Menonton Senyawa untuk Kali Pertama: Seperti Wisata Spiritual

Menonton Senyawa untuk Kali Pertama: Seperti Wisata Spiritual
Aksi panggung band Senyawa, Rabu (4/3) di kampung halamannya, Yogyakarta. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung) 

Senyawa, band eksperimental asal Yogyakarta ini sudah malang melintang di panggung internasional. Pada 4 Maret kemarin, Senyawa menutup tur Senyawa Nusantara Chapter Pertama. Saya sudah lama sih mendengarkan Senyawa, tetapi baru kali ini menonton langsung. Bagaimana rasanya?

Inibaru.id – Saya memacu sepeda motor dengan buru-buru. Karena hujan yang mengguyur sedari Semarang, saya jadi perlu berteduh dan ujung-ujungnya terlambat. Setelah sampai dan memarkir motor dengan tergesa, saya langsung memasuki lokasi konser, Sakatembi, Jalan Parangtritis, Yogyakarta, pada Rabu (4/3).

Saya menukar tiket dengan paket nasi goreng tiwul dan jamu. Setelah makan, saya teguk jamu racikan Senyawa Mandiri beberapa kali dan lampu-lampu langsung mati. Semua orang bergegas melingkari level setinggi 20 cm, tempat Rully Shabara dan Wukir Suryadi, personel Senyawa, tampil. Tanpa peringatan, telinga 100-an orang dihajar bebunyian eksperimental.

Tanggalkan nama segala di dunia. Tanggalkan nama segala di dunia. Tanggalkan nama segala di dunia,” diulang terus oleh Rully. Di sampingnya, Wukir hanya fokus bermain instrumen buatannya. Di sekitar panggung, saya melihat beberapa orang mengangguk-anggukkan kepala, ada yang memejamkan mata, dan ada yang fokus menonton.

Tempo musik meninggi, suara senar gitar digesek besi pipih bersautan dengan bunyi komat-kamit Rully yang terdengar seperti monster yang marah. Suaranya semakin meninggi, semakin meninggi. Bunyi yang mirip UFO ikut masuk, semakin bising. “Tanggalkan segala nama di dunia,” kembali berkumandang, tetapi memelan.

Suara senar digesek melemah, kebisingan UFO memudar. Saya membuka mata beriringan dengan tepuk tangan orang-orang di sekitar yang menikmati lagu “Tanggalkan di Dunia” dari album Sujud (2018).

Wukir Suryadi tengah beraksi memainkan alat musik etnik baru yang diciptakannya. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Wukir Suryadi tengah beraksi memainkan alat musik etnik baru yang diciptakannya. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Kebisingan, gesekan senar gitar dengan besi, teriakan seperti monster atau gedung runtuh terus memekakkan telinga saya. Setiap musik dimainkan, selalu saja ada bagian saya menutup mata, terkesima oleh gerak tubuh dan bunyi yang dihasilkan Senyawa –selain terus mencari posisi untuk memotret akrobat mereka ini. Pengalaman mendengar bebunyian “aneh” ini membuat saya mengalami perasaan baru selama menonton konser, seperti wisata spitirual.

Terhitung 10-an lagu dibawakan selama 90 menit, kebanyakan dari album Sujud (2018) dan Live Reherseal (2020), seperti “Air”, “Sujud”, “Tanggalkan di Dunia”, “Penjuru Menyatu”, dan “Palu”.

Saya pulang memacu sepeda motor dan lagi-lagi diguyur hujan sepanjang jalan. Saya mendadak ingat perkataan Rully sebelum memainkan “Air” tadi, “Bagi kota yang terbakar, Air adalah anugerah.”

Bagaimana, kamu sudah pernah nonton Senyawa belum, Millens? (Gregorius Manurung/E05)