Kriteria Puisi yang Indah dan Baik Menurut Joko Pinurbo
Joko Pinurbo (kiri) berbicara tentang puisi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kriteria Puisi yang Indah dan Baik Menurut Joko Pinurbo

Dalam diskusi "Ketemu Buku" Joko Pinurbo, penyair Indonesia yang sudah 45 tahun menekuni puisi mengungkapkan pendapatnya mengenai puisi yang baik. Baginya, sebuah puisi harus mampu meninggalkan gema yang panjang dan bisa memvisualisasikan sesuatu yang abstrak.

Inibaru.id – Malam itu, dalam suasana mendung dan gerimis panggung diskusi “Ketemu Buku” di Gedung Wanita Semarang sangat semarak menyambut kedatangan penyair Joko Pinurbo atau Jokpin. Kursi-kursi yang disediakan panitia nggak mampu menampung banyaknya peserta diskusi yang hadir. Mereka rela duduk lesehan di belakang demi mengikuti diskusi.

Petikan gitar dari Arko Transept dengan musikalisasi puisinya ikut menambah kehangatan. Usai tampil, Arko memandu agenda ngobrol asyik bersama Jokpin bertema “Puisi di Masa Kini”, Minggu (3/11). Jokpin mengawali materinya dengan mengutip lirik lagu Waljinah penyanyi keroncong: Semarang kaline banjir, timbang nyawang monggo mampir.

Peserta diskusi berkomentar terkait puisi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Bagi Jokpin lirik tersebut telah melambangkan filosofinya dalam berpuisi. Puisi diciptakan nggak sekadar untuk dilihat, tapi juga untuk menghayati pengalaman diri sendiri.

Kriteria sederhana puisi indah adalah bisa meninggalkan gema yang panjang. "Mungkin dibacanya cuma setengah atau satu menit, tapi efek gemanya panjang. Efek gema Jokpin temukan seperti dalam puisi Sapardi Djoko Damono berjudul "Duka-Mu Abadi".

"Mu" dalam puisi tersebut merujuk pada Tuhan. Sebab puisi itu, Jokpin memperbaharui hidup dan cita-citanya ingin menjadi penyair. Jokpin terenyuh akan puisi yang meninggalkan gema panjang itu. Menyampaikan pesan, duka Tuhan abadi, Jokpin ingin mencari tahu kenapa duka Tuhan abadi.

Kriteria lain puisi yang indah adalah karena unsur visual yang dihadirkan. Kriteria ini seperti terdapat dalam puisi Chairil Anwar berjudul "Taman". Lirik tersebut berbunyi: Taman punya kita berdua/tak lebar luas, kecil saja/satu tak kehilangan yang lain dalamnya/Bagi kau dan aku cukuplah.

Jokpin menjelaskan dalam puisi tersebut Chairil nggak perlu berdakwah bagaimana cara mensyukuri hidup. Namun pesan itu sudah tampak pada citraan-citraan yang digunakan. Pesan moral yang besar Chairil gambarkan secara visual lewat "Taman".

“Karya yang baik seperti apa? Yang bisa menggambarkan gambaran visual tentang sesuatu yang abstrak,” kata Jokpin.

Suasana diskusi "Puisi di Masa Kini". (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Puisi lain dari Chairil yang menunjukkan gambaran visual yang kuat ada pada puisi "Derai-Derai Cemara" yang bercerita tentang kematian. Berbunyi: Cemara menderai sampai jauh/Terasa hari akan jadi malam/Ada beberapa dahan ditingkap merapuh/Dipukul angin yang terpendam.

Jokpin mengaku merinding membaca puisi itu karena terasa menggambarkan orang yang akan mati. "Puisi ini bercerita orang yang mau mati dengan membereskan batin dan merapikan iman. Chairil melukiskan dengan cemara di waktu senja," katanya. Dia bahkan menyarankan untuk membaca puisi ini. "Supaya anda sadar apa yang diburu dalam hidup,” lanjutnya.

Yang menarik adalah ketika Jokpin mengutip Sapardi bahwa penyair merupakan gabungan antara nabi dan anak kecil. Nabi karena dia memiliki unsur kebijaksanaan dan anak kecil yang suka bermain-main. Yang dimaksud ialah bermain-main kata dan nggak pamrih mengharapkan sesuatu.

Benar juga ya kata Jokpin. Semoga kembali semangat mengevaluasi karya sendiri ya, Millens. He-he. (Isma Swastiningrum/E05)