Resahkan Perilaku Masyarakat dalam Sikapi Kekerasan, Kronik Film Media Bahas Kekerasan Sebagai Seni

Resahkan Perilaku Masyarakat dalam Sikapi Kekerasan, Kronik Film Media Bahas Kekerasan Sebagai Seni
Pemutaran film Funny Games oleh Kronik Film Media. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kronik Film Media merasa terjadi pergeseran sikap masyarakat dalam menyikapi kekerasan. Hal yang seharusnya terasa getir dan dianggap amoral justru makin lazim diekspos. Nah, dari keresahan itu, Kronik Film Media mencoba membahasnya dengan menggunakan objek dua film yang berjudul Reservoir Dogs karya Quentin Tarantino dan Funny Games oleh Michaelo Hanneke.

Inibaru.id - Film yang bercerita tentang kekerasan sepertinya sudah sangat lazim, ya. Meskipun sebagian besar masyarakat (hanya) memandang dan menilainya sebagai tema yang tercela dan amoral, tapi bagi para film maker tema kekerasan tetap dapat dikemas apik selayaknya sebuah seni. Nggak heran jika akhirnya film-film tersebut memiliki panonton.

Nah, rupanya laris manisnya film bertema kekerasan di tengah masyarakat cukup menarik bagi Kronik Film Media, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. UKM yang bergerak di dunia perfilman ini menggelar agenda rutin ”Kronik Nonton Bareng”. Adapun tema yang diangkat adalah “Kekerasan Sebagai Seni dalam Film”.

Acara yang dilaksanakan di Ruang UKM Kronik Media pada Jumat-Sabtu (23-24/8) malam tersebut tampaknya nggak terlalu menarik minat mahasiswa di luar anggota UKM. Pembahasan pun berlangsung padat.

Bagi Timothy Stevano, ketua Kronik Film Media, tema tersebut berangkat dari pertanyaan apakah kekerasan di dalam film berdampak pada kekerasan di dunia nyata.

Pembahasan mengenai kekerasan sebagai seni dalam sinema. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dia berpendapat, kekerasan di masa kini dirasa seperti sesuatu yang biasa. Nggak punya kesan getir atau mencekam. Misalnya ada suatu peristiwa, orang-orang nggak hendak menolong tapi malah merekamnya. Ditambah lagi banyaknya video-video kekerasan berseliweran di sosial media. Bukannya dikecam, video semacam ini justru mendapat support seperti like atau re-tweet penonton. Timothy Stevano yang juga mahasiswa psikologi menengarai hal tersebut dipengaruhi apa yang orang tonton.

Maka, sebagai pembahasan, Kronik Media Film, menggunakan film Reservoir Dogs (1992) milik Quentin Tarantino dan Funny Games (2007) oleh Michael Hanneke.

Dalam film Reservoir Dogs, diceritakan ada sebuah tim yang dibentuk oleh bos mafia Joe Cabot (Lawrence Tierney) dan anaknya; Eddie Cabot (Chris Penn) untuk menjalankan misi perampokan bank. Tim bentukan tersebut berjumlah 6 orang.

Cerita didominasi pengkhianatan dalam kelompok tersebut saat menjalankan aksi perampokan. Di sini penonton harus terbelalak menyaksikan adegan yang terbilang sadis dan vulgar. Menembak dengan brutal dan memotong telinga misalnya. Pokoknya kekerasan di film ini benar-benar digambarkan secara gamblang tanpa tedheng aling-aling, Millens.

“Bagi Quentin Tarantino kekerasan adalah seni. Padahal kekerasan harusnya dipandang miris. Namun Quentin sebaliknya. Meski sempat menuai kritik dari kelompok antikekerasan di sana, tapi Quenting tidak menyerah dan akhirnya bisa besar seperti sekarang,” ujar Timothy.

Sementara Hanneke adalah antitesis bagi Quentin Tarantino. Dia heran kenapa film Quentin Tarantino yang menggambarkan kekerasan secara nggak bertanggung jawab disukai oleh banyak orang, seperti Pulp Fiction juga salah satunya. Maka untuk melawan itu, dia membuat film Funny Games.

Funny Games bercerita tentang sebuah keluarga yang diteror oleh dua orang pria. Film ini sebetulnya adalah re-make dari versi awalnya di tahun 1997. Sama-sama mengambil angle kekerasan seperti Tarantino, pengemasan cerita  dibuat beda oleh Hanneke.

“Kekerasan yang dihadirkan di Funny Games itu stres, depresi, dan nggak nyaman. Karena dia berusaha menyeret para penonton tentang bagaimana kekerasan yang sesungguhnya atau yang bertanggung jawab. Bahkan kalau mau dicermati, semua adegan kekerasan dibikin secara off screen. Atau disembunyikan,” pungkas Timothy

Timothy juga menambahkan kalau, yang mau ditekankan melalui dua pemutaran ini adalah, untuk mengetahui berbagai sudut pandang mengenai kekerasan.

“Intinya agar teman-teman Kronik kaya akan referensi film. Bukan bermaksud menggiring Tarantino yang bener atau Hanneke yang salah, seperti itu,” tandas Timothy.

Kalau Millens suka juga nggak nonton film bertema kekerasan? (Audrian F/E05)