Rasa Bangga dalam Penat Para Peserta Semarang Night Carnival 2019

Rasa Bangga dalam Penat Para Peserta Semarang Night Carnival 2019
Perwakilan pawai budaya dari Magelang tampak gembira saat mengikuti "Semarang Night Carnival". (Inibaru.id/ Audrian F)

Para peserta "Semarang Night Carnival" memang dituntut untuk dapat menunjukan kelebihan yang ada di daerahnya masing-masing. Namun di tengah-tengah keriuhan itu, ada suka dan duka yang dialami oleh peserta.

Inibaru.id - Menjadi perwakilan dari untuk menjadi bagian dari ajang besar tentulah membanggakan. Seperti yang mereka rasakan saat mengikuti "Pawai Budaya Apeksi 2019" dalam Semarang Night Carnival, Rabu (3/7). Rizqia Intan misalnya.

Gadis berusia 18 tahun yang juga sedang berjuang mendaftar ke perguruan tinggi ini memakai kostum karnaval  bertemakan wayang. Rizqia mengaku sebuah kehormatan untuk memakai pakaian karnaval meski sudah kerap ikut acara karnaval di Semarang tepatnya sejak 2017.

Rizqia Intan, sudah sering mengikuti karnaval yang diselenggarakan oleh Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tahun ini semakin istimewa bagi Rizqia. Pasalnya, dia menjadi pendamping Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat  menyampaikan sambutan.

“Yang paling bikin saya senang karena bisa ketemu pak Hendi (Hendrar Prihadi, Walikota Semarang) dan bisa ikut meramaikan acara tahunan di Kota Semarang,” ucapnya.

Salah satu pakaian karnaval yang tampak rumit dalam desainnya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meski harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mekap dan mengenakan kostum, semangat Rizqia nggak luntur. Yang menarik, kali ini dia mendapat bantuan dana. Tentu hal ini membuatnya semringah. “Biasanya saya mewakili sekolah atau juga pernah diri sendiri. Biaya pun juga kadang sendiri, namun kalau karnaval kali ini dibantu Dinas,” kata Rizqia yang ditemui sebelum acara “Pawai Budaya Apeksi 2019” berlangsung.

Burhan, ayah Indah mengelap keringat putrinya yang kepanasan saat mengikuti pawai. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sementara, Indah, perwakilan dari Palembang tampak kelelahan saat berada di tengah pawai. Kala itu situasi memang sangat ramai. Burhan, ayahnya tampak beberapa kali mengusap keringat yang mengucur dari dahi buah hatinya tersebut.

“Anak saya bawa Jembatan Ampera, jadi berat,” kelakar Burhan saat merapikan topi anaknya. Pakaian karnaval yang dikenakan Indah memang mengusung kebudayaan Palembang. Karena itu, ada sejenis miniatur Jembatan Ampera di dadanya.

Namun Burhan menampik kalau pakaian karnaval itu nggak seberat yang dibayangkan. “Kalau beratnya sih tidak. Cuma kan ini karena menunggu lama sambil berdiri dan banyak orang jadi panas mungkin,” tandas Burhan.

“Selain itu kami bangga bisa jadi bagian Pemerintah Kota Palembang dalam pawai ini. Senang bisa lihat-lihat Kota Semarang,” tutup Burhan yang kebetulan juga berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Palembang.

Salah seorang peserta tengah minum saat pawai. (Inibaru.id/ Audrian F)

Beda lagi dengan Intan Tri Retnowati. Mahasiswi asal Jambi yang kebetulan menemupuh kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Dia memang khusus dihimpun oleh Pemerintah Kota Jambi untuk berpartisipasi.

“Capek sekali berdiri lama karena menunggu lamanya nomor urut karnaval. Tapi semua jadi terbayarkan karena bertemu sesama teman-teman Jambi,” ucap Intan yang juga mahasiswa jurusan Sastra Indonesia tersebut.

Jadi seperti itu ya, Millens. Meski mereka harus bermandi keringat dan kelelahan, rasa bangga telah menjadi bagian dari acara ini nggak akan terbeli. By the way kamu kemarin ikut nonton nggak? (Audrian F/E05)