Kritikus Film, Peran Penting yang Jarang Dilirik

Kritikus Film, Peran Penting yang Jarang Dilirik
Kritikus film Hikmat Darmawan membagi pengalamannya selama menjadi kritikus film. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)

Walaupun nggak seterkenal sutradara, produser, atau aktor film, posisi sebagai kritikus film memiliki peran penting. Posisi ini sangat dibutuhkan bagi keseimbangan ekosistem dunia perfilman.

Inibaru.id – Kamu pasti pernah punya pemeran film favorit, pengisi scoring favorit, atau sutradara favorit, kan, Millens? Tapi, pernah nggak sih kamu punya kritikus film favorit? Kritikus film memang jarang sekali dikenal publik luas dibanding sutradara, produser, atau pemeran film.

Dalam diskusi Rasan-Rasan Sinema Sineroom di Tekodeko, Kota Lama Semarang, kritikus film Hikmat Darmawan sedikit menjelaskan soal fenomena ini. Menurut Hikmat, kritik film sering nggak dianggap karena kata “kritik” yang dikonotasikan secara negatif. Kritik sering disamakan dengan hujatan.

Padahal menurut KBBI daring, kritik berarti “kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.” Bukan berarti selalu hujatan kan, Millens?

Kritik film sebenarnya sangat dibutuhkan untuk perkembangan ekosistem film itu sendiri. Dalam wawancara pasca-diskusi Rasan-Rasan Sinema Sineroom, Sabtu (7/03), Hikmat menyatakan bahwa ada beberapa unsur yang membentuk ekosistem perfilman: produksi, distribusi, eksibisi, aprisiasi, dan edukasi.

Kritik film bukan kerja sembarangan. Hasilnya saja bisa mencapai 1.600-an halaman! (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)
Kritik film bukan kerja sembarangan. Hasilnya saja bisa mencapai 1.600-an halaman! (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Kritik film mengambil peran di bidang apresiasi dan edukasi yang tugasnya adalah menjembatani karya film dengan penonton. Bisa juga menjadi bagian dari publik yang menuntut “kualitas” pada sang pembuat kerja.

Kritik menjembatani film dengan penonton dengan membedah apa-apa saja yang diangkat dalam film tersebut. Mulai dari gagasan dalam film sampai hal teknis seperti gerak kamera, editing, dan sebagainya dapat dikupas kritikus film.

“Ketika peran itu tidak dimunculkan, maka ekosistemnya akan timpang. Jembatan tadi nggak muncul. Tentu saja untuk bisa jadi jembatan, kritikus harus memenuhi syarat juga,” ucap pria yang menjadi ketua Komite Film DKJ ini.

Syarat yang diperlukan oleh kritikus, selain mampu menulis, adalah memiliki kaidah dan metode dalam menyatakan pendapat atau gagasan atas film. Kaidah dan metode itu juga nggak ajek, Millens. Itu terjadi karena film juga berkembang.

Hikmat mencontohkan kritikus film kawakan Amerika Serikat Bosley Crowther, yang menyatakan film Boney and Clyde (1967) adalah film yang buruk. Nahasnya, publik dan beberapa kritikus lain menyatakan film tersebut bagus dan akhirnya film tersebut diakui bagus. Setelah itu Bosley sampai-sampai berhenti menjadi kritikus dan berkata “Saya nggak paham lagi sinema.”

“Itu sifat alamiah dari percakapan dan diskursus publik,” tambah Hikmat.

Bagaimana, kamu tertarik untuk jadi kritikus film, Millens? (Gregorius Manurung/E05)