Pementasan Kreteg Mberok Gambarkan Wisata Lendir di Semarang dengan Jenaka

Pementasan <em>Kreteg Mberok</em> Gambarkan Wisata Lendir di Semarang dengan Jenaka
Adegan ketika salah seorang laki-laki menawar harga jasa seorang wanita malam dalam pementasan teater dengan lakon Kreteg Mberok. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Dalam pementasan Kreteg Mberok yang ditampilkan dalam pembukaan Tengok Bustaman ke-IV ini menyajikan gambaran jembatan Mberok yang berada di kawasan Kota Lama ini pada masa kini.

Inibaru.id - Cerita  tentang jembatan mberok yang sudah dikenal banyak orang ini diangkat dalam pementasan teater yang ditampilkan dalam pembukaan Tengok Bustaman ke-IV yang diselenggarakan pada Sabtu malam (20/4). Dengan lakon “Kreteg Mberok”, pentas dibawakan dengan apik oleh teater Lingkar Semarang.

Penampilan tari turut dibawakan di tengah-tengah pementasan teater. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pementasan dimulai dengan masuknya beberapa pemain yang membawakan lagu kenangan dan juga diselingi dengan lagu nasional. Nggak ayal, penonton ikut hanyut dan turut menyanyikan lagu bersama-sama.

Setelah penonton dibuat hanyut, masuklah pada inti cerita. Dikisahkan seorang PSK yang sedang duduk di bangku taman tiba-tiba dihampiri oleh seorang calon pelanggan. Dia akrab dipanggil Mawar. Nggak hanya satu pelanggan yang ingin memakai jasanya, ternyata  yang satu ini memiliki beberapa pelanggan setia.

Di tengah cerita, Mawar nggak lagi mendapat pelanggan seramai biasanya. Akhirnya sang Mami memutuskan untuk membawanya ke seorang dukun. Setelah ritual selesai, Mawar kembali menjadi rebutan antarpelangggannya. Di akhir cerita datanglah seorang kyai yang mencoba menyadarkan Mawar agar kembali ke jalan yang benar. Dengan dagelan khas yang selalu berhasil membuat penonton tertawa, pentas teater ini mampu membius penontonnya untuk menyimak jalan cerita hingga akhir.

Adegan penutup teater yaitu datangnya seorang kyai yang membujuk si wanita malam untuk kembali ke jalan yang benar. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Cerita yang dibawakan dalam pementasan teater kali ini memang nggak terlalu rumit. Namun dengan cerita yang digambarkan persis dengan kehidupan sehari-hari membuat penonton betah. Apalagi tingkah pemain yang mampu mengocok perut penonton membuat ogah beranjak dari tempat pementasan.

Pementasan teater semacam ini menjadi agenda rutin dalam acara Tengok Bustaman yang digelar setiap dua tahun di Kampung Bustaman. Eits, Millens sudah pernah ke Kampung Bustaman belum? (Zulfa Anisah/E05)