Melukis, Cara Goenawan Mohamad Bikin Benda-Benda Kembali 'Bicara'

Melukis, Cara Goenawan Mohamad Bikin Benda-Benda Kembali 'Bicara'
Goenawan Mohammad saat memperkenalkan buku terbarunya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dikenal sebagai penulis kenamaan Tanah Air dengan pelbagai penghargaan, sastrawan Goenawan Mohamad "melebarkan sayap" ke dunia seni rupa. Lukisan-lukisannya bahkan dipajang di sejumlah galeri, salah satunya di Semarang Contemporary Art Gallery. Kenapa dia melukis?

Inibaru.id - Tak hanya piawai menulis, Goenawan Mohamad atau yang akrab disapa GM rupanya juga mahir melukis. Sejumlah karyanya belum lama ini dipamerkan di Semarang Contemporary Art Gallery. Alih-alih hanya berkutat dengan dunia teks yang telah puluhan tahun ditekuninya, kenapa GM tertarik melukis?

Kita tahu, GM bukanlah sastrawan pertama yang juga piawai melukis. Sebelumnya ada Danarto, Putu Wijaya, Yanusa Nugroho, dan Eko Tunas, yang kemampuan menulis dan melukisnya tak perlu diragukan lagi.

Bagi GM, melukis adalah bentuk pembebasan dari "dunia teks" yang telah lama digelutinya. Hal ini diungkapkannya dalam buku terbarunya yang memuat esai-esai seni rupa bertajuk Pigura Tanpa Penjara. Pernyataan itu sekaligus mengamini pernyataan Hendro Wiyanto, penulis dan kurator seni rupa yang tampil membedah bukunya.

“Benar seperti apa yang dikatakan Hendro," tutur lelaki asal Kabupaten Batang itu, yang pada 1971 mendirikan Tempo bersama rekan-rekannya, sekaligus menjadi pemimpin redaksi, "Saya orangnya memang gampang bosan.”

Namun, lebih dari itu, dia juga mengungkapkan, peralihan ke dunia lukis ini juga dilakukannya lantaran memandang benda-benda di sekitarnya sudah menjadi biasa.

“Karena benda-benda banal (biasa) itulah saya ingin melukis. Semua sudah hampir kehilangan makna, maka di sini saya menghidupkannya kembali lewat metafor yang tertuang di dalam lukisan saya,” ujar GM.

Goenawan Mohamad dalam diskusi buku Pigura Tanpa Penjara. (Inibaru.id/ Audrian F)

Seni Adalah Perubahan

Melalui melukis, lanjutnya, GM juga mengaku pengin menebus kembali ihwal yang sudah menjadi komoditas, membuat benda-benda berbicara dan menyentuhnya dengan rasa syukur.

“Seni adalah perubahan," terangnya.

GM menambahkan, dia acap mendasari lukisan-lukisannya berdasarkan pengalaman.

"Seperti yang dikatakan Ranggawarsita: 'Ngelmu kui dilakoni kanti laku' (ilmu itu dijalankan dari pengalaman)," kata dia.

Sementara, mengenai lukisannya, GM menampik pendapat orang yang menganggap lukisannya mengandung banyak cerita. Dia menuturkan, mungkin karena dirinya penulis, orang mengira setiap lukisannya bercerita, padahal tidak. Kalaupun ada tanda-tanda, ungkap dia, itu memang karena dia yang menginginkannya.

"Perkara makna saya serahkan kepada siapa saja,” tandas Goenawan Mohamad.

Salut ya buat Om GM! Mungkin, nggak bakal ada kata senja buatnya, ya, Millens! Yap, mungkin itu semua karena dia nggak mau "berhenti" dan memutuskan untuk terus mencoba hal baru demi menghapus kebanalan! Ha-ha. (Audrian F/E03)