Menonton Twivortiare Rasa Critical Eleven, Hambar?

Menonton <em>Twivortiare</em> Rasa <em>Critical Eleven</em>, Hambar?
Beno dan Alex dalam film Twivortiare. (Instagram/twivortiarefilm)

Reza Rahardian kembali didapuk memerankan tokoh dari novel Ika Natassa yang diangkat ke layar lebar. Kesamaan karakter membuat Reza terlihat dengan mudah memerankan sosok ini. Tapi buat saya yang menyaksikan kedua film itu, saya merasa nggak ada yang fresh.

Inibaru.id - Terus terang, saya cukup penasaran mengapa sutradara Twivortiare, Benni Setiawan menjatuhkan pilihan pada Reza Rahadian. Itulah yang saya pikirkan saat menonton Twivortiare di bioskop baru-baru ini. Masalahnya, menonton film ini mengingatkan kembali pada film Critical Eleven yang tayang dua tahun lalu. Karakter tokoh utamannya itu lo sama banget.

Di Twivortiare Reza Rahadian berperan sebagai Beno suami Alexandra (Raihaanun) dan di Critical Eleven dia berperan menjadi Ale yang memiliki istri bernama Anya (Adinia Wirasti). Apa salahnya jika dia memerankan tokoh seorang suami untuk kesekian kalinya? Nggak salah kok. Hanya saja, sifat Reza di kedua film ini nyaris sama. Dia menokohkan seorang suami yang egois dan overprotective. 

Buat saya peran ini terasa hambar meski Reza memerankannya dengan totalitas. Meskipun juga sudah dua tahun lalu dia memerankan karakter serupa. Tapi buat saya masih terlalu rapat. Saya belum bisa move on. Belum lagi jalan cerita yang masih satu tema, prahara dalam rumah tangga kelas atas. Etapi, bisa jadi karakter Reza di kedua film ini merupakan sosok suami idaman setiap wanita (pada awalnya). Wajah oke, uang berlebih, dan memiliki pekerjaan mapan. Saya yakin kedua film ini bakal membuat penonton terutama perempuan baper.

Tokoh utama film Critical Eleven. (Hipwee.com)

Istri mana sih yang nggak bahagia ketika diajak tinggal di kawasan mewah dan nggak perlu berkutat beberes rumah karena mampu mempekerjakan ART? Ya, kehidupan di film ini bertabur kemewahan. Para perempuan dibuat berandai-andai menjadi istri Ale atau Beno. Masalah utama di film juga bukan masalah uang tapi psikologis. Pun semua pertengkaran juga nggak ada yang menyinggung uang.

Sebagai orang yang belum menikah, saya mengakui perdebatan para tokoh utama di film-film ini cukup asyik diikuti. Pasangan-pasangan kelas atas ini selalu memiliki jawaban-jawaban klise. Tapi itulah yang membuat pertengkaran ini so true. Sayangnya nggak ada konflik puncak pada film ini sehingga emosi penonton cenderung sama dari awal hingga akhir film.

Ada hal yang menarik perhatian saya setelah menyaksikan kedua film ini. "Kemudahan" mereka dalam merajut rumah tangga kembali dikarenakan kemapanan ekonomi. Coba deh kamu bayangkan bagaimana jadinya dua orang dari keluarga ekonomi lemah memiliki konflik dan akhirnya bercerai. Yakin mereka bakal rujuk tanpa halangan berarti? Saya yakin nggak!

Meski selama nonton Twivortiare saya selalu terbayang film Critical Eleven karena kesamaan tokoh dan watak, bukan berarti film ini nggak layak tonton, lo. Banyak penonton yang mengatakan kalau Twivortiare merupakan film terbaik di antara film-film lain yang diangkat dari novel Ika Natassa. Chemistry antara Reza dan Raihaanun pun dirasa sangat kuat.

Kamu setuju nggak, Millens? (Inadha Rahma Nidya/E05)