Meriung di Lereng Medini, Membincang Sastra di Alam Terbuka

Bagi kamu yang suka sastra, agenda tahunan Kemah Sastra di Perkebunan Teh Medini ini layak kamu masukkan ke jadwal kegiatanmu tahun depan. Pasalnya, ada banyak hal asyik yang bisa kamu lakukan dengan sastra di alam terbuka.

Meriung di Lereng Medini, Membincang Sastra di Alam Terbuka
Diskusi bersama Iman Budhi Santoso (Komunitas Lereng Medini)

Inibaru.id – Kamu yang menggemari sastra, terkhusus yang tinggal di Semarang dan sekiranya, ada baiknya nggak melewatkan acara ini tahun depan. Kemah Sastra, namanya. Digelar pada 4-6 Mei 2018 lalu, gelaran keempat yang diselenggarakan Komunitas Lereng Medini tersebut keren banget, Millens. Dalam acara tahunan tersebut, mereka menggabungkan konsep rekreasi alam dan sastra dalam satu wadah.

Mengangkat tema "Literasi Lokal di Antara yang Global", acara yang bertempat di Perkemahan Kebun Teh Medini, Ngesrep, Balong, Limbangan, Kendal, ini, acara ini akan mengajakmu untuk mengikuti berbagai diskusi sastra dengan topik-topik yang menarik dan pembicara yang keren.

Tahun ini Kemah Sastra IV mendatangkan enam sastrawan yakni Hasan Asphani, Puthut EA, Triyanto Triwikromo, Martin Aleida, Imam Budi Santosa, dan Bandung Mawardi. Dalam kegiatan tersebut, Komunitas Lereng Medini dan Apresiasi Sastra (Apsas) bekerja sama dengan Komunitas Wayang Gaga, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal UPGRIS, LPM Edukasi UIN Walisongo, dan LPM Frekuensi UIN Walisongo.

Koordinator Komunitas Lereng Medini, Heri CS, mengungkapkan, dipilihnya Kebun Teh Medini sebagai lokasi rangkaian acara karena sebelumnya sastra masih terkesan elitis. Pengelola Pondok Baca Ajar, Boja, itu mengatakan, selama ini sastra hanya dibicarakan di perguruan tinggi atau gedung kesenian, karena itulah dirinya berupaya untuk menghadirkan sastra yang tanpa sekat dengan membawanya ke alam terbuka.

“Bagi kami, Medini itu nggak sebatas tempat, tetapi lebih dari itu. Ada kearifan-kearifan dan spiritual yang kami temukan di sana, sehingga kami akan mempertahankan konsep acara kemah ini yang memang identik dengan Medini, sisi barat Gunung Ungaran,” papar Heri kepada Inibaru.id.

Diskusi sastra di alam terbuka yang menyenangkan. (Komunitas Lereng Medini)

Diskusi sastra dilakukan di alam terbuka. Sebanyak 20 tenda tersedia. Ada pula tenda pleton berukuran besar, satu lapak yang menjual buku, dan satu lapak penjaja kaos Kemah Sastra. Ada juga satu panggung yang digunakan sebagai tempat pertunjukan sulap dan pesta musik. Kemudian, setelah semalaman meriung untuk mendiskusikan sastra, pada pagi harinya seluruh peserta diajak beryoga dan jalan-jalan melintasi perkebunan teh. 

Setelah puas menikmati keindahan kebun teh, para peserta kemudian dipersilakan beristirahat di sebuah brak (semacam saung untuk para pemetik teh). Di brak tersebut, masing-masing peserta diminta untuk unjuk kebolehan. Jadi, kamu yang punya bakat menyanyi, melawak, deklamasi, atau apapun boleh menghibur peserta lain. Hm, seru!

Sayang, acara untuk tahun ini sudah selesai. Tunggu tahun kali ya! Sampai jumpa di sana tahun-tahun mendatang! (Artika Sari/E03)