Musikalisasi Puisi, Sejumlah Puisi Ini Jadi Lagu yang Begitu Nyaman di Telinga

Rangkaian kata sarat makna atau disebut puisi kerap menjadi inspirasi lirik lagu. Tak jarang, puisi itu dimusikalisasi hingga menjadi lagu yang enak didengar dan membekas di hati.

Musikalisasi Puisi, Sejumlah Puisi Ini Jadi Lagu yang Begitu Nyaman di Telinga
Banda Neira, salah satu grup band yang cukup banyak menjadikan puisi penyair legendaris untuk lagu-lagunya. (Genmuda)

Inibaru.id - Konon, puisi adalah ekspresi yang sederhana dari perasaan yang rumit. Entah siapa yang mengatakannya, tapi dalam banyak hal, itu benar adanya. Puisi juga membuat kata-kata menjadi indah didengar, dirasa, atau bahkan diungkapkan.

Tak sedikit puisi yang kemudian dimusikalisasi menjadi lagu. Sejumlah musikus Tanah Air bahkan menggunakan puisi-puisi legendaris dari penyair kenamaan Indonesia dalam lirik lagunya.

Nah, memperingati Hari Puisi Sedunia yang diperingati tiap 21 Maret, berikut ini merupakan sejumlah lagu yang rupanya diambil dari puisi. Apa saja?

"Derai-Derai Cemara" karya Chairil Anwar

Puisi "Derai-Derai Cemara" adalah karya penyair kondang berjuluk Sang Binatang Jalang, Chairil Anwar. Puisi itu belakangan "dinyanyikan" oleh Banda Neira, band yang digawangi Rara Sekar dan Ananda Badudu.

Banda Neira dalam salah satu aksinya. (Instagram/bandaneira_official)

Selain "Derai-Derai Cemara", band yang telah memutuskan untuk bubaran itu juga memusikalisasi puisi Chairil yang lain, yakni "Patah Tumbuh, Hilang Beganti", yang judulnya berganti menjadi "Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti".

"Rindu" karya Subagio Sastrowardoyo

Masih dengan Banda Neira, selain akrab dengan puisi Chairil, band yang telah menelurkan dua album tersebut juga pernah memusikalisasi puisi karya Subagio Sastrowardoyo. Salah satu puisinya yang berjudul "Rindu" dijadikan lagu dengan judul yang sama.

"Tuhan" karya Taufiq Ismail

Puisi legendaris ini sekurangnya pernah dijadikan lagu oleh dua musikus, yakni Bimbo dan Gigi. Keduanya sukses dalam membawakan musikalisasi puisi tersebut. Selain "Tuhan", puisi "Sajadah Panjang" dan "Ada Anak Bertanya pada Bapaknya" juga pernah dibawakan dua pemusik itu.

"Kebenaran Akan Terus Hidup" karya Widji Thukul

Dimusikalisasi oleh sang anak, Fajar Merah, puisi karya Widji Thukul yang penuh kritik itu terdengar lebih familiar di telinga millenials kini. Selain "Kebenaran Akan Terus Hidup", Fajar juga menyanyikan puisi karya sang kakak, Fitri Nganthi Wani, yang berjudul "Kau Berhasil Jadi Peluru".

"Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono

Bicara tentang musikalisasi puisi, nggak lengkap rasanya kalau tak menyertakan Sapardi Djoko Damono (SDD). Puisi-puisinya memang bikin baper. Maka, nggak heran kalau banyak yang berusaha mengapresiasinya menjadi lagu, salah satunya puisi "Aku Ingin" yang begitu fenomenal.

Ari dan Reda dalam aksi panggungnya. (Priskasiagian)

Aku Ingin kali pertama dimusikalisasi oleh Ags Arya Dipayana, lalu diaransemen ulang Dwiki Dharmawan untuk soundtrack film Cinta dalam Sepotong Roti (1991) yang dibawakan oleh Ratna Octaviani. Ari-Reda dan Ananda Sukarlan juga memusikali puisi tersebut, plus puisi-puisi SDD lainnya.

(Baca Juga: Hari Puisi Sedunia, Inilah Puisi-Puisi dalam Film Tanah Air yang Menyentuh Hati)

Gimana, sudah pernah mendengar lagu-lagu itu? Kalau belum, coba masukin ke playlist, ya. Yeah, barangkali kamu pengin memusikalisasi puisi juga? Ha-ha. (IB20/E03)