Pentingnya Sebuah Kota Memiliki Penerbit Buku

Pentingnya Sebuah Kota Memiliki Penerbit Buku
Beberapa buku baru terbitan Beruang, penerbit asal Semarang. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Ternyata penerbit bukan hanya penting untuk menerbitkan karya, tetapi juga untuk menjadi bagian dalam perkembangan ekosistem literasi sebuah kota.

Inibaru.id – Kalau dilihat-lihat lagi, ternyata banyaknya penerbit indie di Indonesia itu terpusat di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Jabodetabek, dan Bandung. Dari situ saya penasaran, penting nggak sih, sebuah kota memiliki penerbitnya sendiri?

Pada Selasa (24/3), saya bertemu dan berbincang dengan Widyanuari Eko Putra alias Wiwid dari Penerbit Beruang. Wiwid adalah salah satu orang lama di dunia literasi Semarang. Sejak 2007 dia berkomunitas di kampusnya dan mulai menekuni dunia literasi di Semarang. Dalam pengamatannya, sebuah ekosistem literasi yang sehat memang memerlukan penerbit. Penerbit mengambil peran menjadi wadah dari karya-karya yang diciptakan penulis di luar peran rubrik sastra di media massa seperti koran atau majalah.

“Kalau nggak ada penerbit, terus karyanya dikemanakan? Masak mau dilempar ke kota lain?” ucap Wiwid.

Wiwid bersama istrinya mengelola Penerbit Beruang dari rumah. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Wiwid bersama istrinya mengelola Penerbit Beruang dari rumah. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Semarang adalah salah satu contoh kota yang pernah hidup tanpa penerbit buku yang ideal. Banyak penulis asal Semarang yang akhirnya menerbitkan karyanya di luar Semarang – bahkan sampai ikut hijrah ke luar kota.

Yusi Avianto Pareanom, AS Laksana, Triyanto Triwikromo, dan Martin Suryajaya adalah beberapa contoh dari penulis yang menghijrahkan karyanya ke luar Semarang. Sekarang, nama-nama sudah menjadi nama besar di dunia literasi dan sastra di Indonesia.

Pada saat yang sama, jika sebuah penerbit yang berbasis di sebuah kota, dia menjadi lebih dekat dengan isu dan permasalahan literasi yang ada di kotanya. Kedekatan itu akan membuat interaksi yang kuat dengan para pelaku sastra dan penerbit. Penerbit juga dapat menjadi lebih responsif atas isu dan permasalahan yang ada di kota tersebut.

Itulah mengapa sebuah penerbit lebih baik jika memiliki kedekatan dengan komunitas dan penggiat literasi lain di kotanya, bukan sekadar berbasis di kota tersebut. Dari kedekatan dengan komunitas, penerbit bisa mengetahui siapa penulis-penulis baru yang muncul di sana.

“Ini harus ada yang ngopeni,” ucap Wiwid.

Kamu mau mencoba bikin penerbitan, Millens? (Gregorius Manurung/E05)