Grasak Gupolo Kebon, Tarian Para Pelindung Kebun

Grasak Gupolo Kebon, Tarian Para Pelindung Kebun
Para penari Grasak Gupolo Kebon yang berpenampilan menyeramkan tapi membawa pesan baik. (Putri Rachmawati/Inibaru.id)

Grasak Gupolo Kebon menjadi tarian khas dari Dusun Kebonkliwon. Nggak hanya tarian dan penampilan penari yang unik, Grasak Gupolo Kebon juga memiliki filosofi yang menarik.

Inibaru.id – Anak-anak kecil memasuki panggung satu per satu. Sekujur tubuh berwarna putih, sekitar mata berwarna hitam, ada yang hanya memakai popok, ada pula yang memakai kain jarik. Mereka mulai melakukan gerakan-gerakan secara serentak. Tuyul!

Penampilan anak-anak di atas panggung tersebut memang mirip tuyul, tapi bukan. Mereka adalah para penari “Grasak Gupolo Kebon”.

Grasak Gupolo Kebon merupakan tarian khas dari Dusun Kebonkliwon, Desa Kebon Rejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tarian yang ditampilkan dalam Festival Lima Gunung (FLG) beberapa waktu lalu tersebut juga memiliki filosofi yang unik, Millens.

Dari namanya, “Gupolo” artinya pelindung, sedangkan “Kebon” merupakan kebun yang memiliki makna bahwa para penari tersebut menyimbolkan para pelindung kebun, karena Dusun Kebonkliwon memang dikenal sebagai tempat budidaya bibit pelbagai tanaman.

Para penari Grasak Gupolo Kebon yang memiliki penampilan seperti buto ijo. (Putri Rachmawati/Inibaru.id)

Nggak hanya para penari dengan dandanan seperti tuyul, ada pula penari dengan tampilan seperti raksasa buto ijo. Menurut ketua komunitas Kebon Kliwon, Khoirul, penampilan tuyul dan buto ijo itu merupakan simbol para pelindung kebun yang meski memiliki penampilan menyeramkan, mereka mengemban misi yang baik.

“Jadi kalau lihat orang itu jangan hanya lihat dari luarnya saja. Meski tampangnya seram, hati mereka baik,” ujarnya saat ditemui Inibaru.id di belakang panggung.

Mencintai Tanaman

Sebelum penampilan Grasak Gupolo Kebon, Padmasari lebih dulu tampil dengan properti berbentuk daun. Penampilan itu dibawakan para penari perempuan yang menggambarkan "dedaunan", menyimbolkan bibit-bibit tanaman yang harus dijaga dan dirawat agar tumbuh.

Lebih dari itu, Komunitas Kebon Kliwon juga mengampanyekan kepada warga untuk lebih mencintai tanaman lewat kesenian-kesenian yang mereka bawakan. Tarian-tarian tersebut pun selalu menjadi tarian khas untuk menyambut tamu-tamu yang mengunjungi Dusun Kebonkliwon.

Nggak hanya memberikan pertunjukan tari, Komunitas Kebon Kliwon juga membagikan sekitar 500 bibit yang terdiri atas aneka macam bibit tanaman pada saat puncak FLG 2018 yang berlangsung pada 12 Agustus lalu. Ini bertujuan untuk meningkatkan budaya menanam pada masyarakat. (Putri Rachmawati/E03)