Hadirkan Musik Eksperimental, Tridhatu Beri Warna Baru bagi Dunia Musik di Kota Semarang

Hadirkan Musik Eksperimental, Tridhatu Beri Warna Baru bagi Dunia Musik di Kota Semarang
Tridhatu. (Inibaru.id/ Audrian F)

Namanya Tridhatu, band musik eksperimental yang banyak dikenal masyarakat Kota Semarang. Meski aliran ini nggak terlalu banyak dilirik, tapi job mereka nggak pernah sepi. Kehadiran mereka membuat belantika musik Semarang makin berwarna.

Inibaru.id - Bagi sebagian orang, musik eksperimental mungkin terasa asing. Jenis musik ini memang di luar kelaziman. Jadi wajar saja jika nggak semua orang memasukkan musik eksperimental sebagai jenis musik favoritnya.

Nah, di Semarang ada salah satu band yang memilih genre musik eksperimental. Namanya, Tridhatu. Meski genre ini termasuk jalan sunyi, namun band yang terbentuk sejak akhir 2017 ini populer di kalangan masyarakat Semarang. Bahkan Tridhatu nggak pernah sepi job.

Openg Prabowo, personel dari Tridhatu menceritakan jalan panjang bagaimana Tridhatu terbentuk. Saat ditemui di acara Grebeg Subali pada Sabtu (2/11) malam, dia menerangkan kalau masing-masing dari personel Tridhatu sebetulnya sudah memiliki latar belakang menggawangi band musik eksperimental. Jadi sebetulnya, Tridhatu bukanlah band musik eksperimental pertama yang ada di Kota Semarang.

“Memang sejak tahun 2000 hingga sekarang, Semarang sudah melahirkan band-band musik eksperimental. Masing-masing dari kami pun sebelumnya punya band musik eksperimental sendiri-sendiri. Misalnya saja saya dulu dari Sistem Busuk dari Dalam. Kemudian Sueb dari Belantara, lalu Aris dari Racau Kemarau,” jelas Openg.

Openg juga mengungkap Tridhatu terbentuk karena ingin memberikan warna baru bagi musik Kota Semarang.

Aristya Kuver di Tridhatu memainkan berbagai alat musik tiup. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tiga orang yang menggawangi Tridhatu yaitu Openg Prabowo, Andi Sueb, dan Aristya Kuver. Sementara seorang lagi bernama Putri Lestari hanya bergabung ketika diminta. Dia merupakan mahasiswi ISI Jogja.

Sisi unik band ini jelas ada pada alat musik. Misalnya saja Aristya Kuver yang memanfaatkan berbagai alat musik tiup seperti, didjeridu, karinding, suling, shakuhaci, singing bowl, klintingan serunai, dan slompret. Kamu sudah pernah lihat belum? Sementara Andi Sueb, menggunakan layur. Salah satu alat musik yang masih sangat langka. Lalu Openg lebih menggunakan pita suara.

Dalam obrolan santai saya dengan Openg, saya sempat bertanya asal usul nama Tridhatu.

“Bisa berarti apa saja sih nama Tridhatu. Sesuai pemahaman Hindu bisa, sesuai falsafah hidup juga bisa. Dari kami bertiga juga bisa. Banyak arti. Kami serahkan ke penafsiran orang-orang saja,” ungkap Openg.

Andy Sueb dengan alat musik layurnya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kamu yang belum pernah datang ke konser musik Tridhatu mungkin bakalan kaget bagaimana aksi mereka. Hampir seluruhnya didominasi permainan instrumental. Nggak banyak lirik yang diucapkan. Bahkan hampir nggak ada.

“Musik itu kan artiannya luas. Kami lebih mendekorasi musik secara substansi. Kalau lirik itu sebetulnya kan cuma teks yang dilagukan,” kata Aris Kuver.

Bagi Aris, musik Tridatu sifatnya dinamis. Terbuka untuk kolaborasi dengan siapa saja dan apa saja. Satu hal yang pasti, musik mereka menghadirkan diskursus bagi pendengar.

“Kami cukup dinamis. Bisa berkolaborasi dalam hal apa pun. Tujuan kami pun, bukan memburu orang bisa senang mendengarkan musik kami atau tidak. Tapi kalau orang dengar musik kami lalu bertanya pada nada diskusi, nah di situ lah kami merasa tujuan kami tercapai,” jelasnya.

Wah, ternyata ada juga jenis musik seperti ini ya, Millens. Semoga membawa warna baru bagi dinamika musik di Kota Semarang ya! (Audrian F/E05)