Menyimak Bagaimana Warga Tionghoa Memaknai Festival Cheng Ho

Menyimak Bagaimana Warga Tionghoa Memaknai Festival Cheng Ho
Warga Tionghoa sedang memanjatkan doa. (Inibaru.id/ Audrian F)

Festival Cheng Ho, merupakan acara besar bagi Kota Semarang, khususnya warga Tionghoa. Bagaimana mereka memaknai hajatan tahunan ini?

Inibaru.id - Festival Cheng Ho merupakan gelaran besar Tionghoa. Sepanjang Sabtu dan Minggu (3-4/8) lalu, festival ini berjalan meriah di Klenteng Sam Poo Kong, Simongan, Kota Semarang. Budaya Tionghoa sangat mendominasi di sepanjang perayaannya. Karena itu, nggak ragu lagi, festival ini pasti termasuk acara besar bagi warga Tionghoa.

Nggak cuma sekadar perayaan, Millens. Prosesi kirab yang dilaksanakan dari Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok menuju Klenteng Sam Poo Kong yang membawa tandu berisi Kim Sin atau patung Dewa-Dewi merupakan bentuk kesakralan tersendiri. Lalu bagaimana warga Tionghoa memaknai Festival Cheng Ho ini?

Anggota Klenteng selepas arak-arakan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dimulai dari Prakoso. Pria paruh baya berusia 60 tahun ini berasal dari Klenteng Kwan Tee Kiong, Gunung Sindur, Bogor, ini lebih kepada figur Laksamana Cheng Ho.

“Cheng Ho merupakan teladan. Nggak hanya bagi masyarakat Tionghoa saja tapi semua golongan. Dia datang untuk berdagang sambil menyebarkan agama Islam,” tuturnya.

Lain lagi dengan Nico, dia mengaku sudah 4 kali mengikuti Festival Cheng Ho ini. Dia berharap besar, tradisi ini bisa terus meningkat.

“Semoga festival Cheng Ho ini terus lestari dan meriah,” ucap Nico, dia berasal dari Klenteng Sheng Xing Tang, Demak.

Nico, salah satu warga Tionghoa yang berasal dari Demak. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kemudian Bonita, dara berusia 21 tahun ini sebagai warga Kota Semarang cukup bangga karena memiliki even sedemikian rupa.

“Berarti banget. Soalnya dulu sejarahnya panjang juga. Di Semarang banyak perayaan tradisi seperti ini, namun yang sudah berskala nasional cuma festival ini jadi ikut bangga,” pungkas Bonita.

Meskipun tampak terlaksana cukup meriah namun keluhan juga ada. Salah satunya dari Roni, pria berusi 38 tahun tersebut merasa festival pada tahun ini kurang ramai.

“Saya rasa nggak seramai tahun lalu, klenteng-klentengnya juga yang ikut nggak banyak. Namun apapun tetap cukup meriah festival ini. Suasananya juga sakral,” tandas Roni, dia merupakan wisatawan dari Magelang.

Pengunjung sedang berdoa. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dari semua komentar tentang bagaimana warga Tionghoa memaknai Festival Cheng Ho ini, suara bernilai hadir dari Lani, wanita berusia 58 tahun yang berasal dari Klenteng Sam Poo Bio, Surabaya.

“Sebagai masyarakat minoritas festival ini saya rasa membawa banyak kebaikan. Dengan adanya acara akan ada saling keterikatan dengan masyarakat lain,” tutur Lani. Dia mengaku baru sekali ini mengikuti Festival Cheng Ho.

Semoga nggak hanya warga Tionghoa, namun masyarakat golongan lainnya juga bisa memaknai penting Festival Cheng Ho ini ya, Millens. (Audrian F/E05)