Menonton Gundala = Menyingkap Tabir Tipis Moral dan Amoral

Menonton Gundala = Menyingkap Tabir Tipis Moral dan Amoral
Isu moral diangkat dalam film Gundala. (Legacy Pictures)

Menonton Gundala sama saja dengan mempertanyakan kembali definisi moral dan amoral di benak setiap orang. Seperti apa isu tersebut diangkat dalam film Gundala?

Inibaru.id – Kamis (29/8) tampaknya jadi hari yang ditunggu-tunggu para penggemar film superhero di Indonesia. Bila biasanya mereka disuguhi superhero luar negeri besutan Marvel dan DC, kini mereka bisa menonton superhero lokal.

Yap, Jagat Sinema Bumilangit pada tanggal itu mulai menayangkan film perdananya, Gundala. Karena ini baru kali pertama, pantas saja jika animo masyarakat untuk menonton film itu begitu tinggi.

Cerita Gundala versi film bisa dibilang lebih segar. Lewat tangan dingin Joko Anwar sebagai sutradara, film Gundala dikemas dengan membawa isu tentang moral.

Isu tersebut sudah dibangun sejak awal film dimulai. Masa kecil Sancaka dikuliti di awal film, mulai dari konflik di pabrik bapaknya yang mengakibatkan si bapak yang diperankan Rio Dewanto meninggal hingga kepergian ibunya. Sancaka kemudian mengadu nasib di kota dan bertemu Awang, sang penyelamat.

Ada kalimat menarik yang diungkapkan Awang kepada Sancaka. “Kalau lo pengin aman, nggak usah ikut campur urusan orang. Urusi urusan lo sendiri,” ujar Awang.

Kalimat itu lantas mengubah sikap Sancaka yang biasanya sering menolong dan peduli menjadi “bodo amat”. Sikap tak acuh ini terpatri hingga Sancaka dewasa yang berprofesi sebagai satpam pabrik percetakan.

Namun, Sancaka kemudian tertampar dengan omongan rekan sesama satpamnya, Agung kala ada seorang pencopet yang meminta tolong.

“Orang yang berguna itu yang peduli dengan orang lain. Nggak cuma pengin aman sendiri,” kurang lebih begitu yang diucapkan Agung.

Mulai dari situ Sancaka kembali berani untuk menolong orang lain. Keberanian itu pula yang mempertemukannya dengan Wulan yang diperankan Tara Basro.

Film ini juga menyindir perilaku orang Indonesia yang saat ini lebih sering merekam kejadian dengan ponsel dibanding menolong seseorang yang kesusahan. Ada beberapa scene yang menunjukkan perilaku tersebut.

Isu ini menjadi klimaks saat si Pengkor mulai berulah dengan mencemari beras di gudang persediaan dengan cairan hijau. Cairan tersebut menyerang para ibu hamil dan mengubah anak-anak mereka menjadi anak yang amoral.

Masalah itu menjadi masalah nasional. Demo di jalanan hingga perdebatan sengit di meja dewan tergambar dalam beberapa scene. Pada suatu waktu, para anggota dewan lantas berdebat maksud dari kata “moral” dan “amoral”. Di bagian ini, penonton diajak mempertanyakan kembali tentang definisi kedua kata yang hanya dipisahkan tabir tipis itu.

Di satu sisi, Pengkor sebagai villain justru menunjukkan sifat peduli. Dia menyelamatkan para anak yatim di seluruh negeri dan melatih mereka untuk bisa hidup mandiri. Sayang, anak-anak yatim itu dijadikan prajurit Pengkor untuk menghentikan Gundala.

Kata “moral” memang akhir-akhir ini jadi bahan perdebatan di tengah masyarakat Indonesia. Perbedaan sudut pandang itu mengakibatkan permusuhan dan akhirnya menihilkan kedamaian di antara masyarakat. Damai menjadi hal yang paling sulit dipertahankan.

Hingga pada akhirnya, kalimat pamungkas di film ini pun bisa diamini di dunia nyata.

“Hal yang paling tidak bertahan lama adalah perdamaian.”

Begitulah film Gundala memaksa penontonnya untuk turut menyingkap tabir moral dan amoral. (Ida Fitriyah/E05)