Seberapa Optimal Branding Kota Semarang?

Seberapa Optimal <em>Branding</em> Kota Semarang?
Diskusi branding kota. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kota Semarang memiliki branding "Variety of Culture" dalam rangka membentuk citra kotanya. Namun bagi sebagian kalangan hal itu belum begitu tepat. Apa alasannya?

Inibaru.id - Setiap kota pasti memiliki agenda branding untuk membentuk citranya, nggak terkecuali Kota Semarang yang dikenal dengan “Variety of Culture”.

Sayangnya, branding Kota Semarang dinilai belum mampu menjelaskan identitas dan ciri khas kota yang sedang ditonjolkan. Itulah mengapa hadir sebuah forum diskusi yang bertajuk, “Branding Kota, Mau Dibawa Ke Mana?” yang diselenggarakan oleh PEKA Kota di Grobak Art Kos, Bendan Ngisor, Gajahmungkur, Semarang, Kamis (31/10) malam.

“Branding kota seperti “latah”, ingin mengikuti perkembangan zaman tapi nggak memperhatikan lokalitas yang ada di masyarakat. Khususnya di Kota Semarang, selain penggunaan bahasa Inggris, kami mempertanyakan sebenarnya upaya apa yang sedang dilakukan pemerintah dan masyarakat secara luas untuk membentuk citra kota, dalam kaitannya mengejawantahkan branding kota yang dicanangkan,” jelas Rizkiana, pengurus PEKA Kota.

Faktor dan penyebab dari keresahan Rizkiana tadi diungkapkan oleh Mila Karmila, salah satu Dosen Planologi Universitas Sultan Agung (Unisula). Dia mengambil studi kasus dari program kampung tematik sebagaimana yang juga sedang gencar-gencarnya dikembangkan oleh Pemerintah Kota Semarang.

“Tema Kampung Tematik itu seharusnya ditentukan oleh masyarakat sendiri. Sebab yang tahu potensi adalah masyarakat asli. Namun kenyataannya tidak. Seperti di Tanjung Mas, yang masyarakat pesisir namun kok malah diminta untuk membuat hidroponik, kan bersebrangan dengan keseharian mereka,” ungkapnya.

Mila menilai, pemerintah seringkali menggelontorkan program tapi nggak menjaga konsistensinya. Selain itu juga belum sampai memikirkan secara matang, ini sesuai masyarakat atau tidak.

Begitupun apa yang dikatakan oleh Bayu Widagdo. Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Diponegoro ini menganggap bahwa masyarakat belum paham benar bagaimana branding Kota Semarang.

“Masyarakat belum terlalu paham dengan city branding. Mereka masih disibukan dengan kebutuhan dasarnya. Pasalnya juga branding dari setiap tempat tersebut belum mampu mememnuhi kebutuhan dasar masyarakat. Mungkin untuk hal ini permasalahannya adalah di sosialisasi yang kurang optimal,” ucap Bayu.

Meskipun begitu, keduanya pembicara yang berasal dari kalangan akademisi tersebut memberi masukan kepada Kota Semarang.

Mila Karmila menyarankan kalau dalam membuat branding kota harus dijaga konsistensinya. Jangan setiap kali pemimpinnya berubah, citranya jadi ikut berubah pula.

“Dari dulu Semarang bergonta-ganti tagline, dari “Semarang Pesona Asia”, “Semarang Kota Atlas”, sampai sekarang yang berbunyi, “Variety of Culture” ini. Nah, sebaiknya hal tersebut dihindari. Kalau bisa nggak perlu ganti-ganti. Memang butuh proses panjang,” ujarnya.

Sementara bagi Bayu, kalau membuat branding jangan cuma untuk eksistensi belaka atau sekadar landmark. Masyarakat perlu memberi ruh dengan memperhatikan lokalitas yang ada.

“Bikin riset yang matang. Dan sentuh masyarakat. Agar bisa mengetahui, sebetulnya yang dibutuhkan masyarat itu apa. Sehingga, masyarakat pun bisa punya rasa memiliki branding tersebut,” jelasnya.

Hmm, jadi ternyata branding Kota Semarang ini belum matang juga ya, Millens. Masih banyak yang perlu diperbaiki lagi. Semoga cepat berbenah ya. (Audrian F/E05)