mengurus hak cipta hingga menerjemahkan karya dari bahasa aslinya turut menentukan hasil terjemahan.

Inibaru.id – Pada 25 Desember 2017, sastrawan dan kritikus sastra Sunlie Thomas Alexander membuat gaduh media sosial Facebook. Sunlie mengutip status Facebook penyair Ahmad Yulden Erwin yang mempermasalahkan penerjemahan buku Kepada Siapa Genta Berdentangan karya Ernest Hemingway. Baik Sunlie maupun Ahmad menganggap penerjemahan itu serampangan, jauh dari gaya sang penulis.

Ketika saya ngobrol dengan Irman Hidayat dan Gita Nanda dari penerbit Labirin Buku, Jumat (6/3), saya sadar bahwa penerjemahan karya sastra bukan perkara sembarangan. Pembuatan karya terjemahan mengalami proses panjang mulai dari penerjemahan hingga mengurus hak terjemahan sebuah karya sastra.

Dua orang yang barusan saya sebut adalah penerjemah. Irman Hidayat pernah menerjemahkan novel As I Lay Dying karya William Faulkner dan Gita Nada menerjemahkan novela Penampungan Orang-Orang Terbuang karya Guillermo Rosales. Novela Rosales tersebut adalah karya yang diterbitkan Labirin Buku, penerbit besutan mereka. Proses penerbitan buku ini butuh sekitar satu tahun yang kebanyakan dipakai untuk berkorespondensi mengurus hak penerjemahan.

“Penulis pasti punya agensi, seperti model. Kami menghubungi agensinya bilang kami tertarik menerjemahkan karya ini dari penulis ini," kata Irman, "Dikasih spesifikasi terbit kapan, mau dijual harga berapa, berapa eksemplarnya sekalian.”

Novela terbitan Labirin Buku dari pengarang asal Kuba. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Novela terbitan Labirin Buku dari pengarang asal Kuba. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Selain itu, Gita dan Irman juga menyatakan bahwa penerjemahan karya melalui bahasa asli karya menjadi penting. Irman dan Gita menganalogikan penerjemahan yang bukan dari bahasa asli seperti ketika saya hendak mendengarkan lagu Bob Dylan, tetapi melalui versi cover. Versi cover pasti telah mengalami pengubahan aransemen.

Dalam penerjemahan novela Penampungan Orang-Orang Terbuang, Gita dan Irman sempat menemukan beberapa kesalahan dari versi terjemahan bahasa Inggris. Hal itu ditemukan setelah mereka membaca novela aslinya yang berbahasa Spanyol. Kesalahan yang ditemukan adalah adanya kalimat yang hilang dan ditambahkan juga struktur kalimat yang diubah-ubah.

Selain menerjemahkan dari bahasa asli, pemahaman atas bahasa tujuan juga menjadi penting. Penerjemahan bukan berarti mengartikan seluruh karya secara harfiah sebab perbedaan bahasa asli dan tujuan secara nggak langsung menuntut perubahan agar pembaca bisa paham. Kesetiaan pada naskah asli, menurut Irman, adalah kesetiaan pada makna.

“Eka Kurniawan pernah memberikan contoh bagus. Di Indonesia kan ada istilah ‘jalan tikus’, kita mengartikannya sebagai jalan pintas. Penerjemah bahasa Inggris yang nggak ngerti bisa mengartikannya secara harfiah, bisa jadi the rat road. Jadi maknanya luput, kan?” tambah Irman.

Bagaimana, kamu tertarik menerjemahkan karya sastra, Millens? (Gregorius Manurung/E05)