Indonesia Dilanda Tren Komik Digital, Bagaimana Nasib Komik Cetak?

Indonesia Dilanda Tren Komik Digital, Bagaimana Nasib Komik Cetak?
Obrolan Patjar Merah dalam membahas "Indonesia dalam Komik". (Inibaru.id/ Audrian F)

Perkembangan dunia digital juga turut mengubah tren baca komik. Para Pembaca yang dahulu hanya memiliki satu opsi komik berbentuk buku, kini dijejali berbagai bentuk. Lalu seperti apa tanggapan para komikus perihal pergeseran budaya ini?

Inibaru.id - Bentuk komik Indonesia saat ini makin beragam. Perkembangan ini nggak terlepas dari teknologi digital. Hal ini jelas mempengaruhi kondisi perkomikan Indonesia. Melalui gelaran diskusi bertema "Indonesia dalam Komik", Patjar Merah pengin mengungkap bagaimana keadaan komik Indonesia saat ini.

Dalam obrolan di Sooesman Kantoor, Kota Lama, Semarang tersebut hadir komikus yang telah punya reputasi cemerlang seperti Doni Kudjo dari “Kudjo Komik”, Patrick Jonbray, dan yang nggak kalah beken adalah Muhammad “Mice” Mirsad dengan masterpiece-nya “Mice Cartoon”.

Ketiga komikus tersebut bergantian mengutarakan pendapat dan pengalamannya. Mice yang dianggap sebagai senior pun membeberkan perbedaan komik dulu dan sekarang.

“Komik itu sebetulnya juga nggak kalah memiliki bobot literasi yang mumpuni. Cuma kalau sekarang memang lebih menghibur,” ungkap Mice, , Sabtu (30/11) siang.

Muhammad “Mice” Mirsad saat membeberkan pengalamannya selama menjadi komikus. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mice kemudian memunculkan alasan kenapa komik dulu dan sekarang memiliki perbedaan. Dia berpendapat maraknya sensitivitas isu dari masyarakat berpengaruh besar terhadap keleluasaan komikus.

“Sekarang ini mungkin zaman serba terbuka namun dengan keterbukaan ini malah menjadi boomerang. Saya rasa nggak bisa seenjoy zaman dulu. Zaman reformasi saya bikin buku yang penuh satir nggak masalah. Zamannya SBY bikin buku yang nyeleneh dikit 500 halaman juga tenang. Sekarang sedikit saja ada adegan yang kiranya menyinggung saja sudah was-was. Jadi harus serba hati-hati banget. Mungkin itulah alasan kenapa orang banyak bikin komik yang hiburan saja alias main aman,” jelas Mice.

Saat disinggung mengenai banyak platform untuk membagikan karya serta munculnya komik animasi bergerak bakal menyaingi komik konvensional, Patrick Jonbray mengaku nggak terganggu.

Menurutnya semua orang memiliki selera masing-masing. “Karena saya tumbuh di zaman komikus yang sudah menggunakan digital, saya rasa sih enggak ya. Sebetulnya lebih banyak opsi saja antara buku atau lewat media online,” ungkapnya.

Obrolan Pajtar Merah yang membahas "Indonesia dalam Komik" menghadirkan Doni Kudjo, Patrick Jonbray dan Mice Cartoon. (Inibaru.id/ Audrian F)

Begitupula dengan Doni Kudjo, dia pikir pembaca digital akan bergeser dan balik ke buku lagi. Baginya tren itu hanya musiman.

Menariknya, Mice merasa tersaingi namun dia percaya kalau buku akan abadi. Dirinya lantas menganalogikan komik buku dengan Koran. Sebagaimana koran yang terus bertahan meskipun ngos-ngosan, komik pun akan tetap menjadi pilihan. Dalam menghadapi era digital pun, Mice juga mencoba beradaptasi dengan membuat komik via Instagram.

Nah, kamu tertarik jadi komikus? Ada saran lo dari para master ini. Ada baiknya kamu ikut komunitas seperti saran Patrick Jonbray.

“Kalau gabung ke komunitas nanti juga berpengaruh saat kamu posting karyamu. Semakin banyak di-repost semakin banyak pula yang membacanya,” ucap Jonbray.

Jadi begitulah  komik Indonesia dengan berbagai hal yang melingkupinya. Kalau kamu suka komik Indonesia yang mana, Millens? (Audrian F/E05)