Mendengar Album Penuh Pertama Olly Oxen

Mendengar Album Penuh Pertama Olly Oxen
Album baru Mahiwal 'o Ndes (2020) dari grup rock asal Semarang, Olly Oxen, dirilis dalam format kaset pita. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Sudah empat tahun berkarya, band rock asal Semarang, Olly Oxen, akhirnya merilis album penuh pertama mereka. Penasaran?

Inibaru.id  - “Here comes the wisdom,” membuka lagu “Self-Preaching (When Nobody Else Thinking the Way Up)” milik unit rock asal Semarang, Olly Oxen. Lagu yang ada di EP (Mini Album) Bad Mantra (2017) itu membawa wacana framming media yang bukannya menyebarkan informasi penting, malah menyesatkan dan menyebarkan kebencian. “They spread more mantra in the camera, kurawa agenda/ Looking for direction but so many hate confession,” lanjut mereka.

Buat kamu yang belum tahu, isu dan kritik sosial memang sering muncul dalam lagu-lagu Olly Oxen. Pada album penuh pertamanya, Mahiwal o’ Ndes, yang dirilis pada Maret 2020 ini isu-isu sosial masih muncul, seperti pada nomor “Pemangku” dan “To be Honset I’m a Liar”.

Ngakunya sih mereka nggak pandai bikin lagu cinta dan menganggap kondisi sosial lebih asyik dijadikan bahasan lagu. Meski begitu, sesekali mereka juga mengangkat kehidupan pribadi sebagai tema. "Di album Mahiwal ‘o Ndes juga ada beberapa lagu membahas realita personal kita sendiri,” tulis Olly Oxen dalam pesan singkat, Senin (28/4).

Isu personal memang cukup terasa pada beberapa lagu di album penuh ini, seperti dalam lagu “Nyawa”, “Suar Yang Membeku”, dan “To be Honest, I’m a Liar”. Pada lagu “To be Honest, I’m a Liar”, Olly Oxen menulis “The world is getting colder with the one-lap race we decided/ And still I embrace it with a half-side loss inside,” yang membicarakan penerimaan diri dengan segala kekurangannya.

“Lirik reff ini tampil sebagai sosok yang linglung, ada di antara, kayak orang bangun tidur,” tambah Olly Oxen.

Lagu ini juga yang menjadi favorit saya. Selain lirik yang catchy, gaya hip hop yang dicampur sedikit teriakan-teriakan ala rock cukup menyegarkan. Keren pokoknya. Saya sama sekali nggak keberatan jika harus mendengarnya berulang-ulang.

Hal yang disayangkan dari produksi album adalah <i>booklet</i> yang berisi lirik-lirik album ini dicetak terlalu gelap. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Hal yang disayangkan dari produksi album adalah booklet yang berisi lirik-lirik album ini dicetak terlalu gelap. (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Eits, bukan berarti lagu lainnya nggak oke ya. Menurut saya lagu-lagu di album ini mudah dimengerti karena lebih dari setengahnya menggunakan bahasa Indonesia. Dari total 9 lagu, terdapat 5 lagu yang ditulis dalam bahasa Indonesia, yaitu “Jauhari”, “Nyawa”, “Suar Yang Membeku”, “Mahiwal o’ Ndes”, dan “Pemangku”. Waktu yang kamu butuhkan untuk mendengarkan full album ini sekitar 35 menit, Millens.

Menurut Olly Oxen, mereka memang ingin memiliki lagu berbahasa Indonesia sejak kali pertama terbentuk. Namun, mereka belum menemukan formula yang tepat. Mereka sempat membuat lagu dengan lirik berbahasa Indonesia di EP Bad Mantra (2017), tetapi dirasa masih kurang.

Dalam penggarapan album Mahiwal o’ Ndes, mereka terlebih dahulu menulis empat lagu berbahasa Inggris. Lagu kelima barulah mereka menulis lagu berbahasa Indonesia yang bisa diterima oleh seluruh personel Olly Oxen.

“Dapet formula bahasa Indonesia di lagu kelima, yaitu 'Pemangku'. Itu lagu pertama bahasa Indonesia yang kami setujui. Setelah itu ya sudah dapat formulanya, lanjut saja sekalian sampai akhir,” tulis Olly Oxen.

Kalau kamu suka musik rock, album ini pasti cukup menarik untuk disimak, Millens. Album ini bisa kamu dengarkan di Spotify atau beli kaset pitanya di toko musik kesayanganmu. (Gregorius Manurung/E05)