Lewat Setelah Pertanyaan Masa Depan, Kolektif Cari Nama Sajikan Gaya Teater yang Lebih Segar

Lewat <em>Setelah Pertanyaan Masa Depan</em>, Kolektif Cari Nama Sajikan Gaya Teater yang Lebih Segar
Adegan saat Obet (kaos kuning) pemeran kameramen memberikan pengarahan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Jika selama ini teater dilaksanakan dengan satu panggung utama, beda halnya dengan pementasan yang dilakukan oleh kelompok seni teater Kolektif Cari Nama ini. Bagaimana bentuknya?

Inibaru.id – Seni teater selalu sukses membuat saya terkagum-kagum. Sama seperti saat saya menyaksikan pertunjukan teater dengan judul “Setelah Pertanyaan Masa Depan” ini. Para kru Kolektif Cari Nama menggunakan teknik pementasan yang nggak biasa. Jika biasanya para pemain berlaga di atas panggung utama, kali ini pementasan dilakukan dengan latar public space.

Dilaksanakan di Senja Rooftop Impala Space, lantai 2 Spiegel Bar and Bristo pada Senin (13/4), pementasan hampir nggak ada jarak antarpenonton dan aktor. Menyuarakan seputar kefanaan realitas sehari-hari yang cenderung menyedihkan, dari segi cerita pun nggak seperti pementasan teater yang mengerucut pada sebuah kisah.

Cara penyajian ini benar-benar baru untuk saya. Di sini, kelima pemain akan berbaur dan berinteraksi dengan penonton. Contohnya saat bocah bernama Dea memerankan sosok guru. Dengan luwes dan meyakinkan dia menceritakan kisah Adam dan Hawa di hadapan penonton yang dianggapnya sebagai murid.

Ada juga adegan yang sedikit menegangkan ketika karakter seorang SPG aduhai menggoda penonton yang hadir.

Salah satu adegan dari pentas Setelah Pertanyaan Masa Depan. (Inibaru.id/  Audrian F)

Saya dan penonton lain yang nggak tahu soal sinopsis naskah lakon ini baru paham begitu mencapai tengah-tengah alur pertunjukan. Awalnya semua terasa seperti teka-teki. Seperti halnya saat saya memasuki ruang pertunjukan. Seorang pemain yang memerankan anak kecil menyambut para penonton dan meminta menuliskan cita-cita di sebuah kertas serta menempelkannya di sebuah lemari. Ada juga adegan saat seorang SPG membisikan “Surga di bawah telapak kaki ibu” di setiap telinga pengunjung.

Nah, saya mulai paham ketika ada televisi yang menampilkan seluruh adegan karena direkam langsung oleh Obet, tokoh kamerawan. Ada juga lagu-lagu "Que Sera-Sera" dan lagu "Ayo Belanja" milik Ramayana. Kemudian terakhir penonton akan diajak ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat pameran foto-foto Instastory milik banyak orang.

Menyoroti Bentuk Pementasan

Sesi diskusi dengan pembicara(dari kiri) Nano Suharno sebagai sutradara, Ahmad Khaerudin dan Viki Rahman.(Inibaru.id/ Audrian F)

Selepas pementasan usai berlanjut ke sesi diskusi yang diisi oleh Ahmad Khaerudin, Viki Rahman, dan Nano Suharno sebagai sutradara sendiri. Mereka mengkritisi bagaimana pementasan ini berlangsung.

Ahmad Khaerudin, seorang Antropolog dan pemilik komunitas Grobak Hysteria, mengungkapkan kalau model pementasan seperti ini baru pertama kali menyaksikan kembali setelah sekian lama nggak melihatnya. “Kita sudah lama terpetakan dengan teater yang selalu memberikan khotbah atau ceramah seperti itu. Sekali waktu perlu dibungkus yang ceria-ceria saja namun tidak meninggalkan makna.”

Di samping itu dia juga menyoroti konteks yang disinggung dalam pementasan tersebut. Manusia telah menjadi alienasi atas komoditas terhadap benda-benda.

Berbeda dengan Viki Rahman yang juga adalah pegiat Nandang Wuyung Wayang Tenda itu. Dia awalnya memberikan apresiasi atas bentuk pementasan yang seperti ini. Lebih menyegarkan teater Semarang, katanya. Namun dia juga sekaligus memberi beberapa catatan terhadap pementasan tersebut.

“Karena dimaksudkan untuk pementasan yang berlatar public space, kalau bukan aktor yang terlatih atau sebelumnya tidak mengikuti latihan yang rutin pada saat pementasan akan kesulitan karena perlu vokal yang terdengar untuk mengucapkan dialog,” ucap Viki yang juga penggerak Forum Senin Legi.

Diselenggarakannya pementasan ini juga dalam Forum Senin Legi. “Apalagi pada konteks yang dibawakan. public space erat kaitannya dengan masyarakat. Harus ada penurunan pengungkapan lagi agar bisa relevan. Kalau topik seperti ini yang bisa mencerna mungkin hanya kalangan tertentu saja,” tambahnya

Sementara Nano Suharno, sutradara sekaligus penggerak Kolektif Cari Nama tersebut menandaskan kalau mereka memang memilih estetika performance art sebagai bentuk pertunjukan. “Untuk bentuk ini saya mendapat ide dari post-dramaturgi Hans-Thies Lehman yang mana tidak ada batas antara penampil dan penonton,” tutur Nano.

Sebagai penutup Viki Rahman kembali memberikan masukan kalau pentas semacam ini harus lebih banyak diadakan di tengah masyarakat. “Saya tidak setuju jika tempat seperti ini dikatakan public  space. Ini masih di ruang pertunjukan. Harus dilaksanakan di tengah masyarakat dan kalau bisa lebih sering,” tutup Viki.

Kamu penasaran nggak dengan konsep pertunjukan teater seperti ini, Millens? (Audrian F)