Representasi Seni Rupa Kontemporer Semarang dalam Pameran “Kertas Kokoh”

Sejumlah 253 karya terpasang di Gallery B9 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes). Karya-karya tersebut merupakan karya pelukis asal Semarang Kokoh Nugroho, yang berlangsung dari tanggal 2-17 Oktober 2019.

Representasi Seni Rupa Kontemporer Semarang dalam Pameran “Kertas Kokoh”
The Young Van Gogh karya Kokoh Nugroho. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Inibaru.id –  Percobaan Kokoh Nugroho dalam menampilan karya lukisannya, nyatanya mendapat sambutan manis dari Oei Hong Djien (OHD), kolektor kenamaan Indonesia. Melalui pameran bertajuk “Kertas Kokoh”, dia mencoba membuat terobosan-terobosan. Kokoh membuat terobosan dari segi perupaan hingga media kertas yang dianggap media kelas dua setelah kanvas.

"Kalau kita bandingkan karya-karya maestro Hidayat pada waktu itu 20 tahun lalu yang dianggap absurd. Ini Kokoh Nugroho jauh lebih absurd. Sekarang bisa ditampilkan di sini. Bahkan diapresiasi oleh banyak orang, kemajuan yang luar biasa untuk Semarang," kata OHD yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis patologi anatomi ini.

Salah satu pengunjung pameran mengapresiasi karya Kokoh Nugroho. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

OHD berpendapat, selama ini media kertas sendiri kurang mendapat apresiasi. Harganya yang murah pun cenderung kurang dihargai. Padahal basis lukisan adalah kertas. Dari kertas seseorang bisa melihat garis-garis, orisinalitas, karakter, dan aslinya seniman. “Semua seniman memulai dari membuat sketsa-sketsa semua dilakukan di atas kertas,” tambahnya.

Wahyudin selaku kurator pameran menceritakan karya Kokoh nggak terlepas dari hobinya yang "gatal" untuk mencoret-coret di atas kertas. Nggak dinyana jumlah kertas itu ratusan. Lalu Wahyudin berinisiatif untuk memamerkan karya-karya tersebut dalam satu platform tertentu.

"Kertas sebagaimana yang sudah disampaikan merupakan eksistensial Kokoh dalam berkarya. Sehingga kalaupun saya menyediakan kanvas, hari ini mungkin dia tidak berpameran juga," tuturnya.

Kertas bekas juga nggak luput menjadi media lukis Kokoh. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Wahyudin menilai, karya seni rupa di Jawa Tengah memang nggak sedinamis yang ada di kota-kota lain, Millens. Terutama yang ada di Yogyakarta. Kurator asal Kota Gudeg ini mengapresiasi Kokoh yang masih tetap setia di tanah yang menjadi kampung halamannya.

"Yang menarik dari Kokoh adalah dia masih mau bersikukuh, untuk berkokoh-kokoh tinggal dan berkarya di Semarang. Tidak pindah ke tempat yang lain. Saya kira, itu satu poin yang menarik dari Kokoh Nugroho. Itu bisa menjadi representasi yang memikat bagi rupawan yang ada di Semarang," katanya.

Lukisan-lukisan ini berkontribusi bagi dunia seni rupa Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Pemilihan tempat pameran di kampus pun bukan tanpa alasan. Ini menjadi satu poin inspirasi bagi kawan-kawan seni rupa yang berasal dari kampus-kampus. Lebih jauh, bagaimana lukisan seni rupa Semarang berpotensi dalam kontribusi seni rupa kontemporer. Atau paling nggak berkontribusi dalam kampus sendiri.

“Kokoh orang pertama yang memanfaatkan galeri B9 selain mahasiswa,” komentar Patmo perwakilan dari Seni Rupa Unnes.

Menarik ya, Millens. Ternyata berkarya nggak melulu harus dari bahan-bahan mahal. Seperti Kokoh, bahkan berbagai macam kertas pun dapat dia ubah menjadi karya yang indah dan memiliki nilai seni tinggi. Salut! (Isma Swastiningrum/E05)