Mari Menertawakan Nasib Bersama Joker

Mari Menertawakan Nasib Bersama Joker
Joker, 2019. (Warner Bros Picture)

Adegan yang menurut saya paling mengena adalah saat Fleck menatap dan berkata, "Knock-knock!" Setelah itu nyengir. Konyol tapi serem.

Inibaru.id - Begitu tahu tanggal tayang Joker, saya cukup antusias dan berharap banyak. Ini karakter yang saya tunggu-tunggu. Orang paling gila di Kota Gotham sekaligus musuh bebuyutan Batman. Tayang perdana di Indonesia pada 2 Oktober, film ini akan membuka asal usul Joker.

Saya setuju dengan pendapat bahwa nggak ada penjahat yang lahir begitu saja. Pasti ada sebab musababnya. Begitu pula dengan Joker. Selama film diputar, saya memandang Arthur Fleck dengan penuh iba. Awalnya dia sama dengan warga Gotham kelas bawah lainnya. Dia berjuang untuk hidup di tengah kekuasaan para kapitalis.

Sebagai komedian gagal, nasib Fleck sungguh lengkap dengan derita. Ditambah dengan penyakit langka yang dideritanya. Itu yang membuatnya tertawa tanpa sebab. Cara Fleck tertawa saat dia menjadi dirinya atau saat menjadi Joker sungguh mengintimidasi.

Saya mengerti mengapa dia terus di-bully di lingkungannya. Ya, karena memang aneh nggak ada yang lucu tapi dia tiba-tiba tertawa keras. Menerima perbedaan memang sulit bukan? Fleck makin terlihat sebagai orang yang terbuang dan akhirnya dia melahirkan Joker. 

Menjadi Joker, dia berubah menjadi sosok temperamen dan keji. Lagi-lagi saya memakluminya. Gara-gara sepak terjangnya yang ikonik, warga Gotham ikut-ikutan menjadi Joker dan membuat kekacauan seantero kota.

Saya menduga warga sudah kelelahan menerima ketimpangan yang terjadi. Mereka sadar butuh dobrakan dan chaos nggak bisa dicegah. Hanya saja saya bertanya-tanya apa iya kejahatan adalah jawaban untuk kebebasan? Jawaban normal tentu nggak. Tapi bagi Fleck, kejahatan menjadi solusi.

Kemuraman untuk melakukan pemberontakan itu makin bertambah dengan dialog ikonik dari Arthur Fleck, “Aku selalu berpikir hidupku adalah tragedi. Tapi akhirnya aku sadar kalau hidupku adalah komedi.” Seketika itu saya juga memikirkan perjalanan hidup saya. Ada banyak hal yang bisa saya tertawakan, paling nggak saat saya sendiri.

Selama dua jam saya menyaksikan akting Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck dan Joker, saya harus memberikan tepuk tangan. Dia benar-benar menjadi karakter yang saya bayangkan, kejam sekaligus menyedihkan. Dia bisa membuat saya paham deritanya dan celakanya, memakluminya! Intinya saya sangat suka film ini! Sepertinya nggak cuma saya, wajah-wajah para penonton lain juga menyiratkan hal yang sama. (Audrian F/E05)