Mengenang NH Dini dan Impian Apresiasi Terhadapnya

NH Dini berpulang pada 4 Desember 2018 silam. Meski demikian, nama dan karya-karyanya selalu dikenang oleh para sahabat dan penggemarnya. Salah satunya diwujudkan dalam acara bertajuk "Mengenang NH Dini, Doa-doa dan Silaturahmi Sastra".

Mengenang NH Dini dan Impian Apresiasi Terhadapnya
Triyanto Triwikromo dalam acara "Mengenang NH Dini". (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Inibaru.id – Meski sudah berpulang, NH Dini tetap dikenang oleh sahabat dan para penggemarnya. Belum lama ini, sahabat-sahabat NH Dini mengadakan acara bertajuk “Mengenang NH Dini, Doa-doa dan Silaturahmi Sastra” pada Jumat (29/3/2019).

Sebagai salah seorang penggemar karya mendiang, saya pun turut hadir. Kebetulan acara itu diselenggarakan nggak jauh dari tempat tinggal saya. Tepatnya di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik yang sekaligus menjadi tempat tinggal terakhir NH Dini.

Acara sore itu berlangsung intim. Pengunjung didominasi oleh sahabat NH Dini dan penikmat karya-karyanya. Selain itu, ada juga beberapa sastrawan yang hadir. Di antaranya Triyanto Triwikromo dan Sosiawan Leak.

Pengunjung dalam acara "Mengenang NH Dini". (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Triyanto Triwikromo sekaligus menjadi pembicara sore itu. Dalam pidatonya, Triyanto mengungkapkan kenangan-kenangannya tentang NH Dini.

“NH Dini adalah seorang penulis yang selalu membela mati-matian setiap kata dalam karyanya,” kata Triyanto.

Menurut Triyanto, bagi NH Dini setiap kata yang dia tulis memiliki makna sehingga nggak bisa sembarangan diganti. Semangat NH Dini dalam karyanya itu diibaratkan oleh Triyanto bagai Milan Kundera.

Impian Apresiasi pada NH Dini

Sebagai sastrawan asal Semarang, NH Dini nggak jarang melibatkan Kota Atlas itu dalam karya-karyanya. Misalnya dalam novel Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami, Sekayu, dan Gunung Ungaran.

Karena itu, Triyanto berharap suatu saat Pemerintah Kota Semarang dapat mengapresiasi karya NH Dini dengan membangun museum tentangnya.

“Di Bandung sudah ada Taman Dilan, seorang tokoh fiksi yang diceritakan hidup di Bandung. Mengapa Semarang nggak membuat Museum NH Dini? Seorang tokoh sastra yang selalu membawa Semarang dalam karya-karyanya?” ungkap Triyanto.

Museum itu dapat memamerkan karya-karya NH Dini, peninggalan alat menulis NH Dini, hingga metode penulisan yang diterapkan mendiang. Nggak ketinggalan lukisan-lukisan karya NH Dini yang semasa hidup juga pernah menggelar pameran tunggal.

Penampilan musikalisasi puisi dalam acara "Mengenang NH Dini". (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Hm, kalau gagasan itu benar-benar terlaksana, saya bisa jadi pengunjung tetapnya. Nggak hanya saya, penggemar karya NH Dini yang lain tentu sama antusiasnya.

Acara sore itu ditutup dengan doa bersama untuk mendiang NH Dini yang dipimpin oleh budayawan Semarang, Guspar Wong.

“Semoga NH Dini dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya,” kata Guspar dalam doanya.

Terima kasih, NH Dini. Nama dan karyamu akan selalu abadi. (Mayang Istnaini/E05)