Kesenian, Suasana Alam, dan Kearifan Lokal Berpadu dalam Festival Lima Gunung

Kesenian, Suasana Alam, dan Kearifan Lokal Berpadu dalam Festival Lima Gunung
Penampilan Riweh Production dari Yogyakarta dalam FLG 2018. (Inibaru.id/Putri Rachmawati)

Gelaran Festival Lima Gunung (FLG) 2018 menjadi acara yang pas bagi siapa pun yang ingin menikmati kesenian tradisional yang dipadu dengan indahnya alam pedesaan. Beragam komunitas dan kelompok seni di Indonesia pun hadir untuk menghidupkan festival tersebut.

Inibaru.id – Festival Lima Gunung (FLG) merupakan acara pertunjukan seni yang diikuti oleh pelbagai seniman dan komunitas seni di Indonesia. Pada 2018 ini, acara tersebut digelar di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang.

Mungkin bagi Sobat Millens ada yang belum tahu, mengapa acara ini disebut Festival Lima Gunung, tapi, kok, nggak ada acara mendaki gunungnya? He-he. Alasannya karena acara ini selalu diselenggarakan di Kabupaten Magelang yang dikelilingi lima gunung, yakni Merbabu, Merapi, Sumbing, Andong, dan Menoreh.

Tari Topeng Potorono dari Desa sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. (Inibaru.id/Putri Rachmawati)

Tahun ini Festival Lima Gunung mengambil tema “Masih Goblok Bareng”. Hal itu dipilih untuk mengatakan, siapapun boleh datang tanpa perlu memikirkan banyak hal, karena acara tersebut diadakan untuk menghibur siapa pun yang pengin menikmati seni, dekat dengan alam, dan merasakan kearifan lokal masyarakat dusun.

Yap, kamu bisa menikmati festival tersebut tanpa dipungut biaya apa pun, kecuali tentu saja kalau kamu pengin membeli aneka jajanan dan suvenir yang dijual di sana ya, Millens! Ha-ha.

Kelompok seni Kenes Art dari Semarang yang menampilkan gerakan tarian seperti orang kedinginan. (Inibaru.id/Putri Rachmawati)

Festival yang berlangsung pada 10-12 Agustus lalu ini menampilkan sekurangnya 80 pertunjukan dari beragam komunitas dan kelompok kesenian. Selain dari Magelang, para penampil juga datang dari pelbagai wilayah di sekitarnya. Sejumlah seniman Indonesia dan mancanegara yang terhubung dengan Komunitas Lima Gunung juga turut hadir.

Festival yang ke-17 ini merupakan acara rutin yang digelar secara mandiri oleh para anggota Komunitas Lima Gunung. Komunitas itu adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang peduli terhadap seni dan budaya Indonesia.

Komunitas ini pun secara konsisten menyelenggarakan acara besar tersebut secara mandiri alias nggak disokong oleh dana dari instansi pemerintah maupun sponsor dari perusahaan. Hebat, ya!

Keramahan Warga

Panitia Festival Lima Gunung juga mengajak warga di dusun tersebut untuk ikut andil dalam acara. Demi kenyamanan para pengunjung, rumah-rumah warga pun bisa dijadikan homestay sementara.

Warga di dusun tersebut dengan ramah mempersilakan para pengunjung dari luar Magelang untuk beristirahat di rumah mereka. Para pengunjung itu diperlakukan laiknya keluarga sendiri. Hm, dijamin, kalau kamu berada di antara mereka, kamu akan merasa nyaman dan mudah membaur dengan warga setempat, deh, Millens! Kayak punya keluarga baru!

Tarian "Sega Jaga" asal Kalimantan. (Inibaru.id/Putri Rachmawati)

Dari tahun ke tahun, semangat gotong-royong warga dengan Komunitas Lima Gunung selalu itu sukses membuat Festival Lima Gunung berlangsung lancar, dengan tetap konsisten menjaga unsur unsur lokal, alam, dan budaya setempat.

Nah, Sobat Millens, kalau kamu pengin ikut Festival Lima Gunung, tahun depan jangan sampai ketinggalan, ya! (Putri Rachmwati/E03)