Sore Tenggelam Awali Bermusik dari Kampus ke Kampus

Berawal dari hobi, solois “Sore Tenggelam” punya cara unik nih untuk merefleksikan dan mengobati kesedihan, yaitu dengan lagu. Seperti apa?

Sore Tenggelam Awali Bermusik dari Kampus ke Kampus
Penampilan Sore Tenggelam di Semarang Contemporary Art Gallery. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

Inibaru.id – Ignatius Desty Hari Adi Kristianto menjadikan lagu sebagai tempat curahan hatinya. Berangkat dari situlah lelaki yang akrab disapa Tius ini membuat project "Sore Tenggelam" pada 27 Juni 2017. Nama yang dicetuskannya di Semarang ini kemudian menjadi idenitas dirinya dalam bermusik hingga sekarang.

Banyak bercerita tentang balada keseharian yang didominasi kesedihan, Sore Tenggelam sejauh ini telah menelurkan dua singgel, yakni “Jumat Pagi” dan “Koma”. Ini belum termasuk lagu-lagu yang banyak dinyanyikannya dari panggung ke panggung seperti “Perempuan” dan Sore Senja Hujan" yang jadi andalannya. Sebagian lagu itu terinsprasi dari pengalaman pribadinya atau orang-orang di sekitarnya.

Kedekatan Tius dengan musik-musik Jason Ranti yang sederhana dan menceritakan kehidupan sehari-hari cukup memengaruhi cita rasa Sore Tenggelam dalam bermusik, yakni genre folk. Namun begitu, Tius menolak anggapan bahwa Sore Tenggelam beraliran demikian.

"Saya pengin Sore Tenggelam bisa menggarap genre saja," ungkap mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro itu kepada Inibaru.id belum lama ini.

Lalu, kenapa Sore Tenggelam? Tius mengatakan, nama itu mempunyai makna yang cukup sepesial. Berdasarkan ajaran Shinto di Jepang, "sore" merupakan perlambang waktu yang tepat untuk menemukan hal-hal yang nggak disadari atau semacam waktu yang tepat untuk merefleksikan diri. Sementara, "tenggelam" dimaknainya sebagai keadaan masuk ke dalam jurang kesengsaraan atau kesedihan.

“Jadi, ini sebanding dengan apa yang saya inginkan, yaitu bisa meluapkan kesedihan dan mengobatinya bersama melalui lagu. Begitulah cara saya untuk berkarya dalam bidang musik,” terangnya.

Panggung Kampus 

Mengawali karier sebagai pemusik indie, Sore Tenggelam manggung dari kampus ke kampus, khususnya di Semarang. Mereka juga sempat mengadakan tour kecil ke sejumlah kota bertajuk “Jalan-jalan di Akhir Tahun”. Beberapa kota yang disambangi Sore Tenggelam di antaranya Tangerang Selatan, Depok, Jakarta, hingga Yogyakarta. Tur itu memakan waktu selama seminggu.

Dalam tur itu, Tius berkisah, ada satu kejadian istimewa yang dialami dirinya. Kala itu Sore Tenggelam tengah manggung di kafe Earhouse di Pamulang, Tangerang Selatan. Tanpa disangka, pemuda asal Kabupaten Ambarawa itu ternyata sepanggung dengan Endah Widiastuti, personel Endah N Resha.

“Pada momen istimewa itu, saya minta Mbak Endah membacakan salah satu puisi ciptaan saya, 'Perempuan'. Dengan iringan gitar saya, kami pun bermusikalisasi puisi,” terangnya, lalu tertawa senang. Wah!

Nah, buat kamu yang penasaran dengan Sore Tenggelam, kamu bisa tonton album dan musik demo mereka di Youtube atau dengarkan di Soundcloud. Selamat menikmati dan berkelana bersama Sore Tenggelam! (Hayyina Hilal/E03)