Angkat Isu Kesenian Tradisional, Teater Emka Hadirkan Pentas di Tengah Kampung

Pentas teater masuk kampung? Tentu saja bisa. Kehangatan pun tercipta di tengahnya.

 Angkat Isu Kesenian Tradisional, Teater Emka Hadirkan Pentas di Tengah Kampung
Salah satu adegan dalam lakon "Ajar Raja". (Inibaru.id/Mayang Istnaini).

Inibaru.id – Puluhan warga Srinindito Timur, Kelurahan Simongan, Kota Semarang memadati pelataran rumah salah seorang warga yang sudah disulap menjadi panggung teater. Mereka sengaja berkumpul untuk menyaksikan Pentas Kampung (Penkam) Teater Emper Kampus (Emka) pada Sabtu (15/9/2018).

Teater dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang itu menampilkan lakon dengan naskah Ajar Raja. FYI, naskah karya Ajeng Poernomo itu juga menyabet Juara 3 Penulisan Lakon dalam ajang Peksimida Jawa Tengah 2018, lo. Wah!

Salah satu adegan dalam lakon Ajar Raja. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Sejalan dengan salah satu visi mereka yakni “Teater untuk Rakyat”, Penkam juga digelar sebagai sarana komunikasi terkait realitas sosial di masyarakat. Yap, dengan adanya Penkam itu isu yang ada di masyarakat jadi bisa tersebar secara lebih luas, kan?

Cerita dalam lakon Ajar Raja nggak jauh berbeda dengan realitas sehari-hari di masyarakat. Nggak heran kalau beberapa kali penonton yang mayoritas warga setempat juga tampak menimpali percakapan dalam lakon. Yap, berasa nonton kisah sendiri! Ha-ha.

Kritik untuk Millenials

Mengangkat isu tentang kesenian tradisional di tengah para millenials, pementasan lakon Ajar Raja diawali dengan konflik keluarga Edi, seorang warga yang nggak punya pekerjaan tetap. Alih-alih mencari pekerjaan, dia justru lebih senang bekerja melestarikan wayang sebagai salah satu budaya leluhurnya.

Retno, seorang bocah yang diam-diam menyimpan bakat menjadi dalang. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Hal itu memicu pertengkaran dengan Nani, istrinya yang senang berdandan dan membeli beragam kosmetik. Konflik pun berkecamuk, nggak jauh-jauh dari masalah ekonomi. "Keseruan" konflik keduanya juga dibumbui tingkah Retno, anak semata wayang mereka, yang kerap bikin kesal.

Pada bagian lain, konflik juga terjadi di dalam keluarga Ki Mangun. Sebagai satu-satunya dalang yang masih hidup, Ki Mangun merasa bertanggung jawab untuk terus menjaga kelestarian kesenian wayang. Namun, Bisma, sang anak, lebih senang dengan budaya populer. Kesenian wayang pun berpotensi mati di tempatnya.

Bisma, seorang keturunan dalang yang lebih mencintai kebudayaan populer. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Lakon Ajar Raja memang mengangkat isu yang cukup serius. Namun, lantaran diselipi sejumlah humor yang dilontarkan antaraktor, pentas yang berlangsung hampir dua jam itu pun seolah berlangsung cepat. Nggak jarang penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal di tengah pementasan.

Dalam pementasan itu, Teater Emka memang pengin menyoroti minat millenials yang semakin menurun untuk terlibat dalam ragam kesenian tradisional. Menurut mereka, ketakutan dianggap ketinggalan zaman dan nggak kekinian menjadi sejumlah alasan kenapa anak muda enggan menggelutinya. Duh, padahal kalau bukan kita, siapa lagi, ya?

Aktor dan penonton melebur dalam malam. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Malam itu, keinginan Teater Emka sebagai teater untuk rakyat sepertinya terwujud. Para penonton, yang terdiri atas warga setempat dan pelbagai kalangan yang datang dari sejumlah penjuru, terlihat menyatu. Panggung yang sengaja nggak dibatasi juga membuat penonton seolah sedang menyaksikan sebuah peristiwa yang tengah terjadi di depan mereka.

Di antara gelak tawa, isu sosial pun mengalir di kepala tiap penonton yang hadir. Di pentas kampung itu, mereka belajar banyak hal. Mungkin kamu juga bisa belajar dari pentas itu. Yuk, berkesenian! (Mayang Istnaini/E03)