Nyanyian Bulan Sepotong untuk Sang Guru

Nyanyian Bulan Sepotong untuk Sang Guru
Salah satu adegan lakon Nyanyian Bulan Sepotong. (Inibaru.id/ Audrian F)

Nyanyian Bulan Sepotong menggambarkan kehidupan masyarakat kalangan bawah dan permasalahan yang melingkupinya. Klise tapi nyata.

Inibaru.id - Jalimun dan Dorsi sedang mengumbar kemesraan hingga kemudian datang Rohaya, seorang pekerja seks komersial waria. Rohaya mencemooh janji-janji palsu yang diungkapkan oleh Jalimun padanya. "Semua lelaki itu rakus!" jerit Rohaya.

Sarjito dan Marzuki sedang berusaha memecahkan ramalan togel. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di sisi lain ada Sarjito dan Marzuki, dua lelaki kampung yang berusaha menebak ramalan togel. Urusan menebak angka togel, mereka mengandalkan Lek No, orang gila yang dipercaya bisa meramal masa depan.

Saat mereka berdua sedang bercakap-cakap dengan Lek No, terdengar teriakan dari kegelapan. Ternyata itu adalah suara Rohaya yang dicopet oleh pelanggannya. Marzuki dan Sarjito bergegas menangkap pelaku tapi nahas, justru mereka berdualah yang dianggap sebagai copet.

Pemasalahan seputar ekonomi, percintaan, dan derita yang dialami masyarakat kalangan bawah saling berkelindan dalam lakon tersebut. Ditambah pula dengan alunan suara dari WMS yang mengaransemen salah satu penggalan percakapan dialog Jalimun dan Dorsi. Pertunjukan ditutup dengan pembacaan puisi oleh Rizky Riawan dari KMSI Undip yang menggunakan puisi Prof. Agus Maladi dengan judul Sajak untuk Generasiku.

“Seluruh rangkaian pertunjukan ini, dari lakon teater, musikalisasi puisi hingga pembacaan puisi, adalah cara kami merayakan hasil dari karya-karya beliau selama ini. Seperti nama acaranya: sebuah persembahan,” kata Ashyar, anggota Ikatan Alumni FIB Undip. “Prof. Agus boleh berpulang, namun ruh dan jiwanya akan selalu mengalir dalam jiwa kami,” tutupnya.

 

Sejumlah alumni dan dosen FIB Undip menceritakan momen saat bersama Prof. Agus Maladi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Acara yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna (GSG) FIB Undip ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni (IKA) FIB Undip. Dihadiri oleh sejumlah alumni, dosen, dan teman almarhum saat sedang berkegiatan di dunia seni salah satunya penyair Basa Basuki.

Prof. Agus Maladi sendiri merupakan tokoh penting baik di lingkup Universitas Diponegoro maupun di jagat kesenian Kota Semarang. Selain guru besar di Undip, dia juga pernah menjabat sebagai Dekan FIB Undip pada medio 2010-2015. Di dunia kesenian pun ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) juga pernah diembannya.

Dia menjadi sosok penting di kalangan alumni yang pada beberapa tahun terakhir sudah mentas dari bangku kuliahnya. Rifka, ketua acara mengatakan, Prof Agus Maladi sebagai role model dalam berkarya. Nggak berlebihan jika gelar Sang Guru dialamatkan padanya. “Beliau selalu berpesan kepada kami untuk tidak berhenti berkarya,” ungkap Rifka yang kini juga menjadi dosen Sastra Inggris di FIB Undip.

Hmm, benar juga ya, Millens. Sudah seharusnya manusia terus berkarya agar tetap bermakna. (Audrian F/E05)