Jason Ranti: Antara Lagu Serius, Kritik Sosial, dan Kelucuan

Kekuatan Jason Ranti sebagai pemusik solo adalah lirik lagu ciptaannya. Lirik-lirik itu keluar dari kotak (out of the box) dari gaya lirik lagu sekarang.

Jason Ranti: Antara Lagu Serius, Kritik Sosial, dan Kelucuan
Jason Ranti (Metrotvnews.com/Demajors)

Inibaru.id –  Simak penggalan lirik lagu “Stephanie Anak Senie” dalam album Akibat Pergaulan Bebas karya Jason Ranti ini: Stephanie coba jadi artis begitu banyak cat di tubuhnya/Satu di rambut, satu di kuku, satu di alis, satu di betis, yang lain di punggung/Ia seperti pameran berjalan.

Pada zaman ‘’agak old’ ’atau awal tahun 1980-an, ada penyanyi yang lirik lagunya lebih menonjol dan dikenal ketimbang musikalitasnya. Dia menyanyi dengan mengandalkan gitar. Lirik-liriknya nakal, kenes, lucu, dan vulgar (atau bahkan cabul).

Ciri lirik itu bahkan dijadikan alasan ketika banyak orang menyebutnya penyanyi berlirik cabul. Dialah Doel Sumbang yang memiliki nama asli Abdul Wahyu Affandi. Wikipedia menyebut dirinya masih aktif bernyanyi meskipun kita jarang mendengarnya sekarang ini.

Lirik lagu-lagu Jason Ranti dalam album Akibat Pergaulan Blues memiliki gaya seperti lirik Doel Sumbang: ceplas-ceplos, berbahasa keseharian tanpa sofistikasi lirik seperti kebanyakan lirik lagu zaman now. Keduanya juga mengeksplorasi tema cinta dan kritik sosial. Bahkan tema yang disebut terakhir dianggap dominan dalam lirik-lirik Jason.

Tapi ada beda tipisnya, Millens. Lirik Jason tak selucu, sekenes, sevulgar, dan secabul lirik Doel Sumbang.

Apakah gaya lirik Doel memengaruhi Jason saat bikin lagu? Boleh jadi nggak. Dalam wawancara dengan Metrotvnews.com (2/8/2017), nama Doel Sumbang nggak dia sebut sebagai pemusik favoritnya.

Lebih-lebih lagi, Jason sebenarnya nggak pernah berencana menulis lagu lucu atau protes sosial.  “Saya tidak tahu kenapa orang mempersepsikan itu sebagai kritik sosial, padahal saya berencana jadi kritikus,” kata Jason pada The Crafters (12/7/2017). “Lalu ada yang menganggapnya humor, dan tertawa saat mendengarkan saya di panggung. Padahal buat saya, yang saya tulis itu serius.”

Lelaki kelahiran 22 Oktober 1984 itu mengawali kiprah musiknya bersama band Stairway to Zinna. Sekeluar dari band itu, dia memilih bersolo karier dengan menciptakan lagu-lagu sendiri.

Ya, sebagai pemusik solo, Jason menunjukkan sosok berbeda dari saat bersama bandnya. Dia nggak lagi bertumpu pada kemampuan bermain gitar yang rumit dan atraktif atau rangkaian nada teduh seperti yang biasa dia mainkan dalam band.  Jason bertumpu pada kekuatan lirik.

Dan perlu Millens tahu, Jason lalu dikenal karena lirik lagunya yang khas. Metrotvnews.com (2/8) menulis, rangkaian lirik Jason terdengar jujur, lugas, kritis, juga slebor.  Gayanya berkesan sarkastis, satiris, dan penuh humor.

Jason adalah sarjana psikologi dari Universitas Atma Jaya, Jakarta. Lantas kenapa dia memilih musik? Sebenarnya, dia kenal musik sejak kecil lewat koleksi cakram padat dan kaset milik ibunya. Bahkan hingga kini, ia masih suka mendengarkannya. Album Stars milik Simply Red, ataupun lagu-lagu dari John Mayall akrab buatnya.

Saat SD, dia sempat mendapatkan pelajaran musik di sekolah. “Tapi alat musiknya suling, saya tidak suka.” Keinginannya baru terkabul di kelas 1 SMP, ketika ia mulai belajar bermain gitar.

Lantas bagaimana soal menulis lirik lagu? The Crafters menyebut Jason telah menulis lagu ketika SMA. Setelah vakum, dia baru menulis lagi saat kuliah.

Nah Millens, kehadiran Jason sebagai penulis lirik lagu adalah angin segar bagi belantika musik kita. Dia boleh dibilang "out the box" karena gaya dan isi liriknya nggak berada pada arus utama (mainstream) lirik lagu yang berkembang sekarang.

Semoga karier Jason terus menjulang dan bisa selalu eksis. (IB02/E04)