Menikmati Tiap Bingkai Bukti Kekayaan Budaya Jawa di Kunokini

Menikmati Tiap Bingkai Bukti Kekayaan Budaya Jawa di Kunokini
Rian sedang mengamati kolase foto budaya Jawa Tengah di pameran Kunokini. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Menyaksikan potret-potret budaya dan tradisi lokal dari masa lalu yang berkolaborasi dengan masa kini memberikan kesan yang nggak biasa. Rasanya seperti diajak berkeliling ke berbagai tempat menawan dan peristiwa menakjubkan dalam satu waktu.

Inibaru.id – Sore itu, ketika hendak melihat pameran foto di Kota Lama, nggak sengaja saya bertemu dengan seorang kawan dari Yogyakarta. Dia tengah melakukan kunjungan kerja ke Semarang bersama rombongan dari organisasi desa tempatnya bekerja.

Setelah ngobrol sebentar, saya pun mengajaknya ke Gedung Monod Diephus untuk melihat pameran Kunokini yang diselenggarakan oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) dan Antara Foto. Lantaran tergoda dengan nama besar Antara dan lokasi pameran yang nggak jauh dari tempat kami bertemu, dia pun mau.

Memasuki ruang pameran, kawan saya yang bernama Rian tersebut langsung terpaku dengan foto-foto berlatar belakang Yogyakarta. Salah satu potret tersebut menggambarkan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta membawa gunungan keluar dari keraton saat Grebeg Besar dalam rangka Iduladha 2019.

Rian melihat foto setengah wajah abdi dalem Yogyakarta. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di foto yang lain terlihat abdi dalem Yogyakarta dipotret setengah wajah tengah menjalani mata gratis dalam rangka memperingati 213 tahun berdirinya Kadipaten Pakualaman pada 1 Februari 2019 lalu. Melihat foto tersebut, Rian langsung teringat dengan poster sebuah film berjudul Senyap karya Joshua Oppenheimer.

"Kelingan ndisik film iki tau dilarang (teringat dulu film ini pernah dilarang)," kata Rian. Saya langsung teringat dengan isi film yang berkisah tentang penjagalan orang-orang yang terlibat dalam salah satu partai terlarang di Indonesia.

Di potret yang lain, terdapat foto seorang perempuan menyelam menggunakan pakaian kebaya ketika melakukan sesi pemotretan di kolam Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Saya yang nggak tahu akan umbul tersebut terdiam sebentar mendengarkan penjelasan Rian.

"Iki ning Umbul Ponggok, terkenal ning Klaten (ini di Umbul Ponggok, terkenal di Klaten)," kata laki-laki asal Bantul tersebut.

Dari Rian saya tahu ternyata Umbul Ponggok Klaten merupakan sebuah sumber mata air alami yang saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata yang instagramable dan banyak dikunjungi wisatawan.

Foto (tengah) seorang perempuan memakai kebaya merah saat menjalani sesi pemotretan di Umbul Ponggok. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Foto ini cukup menarik perhatian saya. Wajah sang model berkebaya merah seolah berharap seseorang menarik tangannya. Namun pada saat bersamaan dia seperti tengah menyampaikan salam perpisahan untuk seseorang barangkali kekasih atau impian. Hm, benar-benar bermakna mendalam.

Saya beranjak ke jepretan yang lain. Beberapa tradisi menarik seperti memanen kopi arabika di Temanggung,  menuang air kendi untuk sawah di Demak, hingga menguras gentong di Bantul tampak menjanjikan pengalaman baru. Tentu saja saya sangat ingin berpetualang ke sana dan menyaksikannya sendiri.

O ya, kalau penasaran dengan pameran ini, kamu datangi untuk menambah kecintaan terhadap budaya Jawa Tengah dan DIY hingga 1 November 2019 nanti. Jangan lupa ajak teman-teman juga ya! (Isma Swastiningrum/E05)