Kondisi, Animo, dan Potensi Dunia Perfilman Semarang

Kondisi, Animo, dan Potensi Dunia Perfilman Semarang
Para pembuat film sedang mengikuti acara di ulang tahun Sineroom, Kamis (8/8) di Tekodeko Koffiehuis, Kota Lama, Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kota Semarang punya banyak peran bagi dunia perfilman nasional. Hal itu dilihat dari seringnya film-film tersebut mengambil latar tempat di Kota Semarang. Lalu bagaimana dengan gambaran perfilman di Kota Semarang?

Inibaru.id - Beberapa tahun berkecimpung di dunia perfilman khususnya di Kota Semarang, membuat Ardian Agil Waskito, penggerak sekaligus pendiri komunitas film di Kota Semarang yakni Sineroom, tahu benar bagaimana kondisi perfilman Kota Semarang saat ini.

“Perfilman Semarang sepengetahuan saya hanya berhenti di beranda kampus. Belum sampai yang muncul di Kota Semarang. Nah, dalam hal ini Sineroom merupakan komunitas yang paling aktif,” ujar Ardian.

Ardian Agil Waskito. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pernyataan Ardian terlontar bedasarkan pengalamannya ketika menghentikan sementara kegiatan di Sineroom selama satu bulan. Hasilnya, aktivitas perfilman di Semarang menjadi sepi.

“Soalnya dulu pernah libur satu bulan. Dan memang nyatanya Semarang nihil dari aktivitas perfilman,” pungkasnya.

Semarang sebetulnya punya banyak peran bagi dunia perfilman nasional, Millens. Beberapa nama sutradara besar pernah menimba ilmu di Kota Atlas ini, lo. Sebut saja Angga Dwimas Sasono dan Garin Nugroho. Selain itu, Kota Semarang sering dijadikan objek latar pembuatan film. Tercatat ada banyak film yang mengambil latar kota Semarang seperti Ave Maryam, Sang Kiai, Ayat-ayat Cinta, Soegija, dan masih banyak lagi.

“Semarang memang punya peran besar dalam dunia film nasional. Bahkan nama besar sempat singgah di kota ini. Namun sayangnya mereka besar ketika sudah tidak di Kota Semarang,” ucap Ardian.

Berbicara soal perkembangan film, Ardian yakin pasti banyak lagi potensi di kota ini. Hanya mungkin belum muncul pada saat ini atau masih malu-malu disimpan di dalam hardisk masing-masing.

“Punya harapan besar juga sebetulnya Kota Semarang ini. Contoh kecil dari presentase pengirim film di Sineroom, misalnya. Setidaknya hingga puluhan jumlah yang tertampung setiap bulannya. Cuma karena harus diseleksi dulu kami nggak bisa menayangkan semuanya. Namun dari situ juga bisa dijadikan tanda kalau antusias perfilman di Semarang ini lumayang tinggi, bahkan dari segi penontonnya juga,” jelas Ardian.

Kemudian saat ditanya apakah perfilman Semarang butuh dukungan pemerintah, Ardian mengungkapkan kalau tetap butuh namun nggak terlalu mendesak.

“Soalnya juga kami memutar film kan di kafe-kafe begitu, nggak ada hambatan sebetulnya. Maka dari itu tetap saja kami butuh dukungan, namun nggak terlalu yang butuh-butuh banget. Asal nggak ‘dilarang’ aja waktu memutar film-film tertentu itu sudah sangat membantu,” tukas Ardian pada Inibaru.id saat acara perayaan ulang tahun Sineroom ke-4 di Tekodeko Koffiehuis, Kota Lama, Semarang, Kamis (8/8).

Namun, Ardian mengakui komunitas film di Semarang masih minim. Kalaupun ada mereka ada di bawah naungan kampus yang memiliki jurusan perfilman, bukan lembaga perfilman independen.

Jadi seperti itu ya, Millens, bagaimana gerak perfilman Semarang. Kalau kamu tertarik ikut terlibat di perfilman Semarang, bisa banget tuh kamu mulai dengan mengikuti kegiatan Sineroom. (Audrian F/E05)