GSAC Terus Upayakan Pelestarian Gambang Semarang

Melestarikan dan mengenalkan seni pertunjukan Gambang Semarang merupakan tujuan utama dari kelompok anak muda ini. Mereka adalah Gambang Semarang Art Company, komunitas pegiat kesenian asal Kota ATLAS.

GSAC Terus Upayakan Pelestarian Gambang Semarang
Gambang Semarang Art Company. (Gambang Semarang Art Company)

Inibaru.id – Kesenian gambang Semarang boleh jadi lebih populer dikenal sebagai sebuah tarian. Namun, perlu sobat Millens ketahui, kesenian tersebut sebenarnya merupakan seni pertunjukan tradisional yang terdiri atas beberapa elemen, yakni musik, tari, dan lawak. Lantaran jarang ada yang mempertunjukan kesenian asal Kota Semarang ini secara utuh, nggak banyak yang tahu soal seni pertunjukan itu.

Menyadari kesenian ini nggak lagi eksis, sekelompok anak muda mencoba kembali mempopulerkannya kepada masyarakat. Mereka tergabung dalam Gambang Semarang Art Company (GSAC). Rifky, salah seorang anggota GSAC, mengaku prihatin dengan keberadaan seni tradisional tersebut yang terus tergerus zaman.

Ditemui Inibaru.id belum lama ini, dia menjelaskan bahwa saat ini hanya ada tiga kelompok seni tersebut di kota Semarang.  Bahkan, lanjutnya,  seni pertunjukan itu cenderung asing bagi kalangan masyarakat Kota Lunpia.

“Padahal seni dari Semarang, tapi cuma ada tiga kelompok. Intinya kesenian rakyat ini belum dimainkan oleh masyarakatnya,” kata Rifky.

Menurutnya, gambang semarang masih kalah terkenal ketimbang karawitan atau rebama yang lebih banyak dijumpai di kampung-kampung.

"Kalo pertunjukan gambang semarang secara utuh itu nggak ada, malah banyak juga yang belum tahu,” jelas alumnus Universitas Diponegoro tersebut.

Karena kegelisahan itulah komunitas yang didirikan pada 2011 ini melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan gairah pertunjukan seni gambang semarang di masyarakat Kota ATLAS. Salah satunya dengan melakukan pentas di kampung-kampung dan tampil di berbagai pertunjukan musik bahkan hingga ke luar Jawa Tengah.

“Paling jauh itu pentas di Pacitan, Jawa Timur. Namun, kalau yang berkesan itu saat manggung di Pasar Keroncong di Yogyakarta. Kami satu-satunya pengisi acara yang menampilkan gambang Semarang di sana. Yang lain itu musik keroncong semua. Kami juga diundang langsung oleh (musikus) Djaduk Ferianto saat itu,” jelas Bahtiar Setiawan, Wakil Ketua GSAC.

Selain itu, mereka juga sempat menginisiasi pementasan kolaborasi seluruh kelompok seni gambang semarang yang ada di kota tersebut. Bertajuk “Srawung Semarangan”, acara yang digelar pada Mei 2017 itu mementaskan kolaborasi tiga kelompok pertunjukan gambang semarang yang belum pernah diselenggarakan sejak 1930-an.

Pada tahun ini, mereka juga terlibat kegiatan diskusi dan pameran pertunjukan yang juga melibatkan kelompok kesenian gambang semarang lain. Melalui upaya-upaya tersebut, mereka berharap bisa kembali mempopulerkan gambang Semarang seperti dulu.

Alumni Undip

GSAC dibentuk oleh para alumni Universitas Diponegoro (Undip), Semarang yang terdiri atas 10 orang. Mereka adalah orang-orang yang sempat dilatih dosen-dosen Undip saat mereka masih menjadi mahasiswa. Bertekad agar kesenian ini bisa semakin dikenal, mereka pun memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas.

“Berawal dari keinginan membentuk kelompok, agar cakupannya lebih luas dan semua orang bisa ikut, akhirnya kami bentuk menjadi komunitas,” ungkap Bahtiar.

Dia mengungkapkan, mereka memulainya dengan mengumpulkan teman-teman lama. Setelah itu, mereka melakukan latihan bersama dan pentas di beberapa tempat. Hingga 2012, mereka membentuk GSAC dan mengadakan pentas di Gedung Sobokartti Semarang sekaligus meresmikannya.

Upaya yang dilakukan GSAC bukan berarti tanpa hambatan. Keterbatasan alat musik tradisional gambang semarang menjadi kendala utama komunitas yang diketuai Tri Subekso ini. Hingga saat ini, mereka belum memiliki alat musik yang lengkap sehingga harus meminjam jika mau tampil.

“Ada beberapa yang sudah kita miliki, dari hasil kas dan sumbangan teman-teman, tapi dulu itu perjuangan sekali kalau mau latihan kan susah karena nggak ada alatnya. Akhirnya kami pakai gamelan jawa agar tetap bisa berlatih,” pungkas Bahtiar. (Verawati Meidiana/E03)