Komunitas Sinema Semarang Lahir dari Keprihatinan

Memasuki awal tahun ketujuh, “geng gandrung film” Komunitas Sinema Semarang (KSS) ini semakin mantapkan komitmennya. Apa sih rahasia keberhasilannya?

Komunitas Sinema Semarang Lahir dari Keprihatinan
Para anggota Komunitas Sinema Semarang (komunita.id)

Inibaru.id - Kreativitas tanpa batas adalah prasyarat utama yang mutlak dimiliki sekaligus yang kelak paling menginspirasi dari para pekerja seni. Pun dengan para pegandrung sinema di Komunitas Sinema Semarang ini nih, Millens. Berawal dari minimnya pihak yang peka mengendus potensi seni di Semarang, beberapa kamerawan profesional pelopor KSS merasa trenyuh alias prihatin lalu menggagas pembentukan suatu komunitas perfilman.

Meski tidak memiliki ruang pertemuan yang permanen pada bulan-bulan awal kelahirannya, para pegiat lawas KSS keukeuh merealisasikan program bulanan berupa gathering yang dihadiri tiap anggota KSS. Dalam program rutin ini dibahas segala rupa dunia perfilman hingga uborampe-nya, mulai dari pembuatan film pendek hingga segmen saling berbagi pengalaman para anggota.

Baca juga:
Catatan 2017: Musik Indie Masih Digemari
Catatan 2017: Gengsi Internasional Film Kita

Konsistensi KSS juga dibuktikan dengan seabrek gelaran program perfilman lain yang menuai pujian dari kalangan biasa hingga elite pada pemerintah pusat. Nggak tanggung-tanggung, pada usianya yang belum genap setahun, dua program KSS, Biora dan Lawang Sewu Film Festival, disambut meriah oleh para movie maker seluruh Indonesia.

Biora jadi unggulan pertama yang disodorkan KSS ke publik nih, Millens. Dilansir dari Kompasiana (9/6/2013), Biora diapresiasi oleh pemerintah pusat melalui pemberian bantuan berupa fasilitas seperangkat alat pemutaran film serta 20 kopi film nasional yang sudah dibeli hak siarnya.

Bahkan seperti diungkapkan Ketua KSS 2013 Jessi Saptono dalam laman Kompasiana, Biora menjadi program yang digandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Nggak salah sih, sebab Biora mengusung suatu hasrat teduh, yaitu untuk meningkatkan apresiasi sinema di kalangan masyarakat. Ajang pemutaran sekaligus diskusi film ini mencoba menstimulasi masyarakat dengan banyak alternatif hiburan yang “ramah penonton”. Jadi, misalnya para ortu nggak akan lagi pusing mobat-mabit cari tontonan dua jempol untuk putra-putrinya yang masih belia.

Baca juga:
Kisah Minang dalam Koreografi Nan Jombang
Catatan 2017: Tiga Youtuber Indonesia Paling Cetar

Selain itu, ada lagi nih unggulan kedua yang usai ditelurkan KSS. Seperti Biora, Lawang Sewu Film Festival 2012 diapresiasi dengan sungguh dan bikin “nagih” para kreator film Indonesia. Berkat penyelenggaraannya yang meriah, muncul banyak permintaan agar acara ini dijadwalkan secara reguler tiap tahunnya di Semarang.

Nggak kurang dari 97 film yang terdiri atas film pendek dan dokumenter sudah mengisi Perpustakaan Film KSS. Buat Sobat Millens yang juga mencitrakan diri sebagai pencinta sinema, bolehlah menduplikat semangat berkesenian para pendahulu KSS. Untuk mewujudkan impian, jangan pernah menyerah ya, Millens! (YFH/SA)