Pandemi, Pembuat Film Indie Semarang Pamer Karya Lewat Zoom

Pandemi, Pembuat Film Indie Semarang Pamer Karya Lewat Zoom
Acara “Julat Film Indie Indonesia di Kota Semarang”. (Dok. Panitia)

Pandemi memang membatasi banyak hal termasuk kegiatan kolektif para pencinta film. Maka dari itu, mau nggak mau mereka bikin acara lewat daring. Akhirnya terciptalah acara nobar dan diskusi film via zoom yang bertajuk “Julat Film Indie Indonesia di Kota Semarang”.

Inibaru.id - Para penggila dan pegiat film mungkin nggak akan nyangka jika kegiatannya dalam berkolektif bakal berpindah platform lewat zoom. Hal itu mungkin seperti yang terlihat pada acara screening film yang bertajuk “Julat Film Indie Indonesia di Kota Semarang”.

Acara yang diselenggarakan oleh Praya.id ini bekerja sama dengan JAHPD Office sebagai rumah produksi film yang berbasis di Semarang. Nggak ada layar atau dinding putih sebagai penampil film seperti acara-acara nobar sebelumnya. Yang ada hanya suara moderator, film pilihan yang sesekali diputar, dan seliweran pertanyaan di kolom chat muncul. Seperti itulah gambaran acara ini. 

Film-film yang diputar itu merupakan bikinan anak Semarang yang mendapat prestasi di beberapa ajang. Acara ini juga terlaksana berkat Sinecovi sebagai kelompok yang fokus pada bidang ekshibis dan apresiasi film di Kota Semarang.

Film The Secret Club
Of Sinners. (Dok. Panitia)<br>
Film The Secret Club Of Sinners. (Dok. Panitia)

Distributor JAPHD Office, Petrus mengungkapkan alasan diadakannya acara ini. Menurutnya film indi di Kota Semarang sedang berkembang pesat. Hal itu dibuktikan dengan jumlah produksi film pendek. Jumlah penontonnya pun meningkat.

“Ada acara ini juga agar masyarakat, khususnya di Semarang, menonton film pendek sebagai pilihan tontonan alternatif,” ujarnya pada Rabu (27/1/2021).

Ada 3 film yang ditayangkan, yakni berjudul Berlabuh, The Secret Club Of Sinners, dan Terciduk. Dua judul pertama merupakan bikinan Haris Yuliyanto dan yang terakhir milik Alan Dharmasaputra Wijaya.

Pemutaran pertama adalah Berlabuh. Film ini menceritakan tentang kisah hidup seorang awak kapal. Isinya tentang bagaimana mereka menjalani kehidupan, suka-duka, dan perjuangan untuk membahagiakan orang tua.

Berlabuh berhasil masuk dalam Official Selection  Indonesia Film Splash di JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL 2020 (JAFF 2020). Film ini bisa dibilang dekat dengan kehidupan Haris Yulianto yang punya bapak seorang pelaut.

“Itulah yang mendasari saya untuk membuat film ini,” ungkap Haris. 

Film kedua yakni The Secret Club Of Sinners, bercerita tentang seorang warga rusunawa yang sedang kesulitan ekonomi karena terdampak pandemi. Dia berusaha survive namun cara yang ditempuh kurang sportif. Ditampilkan juga fragmen-fragmen yang menandakan kalau masyarakat Indonesia kelas terkecil pun rentan melakukan korupsi.

Nah, dari sedikit ringkasan cerita tadi, film ini masuk ke dalam 10 Besar Kompetisi Ide Cerita dalam Anti Corruption Film Festival 2020. Film ini memotret praktik korupsi yang terpaksa dilakukan oleh masyarakat kelas bawah sebagai kritik atas kerja pemerintah.

Film animasi Terciduk. (Dok. Panitia)<br>
Film animasi Terciduk. (Dok. Panitia)

Harapan Baru Perfilman Semarang

Sementara untuk film terakhir yakni Terciduk merupakan partisipan pada ajang yang sama dengan The Secret Club Of Sinners. Bedanya film ini menggunakan konsep animasi dan masuk ke dalam BEST ACFEST MOVIE AWARD kategori Animasi.

Alan Dharmasaputra Wijaya menuturkan jika membuat film animasi nggak mudah. Lebih membutuhkan proses yang lama sekalipun idenya sederhana. Film ini bercerita tentang sekelompok penjahat dengan berbagai karakter hendak merampok sebuah kantor.

Alan kemudian juga menjelaskan pembuatan film ini. Dia memulai dengan membuat sketsa yang menyesuaikan naskah cerita. Lalu dengan menggunakan berbagai aplikasi untuk menggerakkan sketsa.

Selain karena sudah terbiasa dan background saya adalah ilustrator, jadi lebih menarik buat saya untuk mengeksplore di bidang animasi,” jelas Alan. Karya Alan ini dinilai juga membuat dunia perfilman Kota Semarang menjadi lebih variatif.

Terselenggaranya acara ini menjadi awal yang baik untuk pertumbuhan dunia perfilman independen di Kota Semarang serta membangun ekosistem perfilman yang ideal. Menutup diskusi Haris Yulianto memanjatkan harapan agar temperatur perfilman Semarang terus hangat.

“Semoga acara ini dapat membangkitkan semangat para pembuat film independen yang ada di Kota Semarang”, pungkasnya.

Semoga harapan Haris terwujud ya, Millens. Buat kamu yang gabut mau ngapain, nonton film pendek saja! (Audrian F/E05)