Melongok Pameran Zine Pertama di Indonesia pada 2009, Semarang Jadi Tuan Rumah

Melongok Pameran Zine Pertama di Indonesia pada 2009, Semarang Jadi Tuan Rumah
Zine-zine baru keluaran milenial. Keren nggak sih, Millens? (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Kamu pernah mendengar zine, Millens? Zine ini adalah terbitan seperti majalah (magazine) yang independen dan berisi konten alternatif. Di Semarang, zine mulai bermunculan pada tahun 2000-an. Barulah pada 2009, pameran zine pertama di Indonesia digelar di Kota Lunpia.   

Inibaru.id - Media ini pertama muncul dari kelompok pencinta cerita fiksi ilmiah di Amerika Serikat tahun 1920-an. Zine kemudian berkembang ketika skena hardcore/punk mulai menjadikannya sebagai media komunikasi antarkomunitas.

Pada 2000-an, di Semarang muncul banyak zine dan zinemaker yang menekuni jalur alternatif ini. Salah satunya adalah Kolektif Hysteria. Sebelum terjun ke isu-isu kota, kampung-kota, dan seni kontemporer, Hysteria awalnya adalah zine sastra dan kelompok pegiat sastra.

Akhmad ‘Adin’ Kahirudin, Direktur Kolektif Hysteria, menyatakan bahwa zine Hysteria muncul ketika zine sudah cukup lama ada di Semarang. Zine ini kali pertama muncul tahun 2004 sebagai zine sastra mahasiswa Sastra Undip.

Zine-zine dari para zinemaker Indonesia yang dipamerkan di Jalur Alternatif 2009. (Dokumentasi Hysteria)
Zine-zine dari para zinemaker Indonesia yang dipamerkan di Jalur Alternatif 2009. (Dokumentasi Hysteria)

Ketika itu sudah banyak zine lain yang beredar dengan beraneka tema, mulai dari seni rupa, musik, dan hardcore-punk. Zine ini awalnya muncul sebagai wadah anak-anak sastra berkreasi di dunia tulis-menulis.

“Dulu gak ada wadah buat tulisan sastra. Majalah kampus, mau yang kampus atau fakultas, isinya jurnalistik, bukan sastra,” ucap pengajar Antropologi Undip tersebut, Kamis (29/2) via pesan singkat.

Cukup ramainya zine saat itu membuat Hysteria cukup yakin mengadakan pameran arsip zine pada 4-12 Agustus 2009. Zine yang dipamerkan berjumlah sekitar 500 eksemplar mulai dari seluruh Indonesia dan Australia. Selain pameran zine, ada juga kegiatan diskusi musik, diskusi sastra, pemutaran film, pagelaran musik, hingga peluncuran perpustakaan zine yang hingga kini masih bisa diakses di Grobak Art Kos Hysteria.

Pameran bertajuk “Jalur Alternatif” itu memang nggak dilabeli sebagai festival zine, tetapi hampir keseluruhan konten acaranya adalah zine. Bisa dibilang, Jalur Alternatif adalah festival zine pertama di Indonesia sebelum munculnya banyak festival zine besar seperti Bandung Zine Fest, Indiezine Partij, Jakarta Zine Fest, Bali Zine Fest, dan masih banyak lagi. Kini festival zine di Semarang telah berubah nama menjadi Festival Literasi Aksara.

“Dulu ada yang bilang ‘Bagus dulu baru bergerak’. Itu gak ada di kita, zine Hysteria itu layout-nya paling jelek se-Semarang. Sesuatu itu bisa dimulai dari yang tidak baik-baik amat,” ucap Adin.

Sekarang, Hysteria sedang mempersiapkan zine edisi ke-100. Keren ya, Millens? Kamu sudah pernah baca zine? (Gregorius Manurung/E05)